JAKARTA – Investor muda sekaligus founder dan chief investment officer (CIO) Hakimson.id, Andry Hakim, membeberkan alasan strategis di balik keputusannya menempatkan dana dalam jumlah besar pada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Keputusan ini tidak hanya didorong oleh prospek dividen, tetapi juga berkaitan erat dengan strategi pendanaan melalui transaksi repurchase agreement (repo).
Andry memulai akumulasi saham BMRI ketika harganya masih berkisar di level Rp 4.500 hingga Rp 5.000 per lembar. Ia memilih BMRI sebagai aset ‘jangkar’ yang dinilai lebih aman, terutama setelah mengalami pelajaran berharga dari penggunaan saham yang memiliki volatilitas tinggi sebagai jaminan dalam transaksi repo.
“Jangkar yang paling aman, ya BMRI. Apalagi harganya sudah all time low, sudah bawah sekali. Waktu itu sudah Rp 4.500-an. Kadang Rp 4.800, Rp 4.700, kadang Rp 5.000, saya sudah mulai cicil beli,” ungkap Andry Hakim dalam sebuah podcast yang disiarkan oleh Stockbit, dikutip pada Kamis (1/10/2026).
Keputusan ini merupakan buah dari pengalaman Andry sebelumnya saat menggunakan saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dalam transaksi repo. Kala itu, ia berhasil memperoleh pendanaan hingga ratusan miliar rupiah dan kembali menginvestasikan dana tersebut untuk membeli saham PANI.
Menurut Andry, saham PANI sempat mengalami lonjakan signifikan hingga menyentuh level Rp 10.000-12.000, bahkan mencapai Rp 19.000. Namun, koreksi pasar yang tajam pada bulan Maret menyebabkan harga saham tersebut anjlok drastis ke bawah Rp 12.000, yang akhirnya memicu terjadinya margin call.
Harga saham PANI bahkan sempat menyentuh angka Rp 6.800 sebelum akhirnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan (rebound). Situasi ini memaksa Andry untuk menjual sebagian asetnya guna memenuhi kewajiban dari pendanaan yang sebelumnya ia gunakan. “Dari situ, saya belajar, kalau mau ambil repo, jaminannya harus lebih aman,” tuturnya.
Selain untuk menopang strategi repo, Andry Hakim juga memilih saham BMRI dengan tujuan membangun sumber pendapatan pasif dari dividen. Ia mengungkapkan bahwa sebagian dari dana ratusan miliar rupiah tersebut kemudian dialihkan ke saham Bank Mandiri.
Berdasarkan perhitungannya, jika investasi bernilai ratusan miliar rupiah tersebut mampu menghasilkan dividen sekitar 10%, maka penerimaan dividennya dapat mencapai puluhan miliar rupiah. “Sebagian saya pakai buat pribadi, sebagian buat gulung lagi,” ujar Andry.
Dana yang diperoleh dari dividen tersebut, lanjutnya, dapat dimanfaatkan kembali untuk membeli saham lain yang dinilai berpotensi menjadi multibagger. Strategi ini berbeda dengan penempatan dananya pada BMRI, yang ia posisikan sebagai saham jangkar, sumber pendapatan dividen, sekaligus penunjang transaksi repo.