JAKARTA – Mundurnya musim hujan berpotensi menggeser jadwal tanam padi di sentra-sentra produksi, yang kemudian berdampak pada waktu panen. Dalam periode krusial ini, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menjadi tumpuan utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Oleh karena itu, kualitas beras CBP yang tersimpan di gudang Perum Bulog wajib dijaga agar tidak turun mutu dan volumenya berkurang. Bayu Dwi Apri Nugroho, Guru Besar Bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada (UGM), mengingatkan ancaman mundurnya musim tanam padi akibat penguatan fenomena El Nino. El Nino yang diproyeksikan menguat hingga intensitas sangat kuat di akhir 2026 berpotensi memengaruhi ketahanan pangan Indonesia.
Perubahan pola curah hujan dan suhu akibat El Nino dapat meningkatkan risiko kekeringan, banjir, dan cuaca panas ekstrem. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan El Nino bisa bertahan hingga Februari 2027. Di Indonesia, penguatan El Nino ini bertepatan dengan periode masuknya musim hujan, sehingga sebagian besar wilayah berpeluang mengalami kemunduran awal musim hujan yang dapat mengganggu sektor pertanian, terutama dalam penentuan waktu tanam dan panen.
“Mundurnya musim hujan akan membuat jadwal tanam ikut bergeser. Kondisi tersebut kemudian berdampak pada waktu panen padi,” ujar Bayu saat ditemui di Yogyakarta, baru-baru ini. Biasanya, musim tanam padi di Indonesia dimulai pada Oktober. Namun, seiring dengan El Nino, perubahan pola hujan harus diantisipasi dengan menyesuaikan kalender pertanian.
“Ini berpengaruh pada kalender dan jadwal tanam yang otomatis mundur. Dan mundurnya jadwal tanam ini tentu juga mengakibatkan molornya jadwal panen,” tambah Bayu. Komoditas yang membutuhkan banyak air seperti padi dan jagung tentu perlu mendapat perhatian khusus dalam menghadapi kondisi ini.
Keterbatasan air selama masa pertumbuhan tanaman berpotensi meningkatkan risiko gagal tanam maupun gagal panen. Bayu mendorong pengembangan varietas tanaman yang memiliki ketahanan terhadap kekeringan. Selain itu, metode pertanian yang lebih efisien dalam penggunaan air juga perlu diterapkan. “Varietas padi tahan kekeringan perlu didorong,” jelasnya. Teknologi pemanenan air hujan juga dapat menjadi solusi untuk menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian.
Dampak mundurnya musim tanam padi akibat El Nino tidak hanya memengaruhi produksi, tetapi juga harga pangan dan perekonomian. Penurunan produktivitas akibat kurangnya ketersediaan air akan menyebabkan kenaikan harga pangan, yang berujung pada dampak ekonomi secara nasional. Oleh karena itu, pergeseran waktu panen perlu diantisipasi karena memengaruhi ketersediaan pangan.
“Dengan mundurnya jadwal panen tentu akan mempengaruhi stok pangan yang ada dan ketergantungan dari stok sebelumnya jadi kunci sambil kita menunggu musim panen yang mundur tadi,” jelasnya. Langkah antisipasi El Nino perlu dilakukan sejak dini. Fenomena ini bukan kejadian mendadak, sehingga berbagai upaya mitigasi dapat dipersiapkan, termasuk memperkuat diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai sumber pangan utama.
“Kita tidak hanya menggantungkan saja dari beras, tetapi ada komoditas lain pengganti beras,” tandasnya. Untuk menjaga dan mencegah penurunan mutu stok CBP, Bulog menerapkan formula pencampuran beras 2-3-4. Formula ini digunakan terutama pada CBP yang disalurkan sebagai Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke masyarakat untuk menstabilkan harga.
Dalam formula 2-3-4, Bulog mencampurkan dua bagian beras dari stok lama, tiga bagian beras dengan masa simpan sekitar enam bulan, dan empat bagian beras yang lebih baru dengan masa simpan 2-3 bulan. Kebijakan ini merupakan perubahan dari pola pengeluaran stok yang sebelumnya menggunakan prinsip first in first out (FIFO).
“Sekarang kami ubah dengan mixing. Beras-beras yang ada di gudang itu, mixing-nya 2-3-4. Pola FIFO dievaluasi karena beras yang tersimpan lebih lama berpotensi turun mutu saat dikeluarkan dari gudang. Kalau FIFO, pasti beras yang dulu datang, tua, yang lama-lama, begitu dikeluarkan hasilnya jelek,” kata Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani. Ia menambahkan, stabilisasi harga beras terus dilakukan melalui SPHP maupun beras premium. Bulog telah menyalurkan sekitar 60 ribu ton beras premium ke pasar di seluruh Indonesia, menargetkan penyaluran 300 ribu ton hingga Desember 2026.
Penggelontoran beras premium oleh Bulog menyasar ritel modern, sesuai permintaan pemerintah untuk memperkuat pasokan di jaringan ritel. Beras premium Bulog juga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sesuai arahan pemerintah. “Beras premium Bulog itu bisa dipakai MBG juga,” kata Rizal. Beras premium ini akan menggunakan identitas Beras Kita Premium.