Bitcoin Tertahan, Sentimen Makroekonomi Global Menjadi Penekan Utama

Perdagangan aset kripto, termasuk Bitcoin (BTC), mengalami konsolidasi pada Senin (28/9/2026) setelah reli yang sempat terjadi. Tekanan dari sentimen makroekonomi global dan ketidakpastian kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) kembali membayangi aset berisiko.

Bitcoin, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, sempat melemah 2,2% ke level US$ 82.702 per keping sebelum akhirnya mengikis sebagian kerugiannya. Namun, harganya masih tertahan di bawah level psikologis US$ 83.000 pada perdagangan pagi di London.

Koreksi ini juga merembet ke pasar aset digital lainnya. Ethereum (Ether) terkoreksi 1,9%, sementara Solana mencatat penurunan lebih dalam sebesar 3,7%.

Ketegangan Geopolitik dan Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed

Sentimen makroekonomi menjadi pemicu utama pelemahan harga aset kripto. Penurunan terjadi bersamaan dengan pasar saham dan obligasi setelah Presiden AS Donald Trump menolak usulan terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Penolakan ini memicu kenaikan harga minyak mentah dunia dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global.

Di sisi moneter, pelaku pasar masih mencerna keputusan The Fed yang menaikkan suku bunga acuan pada awal bulan ini. Para pengamat kini memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan kebijakan Oktober 2026.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang lebih tinggi dibandingkan sebelum pengumuman buyback obligasi pada 19 Agustus 2026, turut menurunkan daya tarik aset non-bunga seperti Bitcoin.

Industri kripto di AS juga menghadapi tekanan tambahan setelah Senat AS gagal meloloskan CLARITY Act, rancangan undang-undang regulasi kripto yang dinantikan pelaku industri untuk kepastian hukum.

Arus Masuk ETF Cetak Rekor dan Prospek Kinerja Kuartalan

Koreksi ini terjadi setelah Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi sejak Januari di atas US$ 87.000 pekan lalu. Sebagian analis memandang koreksi harga saat ini sebagai fase jeda yang sehat pasca lonjakan signifikan, bukan akhir dari tren positif.

“Saya tidak menganggap reli ini kehilangan arah hanya karena pelemahan beberapa hari terakhir. Koreksi ini sangat wajar terjadi mengingat laju penguatan yang cukup pesat belakangan ini,” ujar Executive Chairman perusahaan investasi kripto DACM Richard Galvin.

Permintaan institusional melalui produk ETF Bitcoin Spot di AS mencatatkan kinerja mingguan yang solid. Pada pekan yang berakhir 25 September 2026, ETF Bitcoin berhasil menyerap arus modal masuk bersih (net inflows) sebesar US$ 2,4 miliar. Angka ini menjadi rekor mingguan tertinggi sejak Oktober 2026, ketika arus masuk modal menembus US$ 2,7 miliar menjelang rekor harga tertinggi Bitcoin di atas US$ 126.000.

Lonjakan arus modal masuk dalam dua bulan terakhir berhasil membalikkan tren negatif ETF Bitcoin. Setelah mencatatkan arus modal keluar (net outflows) lebih dari US$ 5 miliar hingga akhir Juli 2026, dana kelolaan ETF kini berbalik positif dan mendekati net inflow sebesar US$ 1 miliar sepanjang 2026.

Secara keseluruhan, kinerja Bitcoin pada Kuartal III-2026 mencatatkan pemulihan tajam lebih dari 40% dibandingkan kuartal sebelumnya. Capaian ini didorong oleh penguatan 28% sejak pertengahan Agustus 2026 saat Departemen Keuangan AS meningkatkan pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang.

“Agar Bitcoin dapat menembus rekor tertinggi baru pada 2026, lingkungan makroekonomi secara keseluruhan harus mendukung terlebih dahulu,” ungkap Damien Loh selaku Chief Investment Officer Ericsenz Capital.

Pasar kripto global sepanjang 2026 diwarnai oleh dinamika antara adopsi institusional yang semakin kuat dan tekanan ketidakpastian makroekonomi. Setelah mencapai puncak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di atas US$ 126.000 pada Oktober 2025, pasar sempat mengalami koreksi dalam akibat pengetatan likuiditas dan volatilitas pasar keuangan global.

Persetujuan dan operasionalisasi instrumen ETF Bitcoin Spot telah mempererat integrasi antara pasar uang tradisional dan aset digital. Akibatnya, pergerakan harga Bitcoin kian sensitif terhadap indikator-indikator makro utama, seperti tingkat suku bunga acuan The Fed, imbal hasil obligasi AS, perkembangan harga komoditas energi, serta eskalasi geopolitik di kawasan strategis dunia.

Tinggalkan komentar