Pakar memproyeksikan harga emas dunia masih akan berfluktuasi namun memiliki peluang untuk kembali naik pada pekan mendatang.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa jika terjadi koreksi, harga emas dunia akan menemukan support di level US$ 3.948 per troy ounce.
Namun, Ibrahim juga melihat kemungkinan harga emas mengalami kenaikan hingga mencapai resistance di US$ 4.654 per troy ounce.
“Harga emas dunia dan logam mulia berfluktuasi dengan kecenderungan emas akan jatuh, kemudian harga minyak naik, dolar mengalami kenaikan, dan rupiah mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim.
Ibrahim menjelaskan, pergerakan harga emas akan sangat dipengaruhi oleh reaksi pasar terhadap sentimen geopolitik, kebijakan perpolitikan di Amerika Serikat, serta kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat.
Ia menyoroti memanasnya kembali konflik antara Iran dan Amerika Serikat, serta dengan Israel. Hal ini terjadi setelah Presiden AS Trump menolak ajakan Presiden Iran untuk melakukan gencatan senjata pada sidang PBB dan membuka kembali Selat Hormuz, serta Trump mengindikasikan tidak akan membuka jalur Selat Hormuz di Laut Merah.
Sementara itu, ketegangan di Laut Merah antara Yaman dan Arab Saudi juga semakin meningkat. Arab Saudi bahkan meminta bantuan militer dari Turki dan Pakistan untuk membantu melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran.
Houthi Yaman terus melakukan penyerangan terhadap wilayah Arab Saudi, yang mengganggu aliran minyak dari eksportir energi terbesar di Timur Tengah. Situasi ini menjadi salah satu faktor kenaikan harga minyak kembali.
Dari sisi perpolitikan di Amerika Serikat, merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Trump dinilai merugikan Partai Republik menjelang pemilihan anggota DPR pada 3 November mendatang. Ibrahim memperkirakan, untuk mengamankan suara terbanyak, Trump dan Partai Republik mungkin melakukan manipulasi daerah pemilihan dan daftar pemilih di tengah ancaman kekalahan dari Partai Demokrat.
Terkait kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat, di tengah kenaikan harga minyak mentah dan inflasi yang cukup tinggi akibat kenaikan harga bahan makanan pokok serta gasolin, suku bunga telah dinaikkan sebesar 25 basis poin pada bulan September lalu.
Menjelang akhir September ini, banyak pejabat Bank Sentral Amerika yang memberikan testimoni mengenai tingginya inflasi yang dapat mendorong kenaikan suku bunga kembali sebesar 25 basis poin pada bulan Oktober. Mayoritas pejabat Bank Sentral Amerika menginginkan agar suku bunga kembali dinaikkan pada bulan Oktober.