Aksi Jual Asing Berlanjut, BMRI, TLKM, dan BBCA Jadi Sasaran

Investor asing melanjutkan tren aksi jual bersih atau net sell di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 29 September 2026. Saham-saham unggulan seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi sasaran utama aksi jual tersebut.

Secara keseluruhan, nilai net sell asing di seluruh pasar pada hari itu mencapai Rp 777,2 miliar. Akumulasi net sell asing sepanjang tahun berjalan hingga tanggal tersebut terus bertambah signifikan, mencapai Rp 79,4 triliun, berdasarkan data yang dirilis BEI.

Saham BMRI mencatat net sell asing terbesar di pasar reguler pada hari itu, dengan total pelepasan mencapai Rp 276,2 miliar. Posisi kedua ditempati oleh saham TLKM yang mencatatkan net sell asing sebesar Rp 159,8 miliar. Sementara itu, saham BBCA juga mengalami net sell asing senilai Rp 138,7 miliar.

Di sisi lain, investor asing mencatatkan transaksi beli bersih atau net buy pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Namun, nilai net buy asing pada saham BBRI relatif tidak signifikan, yaitu sebesar Rp 58,2 miliar.

Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada hari yang sama ditutup melemah. IHSG kehilangan 26,1 poin atau 0,43%, berakhir di level 6.121,7. Dari total saham yang diperdagangkan, 315 saham menguat, 391 saham melemah, dan 257 saham stagnan. Nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp 12,9 triliun.

Menurut analisis Pilarmas Investindo Sekuritas, pelemahan IHSG dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, bursa saham di Asia menunjukkan tren melemah akibat ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Harga minyak mentah brent sempat mengalami kenaikan di atas US$ 107 per barel. Fenomena ini terjadi karena negosiasi AS-Iran yang masih diselimuti ketidakpastian, meskipun pasokan minyak melalui pipa Timur-Barat Arab Saudi telah berangsur pulih.

Pilarmas Investindo Sekuritas mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak mentah menjadi perhatian serius pasar karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Hal ini juga berdampak pada kenaikan imbal hasil obligasi global, seiring ekspektasi bahwa bank sentral mungkin perlu mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan moneternya untuk mengendalikan inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga energi.

Di pasar domestik, tingginya harga minyak juga memberikan beban tambahan pada prospek fiskal negara. Tekanan ini diperparah dengan adanya perubahan aturan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pilarmas menilai, pasar saat ini sedang dalam proses adaptasi terhadap aturan baru BEI yang menetapkan batas minimum harga saham menjadi Rp 1, turun dari sebelumnya Rp 50.

Tinggalkan komentar