Jakarta – Ketua Kelompok DPD RI di MPR RI, Dedi Iskandar Batubara, menyambut baik peluncuran dua buku MPR RI yang mendokumentasikan perjalanan ketatanegaraan Indonesia. Buku-buku ini mencakup sejarah kelembagaan MPR hingga risalah perubahan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
Acara peluncuran dua buku tersebut diselenggarakan di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat, pada Minggu (27/9). Lokasi terpilih memiliki nilai sejarah penting bagi bangsa Indonesia, termasuk menjadi saksi Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955. Tema yang diangkat dalam agenda ini adalah ‘Merawat Memori Konstitusi: Sejarah dan Risalah MPR dalam Meneguhkan Demokrasi Indonesia’.
Dedi Iskandar Batubara menekankan pentingnya setiap peristiwa dalam kehidupan bernegara di Indonesia untuk didokumentasikan. “Sebab tulisan (kehidupan bernegara, red) menjadi warisan bagi anak dan cucu kita,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (27/9/2026). Ia menambahkan bahwa isi sebuah buku merupakan rangkuman dari berbagai catatan, temuan, dan pemikiran.
Menurut Dedi, buku yang bertema konstitusi ini sangat wajar diterbitkan. Ia menilai buku tersebut dapat memberikan informasi yang komprehensif kepada generasi sekarang mengenai perjalanan panjang Indonesia dalam bernegara, khususnya dalam pembangunan konstitusi. “Ada perubahan-perubahan di konstitusi kita dan semua dijelaskan secara ilmiah, akademis. Hal ini menjadi penting karena ini sejarah,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi ide besar penulisan buku ini sebagai risalah dalam meneguhkan demokrasi. “Kita menjelaskan mengapa kita memilih demokrasi sebagai pilihan terbaik dalam merumuskan kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Dedi.
Sebelumnya, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyatakan bahwa penerbitan buku ini merupakan upaya menjaga ingatan bangsa terhadap proses panjang pembentukan sistem ketatanegaraan Indonesia. Muzani juga menyoroti makna historis Gedung Merdeka sebagai lokasi peluncuran. Gedung tersebut pernah menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika pada 1955 yang dihadiri 29 negara Asia dan Afrika di tengah ketegangan Perang Dingin.
Gedung Merdeka juga memiliki kaitan erat dengan perjalanan konstitusional Indonesia, karena pernah menjadi tempat pembahasan masa depan ketatanegaraan oleh anggota Konstituante. “Gedung ini menjadi saksi bagaimana dunia ditentukan pada masa depan oleh negara-negara Asia Afrika. Gedung ini juga menjadi saksi bagaimana anggota Konstituante merumuskan masa depan ketatanegaraan Indonesia,” pungkas Muzani.