Harga emas menghadapi risiko penurunan lebih lanjut pada perdagangan Rabu (30/9/2026), menyusul koreksi tajam hampir 4% di awal pekan. Market Analyst StoneX, Julian Pineda, memproyeksikan tekanan bearish pada emas dapat berlanjut jika imbal hasil (yield) obligasi dan dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat.
Pada saat berita ini ditulis, harga emas spot tercatat turun tipis 0,04% ke level US$ 4.180,74 per ons troi. Sebelumnya, harga emas spot sempat melonjak 1,64% menjadi US$ 4.182,45 per ons troi, namun sempat menyentuh level terendah US$ 4.110,55 pada Senin.
Pineda menjelaskan bahwa pelemahan emas belakangan ini utamanya dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kondisi ini mengurangi daya tarik logam mulia bagi investor dalam jangka pendek.
“Untuk saat ini, pelemahan emas terutama didorong oleh kenaikan yield obligasi AS yang mengurangi daya tarik logam mulia dalam jangka pendek,” ujar Pineda dalam analisisnya.
Tekanan terhadap emas juga diperparah oleh ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang tetap ketat. Pasar sebelumnya memperkirakan peluang sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan 28 Oktober 2026. Jika terealisasi, suku bunga acuan AS berpotensi naik menjadi 4,25% dari posisi saat ini 4%.
Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Core Personal Consumption Expenditures (PCE) AS. Data ini merupakan salah satu indikator utama yang digunakan The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Fokus Data Inflasi AS
Pineda menilai, data PCE yang lebih kuat dari perkiraan dapat kembali mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga dan memperbesar tekanan terhadap harga emas. Sebaliknya, jika inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda, emas berpeluang mendapatkan ruang untuk memulihkan sebagian penurunannya.
Di pasar obligasi, yield obligasi AS 10 tahun telah menembus 5,2% dan mencapai level tertinggi pada 2026. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) bergerak di atas level 101.
Kombinasi yield tinggi dan dolar yang menguat menjadi tantangan bagi emas. Yield yang lebih tinggi meningkatkan opportunity cost memegang emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Dolar yang menguat juga membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
“Jika ekspektasi terhadap The Fed yang lebih agresif tetap bertahan setelah rilis PCE, yield obligasi dan dolar AS berpotensi mempertahankan kekuatannya,” kata Pineda.