Analis memperkirakan harga emas berisiko jatuh lebih dalam setelah gagal mempertahankan kenaikan di atas rata-rata pergerakan 200 hari. Kegagalan ini memperkuat momentum penurunan yang sedang terjadi.
Para analis di Societe Generale mengungkapkan bahwa harga emas sedang mendekati level support krusial seiring tren penurunan yang terus berlanjut. “Harga emas kesulitan untuk bertahan di atas rata-rata level dalam 200 hari selama upaya pemulihan baru-baru ini, yang menyoroti masih kuatnya momentum penurunan,” tulis para analis Societe Generale dalam catatan riset terbaru, dikutip dari Kitco News.
Menurut mereka, jika emas gagal kembali ke level tertinggi baru-baru ini di dekat US$ 4.315 per troy ounce, penurunan mungkin akan berlanjut. Analis Societe Generale memprediksi level support berikutnya berada di sekitar US$ 4.095. Titik terendah bulan Juni/Juli di kisaran US$ 3.960-US$ 3.940 per troy ounce juga merupakan zona krusial yang perlu diwaspadai.
Meskipun trennya menurun, Societe Generale menilai emas tetap memegang peran penting dalam portofolio multi-aset. Hal ini didorong oleh kembalinya tren lindung nilai terhadap penurunan nilai mata uang (debasement trade), fragmentasi geopolitik, serta kekhawatiran yang meningkat mengenai kredibilitas fiskal dan mata uang Amerika Serikat. Faktor-faktor ini mendorong diversifikasi yang lebih besar menjauhi aset cadangan tradisional.
“Bank sentral terus membeli emas sembari mengurangi eksposur mereka terhadap obligasi pemerintah AS (US Treasuries), karena fragmentasi geopolitik serta kekhawatiran akan kredibilitas fiskal dan mata uang mendukung permintaan terhadap aset cadangan alternatif,” jelas para analis tersebut.
Selain permintaan kuat dari bank sentral, Societe Generale menyebutkan bahwa kondisi siklus pasar juga mendukung logam mulia. Ekspektasi penurunan suku bunga riil di tahap siklus berikutnya diperkirakan akan mengurangi biaya peluang (opportunity cost) emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Pelemahan dolar AS dan kembalinya permintaan investasi memberikan dorongan tambahan.
“Diversifikasi struktural yang dilakukan bank sentral kini diperkuat oleh suku bunga riil yang lebih rendah, dolar yang lebih lemah, dan kembalinya arus dana ke ETF,” kata para analis Societe Generale.
Dengan latar belakang tersebut, Societe Generale memperkirakan reli harga emas masih memiliki ruang untuk berlanjut. Bank tersebut memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$ 4.750 per troy ounce pada kuartal keempat 2026, sebelum menyentuh US$ 5.000 pada kuartal kedua tahun 2027, dan US$ 5.250 per troy ounce pada kuartal ketiga.