Harga emas dunia mulai mencari pijakan pada perdagangan Rabu (30/9/2026), setelah sempat mengalami penurunan tajam di awal pekan. Meskipun masih dibayangi oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya imbal hasil (yield) obligasi, emas menunjukkan sinyal teknikal yang berpotensi untuk rebound.
Saat berita ditulis, harga emas tercatat turun tipis 0,09% menjadi US$ 4.178,74 per ons troi. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa pergerakan emas pada timeframe H1 membentuk penolakan (rejection) di area resistance sebelumnya. Setelah mendapatkan tekanan jual yang cukup kuat, harga emas mulai membentuk titik terendah baru (Swing Low) yang berpotensi menjadi support krusial.
“Kemampuan emas bertahan di atas area Swing Low menjadi kunci bagi kelanjutan rebound,” tulis Geraldo dalam risetnya pada Rabu (30/9/2026). Menurut Geraldo, selama harga mampu mempertahankan support baru tersebut, emas berpeluang melanjutkan kenaikan menuju zona resistance di kisaran US$ 4.202–4.215 per ons troi. Jika momentum positif ini terjaga hingga mendekati area tersebut, peluang rebound masih terbuka. Namun, jika kembali mendapat tekanan jual di sekitar level resistance, harga emas berpotensi kembali terkoreksi.
Dari sisi fundamental, Geraldo mengemukakan bahwa jalan emas untuk kembali naik masih menghadapi sejumlah tantangan. Sebelumnya, harga emas tertekan akibat penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi, serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed. “Kenaikan harga minyak juga memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut dapat membuat The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama,” paparnya.
Yield obligasi AS 10 tahun bahkan sempat menembus level 5%, yang merupakan angka tertinggi sejak Juni 2007. Kenaikan yield menjadi beban bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Ketika yield obligasi meningkat, biaya peluang untuk memegang emas ikut naik. Penguatan dolar AS juga membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Suku Bunga The Fed dan Data Ekonomi
Namun, Geraldo menyebutkan bahwa tekanan tersebut mulai mendapat penyeimbang dari perubahan ekspektasi suku bunga. Sejumlah pejabat The Fed memberikan pandangan yang berbeda mengenai kebutuhan kenaikan suku bunga berikutnya. Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober sempat turun dari sekitar 70% menjadi sekitar 52% setelah Presiden The Fed Bank of New York John Williams mengisyaratkan pendekatan yang lebih hati-hati terhadap kenaikan suku bunga.
Selanjutnya, perhatian pasar tertuju pada data ekonomi AS, terutama data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dan laporan tenaga kerja. Data tersebut akan menjadi petunjuk bagi investor untuk membaca arah inflasi dan pasar tenaga kerja AS, sekaligus memperkirakan langkah The Fed selanjutnya. “Data ekonomi yang lebih kuat berpotensi kembali menopang dolar AS dan yield obligasi sehingga membatasi kenaikan emas. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat memberikan ruang bagi harga emas untuk mempertahankan rebound,” jelas Geraldo.
Geraldo menekankan bahwa faktor geopolitik juga masih menjadi variabel penting. Ketegangan di Timur Tengah dan ketidakpastian harga energi dapat meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). Namun, pengaruh sentimen tersebut tetap harus dilihat bersama dengan pergerakan dolar dan yield obligasi AS.