Oktober secara historis merupakan salah satu bulan yang positif bagi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Dalam enam tahun terakhir, IHSG tercatat menguat sebanyak lima kali pada bulan kesepuluh dalam setahun, dengan rata-rata penguatan mencapai 1,69%. Peluang kenaikan IHSG pada Oktober dalam enam tahun terakhir mencapai 83%.
Namun, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pola musiman positif tersebut akan menghadapi tantangan yang lebih berat pada Oktober 2026. Kiwoom memperkirakan peluang IHSG untuk menutup bulan ini di zona hijau hanya sekitar 55%, angka yang lebih rendah dibandingkan probabilitas historisnya.
Perkiraan tersebut didasari oleh kondisi IHSG yang memasuki Oktober setelah mengalami koreksi signifikan. Sepanjang September, IHSG anjlok 6,9%, dan secara akumulatif sejak awal tahun, pelemahannya mencapai sekitar 29,8%. Indeks sempat kembali menguji area penopang di level 6.000. Hingga 30 September, jual bersih oleh investor asing di pasar reguler tercatat mencapai Rp 107,18 triliun.
“Koreksi yang terjadi membuat indikator *relative strength index* (RSI) – sebuah indikator untuk mengukur momentum pergerakan harga – berada di sekitar 31, yang mendekati kondisi *oversold*. Data historis menunjukkan, tiga dari empat periode September yang berakhir negatif, diikuti dengan penguatan IHSG pada bulan Oktober,” tulis Liza dalam risetnya yang dikutip pada Kamis (1/10/2026).
Kiwoom Sekuritas memproyeksikan rentang pergerakan IHSG pada Oktober berada di antara 5.700 hingga 6.450 sebagai skenario dasar. Potensi penguatan lebih lanjut ke level 6.700 terbuka apabila IHSG mampu ditutup di atas rata-rata pergerakan 20 hari dan 50 hari (MA20/MA50).
Dalam skenario *bullish*, IHSG berpeluang bergerak di kisaran 6.450–6.710 pada Oktober. Target akhir tahun 2026 di level 7.000 pun masih dapat tercapai. Sebaliknya, skenario *bearish* memproyeksikan IHSG akan berada di rentang 5.320–5.700.
Tekanan utama terhadap pergerakan IHSG diperkirakan datang dari beberapa faktor eksternal. *Yield* US Treasury tenor 10 tahun yang mencapai 5,28%, kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BOJ), serta pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp 18.000 per dolar AS menjadi perhatian utama.
“Arus modal asing juga menjadi faktor krusial. Jual bersih asing terus berlanjut, sementara dana dari pasar berkembang (*emerging market*) menghadapi alternatif investasi baru seiring dengan kenaikan status Vietnam dalam indeks FTSE Russell,” jelas Liza.
Lebih lanjut, Liza menilai bahwa peluang IHSG untuk mencapai level 7.000 pada akhir tahun memerlukan beberapa prasyarat penting. Di antaranya adalah *yield* US Treasury kembali turun di bawah 5%, nilai tukar rupiah stabil di bawah Rp 17.850 per dolar AS, serta hasil positif dari tinjauan indeks MSCI yang dijadwalkan pada November.