Emas Tertekan Dolar AS dan Imbal Hasil Obligasi, Analis Prediksi Tren Bearish Berlanjut

Harga emas dunia kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya imbal hasil (yield) obligasi AS menjadi beban bagi komoditas logam mulia ini, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober mulai menurun.

Harga emas tercatat melemah 0,33% menjadi US$ 4.127,38 per ons troi saat berita ditulis. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menyatakan bahwa secara teknikal, harga emas masih menunjukkan kecenderungan bearish setelah gagal mempertahankan penguatan di area resistance US$ 4.170 per ons troi.

“Pada timeframe Daily, emas kembali menunjukkan rejection di level US$ 4.170 per ons troi. Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas area tersebut, tekanan bearish masih berpeluang berlanjut menuju support berikutnya di US$ 4.109–4.086 per ons troi,” ujar Geraldo dalam risetnya, Selasa (6/10/2026).

Menurut Geraldo, grafik harian emas membentuk pola Drop Base Drop yang mengindikasikan potensi kelanjutan tren penurunan. Oleh karena itu, level US$ 4.109 hingga US$ 4.086 per ons troi menjadi area support penting yang perlu diperhatikan jika tekanan jual kembali meningkat.

“Tekanan terhadap emas terutama berasal dari penguatan dolar AS dan tingginya yield Treasury. Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil,” papar Geraldo.

Di sisi lain, Geraldo menambahkan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober mulai berkurang setelah data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan. Kondisi ini sebenarnya dapat memberikan ruang bagi emas untuk menguat karena prospek kebijakan moneter yang lebih longgar.

Namun, Geraldo menilai faktor tersebut belum cukup untuk mengangkat harga emas selama dolar AS dan yield obligasi masih tinggi. Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga Oktober memang dapat menjadi faktor pendukung emas, namun penguatan dolar dan yield obligasi AS yang masih tinggi menjadi hambatan utama.

“Karena itu, secara teknikal rejection di US$ 4.170 per ons troi perlu menjadi perhatian sebelum melihat peluang pembalikan arah,” jelas Geraldo.

Pasar juga masih mencermati peluang perubahan kebijakan The Fed pada Desember. Data ekonomi AS berikutnya akan menjadi salah satu penentu arah ekspektasi suku bunga dan pergerakan dolar.

Selain faktor moneter, Geraldo menambahkan, perkembangan geopolitik di Timur Tengah tetap berpotensi menjadi katalis bagi emas sebagai aset safe haven. Peningkatan ketegangan geopolitik dapat mendorong permintaan emas dan membatasi tekanan turun.

Namun, dalam jangka pendek, pergerakan dolar AS dan yield obligasi AS masih menjadi faktor dominan. Geraldo menilai emas berpotensi melanjutkan pelemahan apabila gagal menembus sekaligus bertahan di atas resistance US$ 4.170 per ons troi. Dalam skenario tersebut, harga berpeluang menguji support US$ 4.109 per ons troi hingga US$ 4.086 per ons troi.

“Sebaliknya, jika mampu menembus dan bertahan di atas US$4.170, tekanan bearish dapat mereda dan membuka peluang bagi emas untuk kembali menguat,” tutup Geraldo.

Tinggalkan komentar