Manchester City didakwa bersalah atas 114 pelanggaran aturan keuangan oleh panel independen Liga Primer Inggris, sebuah laporan yang pertama kali dilayangkan pada 2023. Menyusul persidangan pada September 2024, City kini menghadapi konsekuensi, meskipun sanksi final belum diumumkan. Klub telah mengeluarkan pernyataan bantahan dan menyatakan siap menjalani proses hukum.
Javier Tebas, Presiden LaLiga, yang dikenal vokal menyuarakan keprihatinannya terhadap dugaan pelanggaran keuangan oleh Manchester City, akhirnya angkat bicara. Melalui akun X-nya, Tebas menegaskan bahwa pendiriannya selama ini terbukti benar. Ia menekankan pentingnya tata kelola keuangan klub yang harus berjalan sesuai aturan yang berlaku.
“Keberlanjutan ekonomi bukanlah birokrasi. Pengendalian keuangan bukanlah sekadar keinginan sesaat. Dan berpendapat bahwa klub-klub pada dasarnya harus bersaing dengan sumber daya yang mampu mereka hasilkan juga bukan berarti menentang klub tertentu. Ini soal mempertahankan sebuah model,” tulis Tebas.
Tebas menjelaskan bahwa model yang ia perjuangkan adalah di mana kesuksesan olahraga tidak hanya bergantung pada kekuatan finansial, tetapi pada pengelolaan yang baik, kemampuan menghasilkan sumber daya, pembangunan tim yang solid, dan kepatuhan terhadap aturan yang sama bagi semua pihak. Ia menyatakan bahwa mempertahankan posisi ini telah membuatnya menerima banyak kritik dan masalah, namun ia tetap teguh pada prinsipnya.
“Mempertahankan posisi ini telah membuat saya menerima banyak kritik dan tidak sedikit masalah. Namun, saya tetap berpikiran sama persis seperti yang saya sampaikan di Manchester pada tahun 2017. Ada prinsip-prinsip yang layak diperjuangkan, meskipun harus dibayar dengan harga tertentu. Dan prinsip ini, bagi saya, adalah salah satunya,” tegas Tebas.
Ia menambahkan, “Kini, hampir sembilan tahun setelah pernyataan tersebut di Soccerex, sebuah komisi independen Liga Premier telah memutuskan bahwa 114 dari 115 pelanggaran keuangan yang dituduhkan kepada Manchester City terbukti, menurut laporan yang dipublikasikan.”
Meskipun proses hukum masih panjang dan sanksi belum ditetapkan, Tebas menekankan bahwa kejadian ini kembali menunjukkan betapa pentingnya pengendalian ekonomi, transparansi, dan aturan yang setara bagi semua pihak. Hal ini krusial untuk melindungi integritas dan keberlanjutan sepak bola. “Kami akan terus memperjuangkan prinsip-prinsip tersebut. Sama seperti pada tahun 2017,” tutupnya.
Dugaan pelanggaran yang dilakukan Manchester City terjadi antara tahun 2009 hingga 2023. Pelanggaran tersebut mencakup berbagai aspek, termasuk laporan keuangan, pembayaran kepada pemain dan manajer, aturan profitabilitas dan keberlanjutan klub, regulasi UEFA, serta kewajiban klub untuk bekerja sama dalam investigasi. Jika terbukti bersalah, Manchester City dapat menghadapi sanksi berat, mulai dari pengurangan poin, denda, degradasi, hingga pencabutan gelar.