Harga emas diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada pekan ini. Perlambatan signifikan pada data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) terbaru belum cukup memberikan momentum bullish yang kuat bagi emas. Analis Pasar StoneX, Julian Pineda, menyoroti level US$ 4.000 per ons troi sebagai area krusial yang patut diwaspadai.
Pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026), harga emas tercatat jatuh 0,88% ke level US$ 4.140,68 per ons troi. Pineda mencatat bahwa pelemahan sekitar 0,3% dalam dua perdagangan terakhir mengindikasikan tekanan beli masih kesulitan mengambil alih kendali pasar.
Tekanan terhadap emas bahkan berlanjut pasca-rilis data nonfarm payrolls (NFP) AS. Ekonomi AS hanya menciptakan 29.000 lapangan kerja pada September, jauh di bawah ekspektasi ekonom sebesar 89.000 dan pencapaian bulan Agustus yang mencapai 133.000. Data ini mengindikasikan perlambatan pasar tenaga kerja AS, yang berpotensi mengurangi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter agresif.
Pasar saat ini memperkirakan sekitar 77% peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 28 Oktober. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan berikutnya belum sepenuhnya hilang. Untuk Desember, pasar melihat sekitar 66% peluang suku bunga bergerak menuju 4,25%, sementara untuk Januari, terdapat sekitar 38% peluang suku bunga berada di area 4,50%.
Menurut Pineda, data NFP memang telah mengurangi ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih agresif dalam waktu dekat. “Namun, perubahan tersebut belum cukup untuk menghilangkan daya tarik pasar obligasi AS,” tambah Pineda.
Pineda menilai, imbal hasil (yield) obligasi AS masih menjadi salah satu faktor utama yang membatasi pemulihan harga emas. Yield obligasi AS tenor 10 tahun yang masih berada di atas 5,2% menjadikannya pilihan menarik karena memberikan imbal hasil, berbeda dengan emas yang tidak menghasilkan pendapatan.
Hubungan terbalik antara yield obligasi dan emas pun masih terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Ketika yield terus menguat, harga emas kesulitan mempertahankan momentum kenaikannya.
“Dengan kondisi tersebut, harga emas masih berpotensi bergerak dalam lingkungan netral hingga cenderung lemah dalam jangka pendek. Pasar dinilai belum memiliki momentum yang cukup untuk membentuk tren baru yang dominan,” paparnya.
Analisis Teknikal Emas
Secara teknikal, Pineda menjelaskan bahwa emas telah kehilangan kemampuan mempertahankan garis tren bullish yang sebelumnya terbentuk. Meskipun tekanan jual mulai mereda, kondisi ini belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren.
Indikator relative strength index (RSI) masih berada di bawah level netral 50, menunjukkan momentum bearish jangka pendek masih relevan. Sementara itu, moving average convergence divergence (MACD) bergerak dekat garis netral 0, mencerminkan momentum yang mulai berimbang dan membuka peluang bagi emas untuk memasuki fase konsolidasi.
Pineda menyebutkan sejumlah level penting yang perlu diperhatikan. Area US$ 4.330 per ons troi menjadi zona keseimbangan jangka pendek sekaligus berdekatan dengan moving average 50 periode. “Jika harga emas kembali ke area tersebut, fase konsolidasi berpotensi menguat. Namun, pemulihan yang lebih meyakinkan baru terlihat apabila emas mampu bergerak menuju US$ 4.500 per ons troi,” kata Pineda.
Level US$ 4.500 per ons troi merupakan resistance penting karena berdekatan dengan level tertinggi pada grafik dan moving average 200 periode. Penembusan area tersebut berpotensi mengembalikan bias bullish dan menghidupkan kembali struktur kenaikan emas.
“Sebaliknya, US$ 4.000 per ons troi menjadi support kritis sekaligus level psikologis penting. Jika harga emas menembus dan bertahan di bawah level tersebut, tekanan jual berpotensi semakin dominan dan membuka jalan bagi terbentuknya tren bearish yang lebih terstruktur dalam beberapa pekan ke depan,” tutup Pineda.