JAKARTA – BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan tiga saham, yaitu EMAS, UNTR, dan SRSN, untuk diperdagangkan pada Kamis, 1 Oktober 2026. Rekomendasi ini didasarkan pada analisis pergerakan harga dan sentimen pasar terkini.
Untuk saham EMAS, BRI Danareksa Sekuritas mencatat harga sahamnya berada di level 7.725, menunjukkan pemulihan dari level support 7.445. Indikator MACD juga menunjukkan perbaikan. Selama harga bertahan di atas 7.445, terbuka peluang untuk mencapai target 7.800 hingga 8.000. Sebelumnya, pada 25 September 2026, EMAS efektif memberikan fasilitas pinjaman hingga Rp 6,45 triliun kepada PT Pani Industri Nusantara untuk kebutuhan belanja modal dan operasional, yang mendukung ekspansi namun juga mengindikasikan kebutuhan pendanaan yang signifikan.
Sementara itu, saham UNTR melonjak 7,55% ke level 27.075 dan berhasil menembus resistance 26.400 dengan peningkatan volume, yang mengonfirmasi penguatan jangka pendek. Harga saham kembali berada di atas rata-rata pergerakan 20 hari (MA20) di 25.381, dan MACD mulai menunjukkan tren menguat. Selama harga bertahan di atas 26.400, saham ini berpeluang menguji resistance Fibonacci di 27.377 hingga 27.856. Pada 28 September 2026, UNTR mengumumkan dividen interim sebesar Rp 430 per saham, sebuah aksi korporasi yang berpotensi menjadi katalis bagi investor yang mencari dividend yield dan menunjukkan kapasitas distribusi kas perusahaan.
Untuk saham SRSN, harga di level 134 dilaporkan masih mempertahankan tren bullish di atas MA20 di 114 dan area breakout 108-116. Indikator MACD tetap positif, sehingga rekomendasi yang diberikan adalah trading buy. Target terdekat ditetapkan di 137-143, dengan potensi kenaikan lebih lanjut ke 150 jika mampu menembus level 143. SRSN sebelumnya mengumumkan pengunduran diri Direktur Independen Sharad Ganesh Ugrankar pada 30 September 2026. Perusahaan menyatakan pengunduran diri tersebut tidak berdampak material terhadap operasional maupun kondisi keuangan, dan efektivitasnya menunggu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Prediksi IHSG
Pada perdagangan Rabu (30/9/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,83% ke level 6.071,8. Investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp 1,56 triliun di pasar reguler. Tekanan terhadap indeks masih bersumber dari pelemahan nilai tukar rupiah, tingginya imbal hasil (yield) US Treasury, serta ketidakpastian geopolitik global.
Namun, penurunan harga minyak ke kisaran US$ 96 per barel mulai memberikan sedikit ruang untuk sentimen positif. Selain itu, komentar dari John Williams yang menyatakan belum ada urgensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat juga meredakan tekanan dari ekspektasi kebijakan Federal Reserve.
Fokus sentimen pasar selanjutnya akan tertuju pada rilis data ekonomi domestik pada 1 Oktober, khususnya data inflasi September dan neraca perdagangan Agustus. Konsensus Reuters memperkirakan surplus perdagangan Agustus sekitar US$ 630 juta, sementara inflasi September diproyeksikan meningkat tipis. Data-data ini akan menjadi penting dalam menilai tekanan eksternal, daya beli domestik, serta ruang kebijakan Bank Indonesia di tengah pelemahan rupiah yang masih berlanjut.
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tekanan namun mulai memasuki area support Fibonacci di 6.019, dengan support berikutnya di level 5.854. Indikator MACD masih menunjukkan tren negatif, sehingga penguatan atau rebound teknikal belum terkonfirmasi.
“Indeks berpotensi konsolidasi di area 6.000–6.200. Kemampuan bertahan di 6.019 menjadi kunci, sementara breakout 6.185–6.240 diperlukan untuk membuka ruang technical rebound lebih lanjut,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam laporannya, Kamis (1/10/2026).
Pada perdagangan bursa Wall Street kemarin, indeks ditutup bervariasi. Dow Jones Industrial Average melemah 0,86% ke level 50.906,05. Indeks S&P 500 melemah 0,25% ke 7.651,5, sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,24% menjadi 26.861.