Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin marak diadopsi dalam berbagai aspek dunia bisnis. Mulai dari strategi pemasaran, peningkatan kualitas layanan pelanggan, analisis data yang mendalam, hingga asistensi dalam pengambilan keputusan strategis. Namun, di balik janji efisiensi yang menggiurkan, penggunaan AI yang tidak terarah berpotensi membuat bisnis kehilangan keunikan dan menjadi generik.
SyaREA World (SW) memberikan peringatan kepada para pemilik bisnis untuk tidak menjadikan AI semata-mata sebagai alat kejar efisiensi. Teknologi ini sebaiknya diposisikan sebagai mitra strategis, sementara kendali penuh atas arah dan keputusan bisnis tetap berada di tangan manusia.
Pesan ini disampaikan dalam sesi Workshop AI for Business Owners yang diselenggarakan SW selama tiga hari di IPB International Convention Center, Bogor. Acara ini dihadiri sekitar 50 pengusaha Muslim dan membahas pemanfaatan AI dari sudut pandang pemilik bisnis.
Founder SyaREA World, Syamsul Safin, menekankan pentingnya pengendalian penggunaan AI agar teknologi tidak justru mengambil alih kendali bisnis. Tanpa arah yang jelas, pengusaha berisiko terjebak dalam eksplorasi berbagai alat AI hingga melupakan tujuan awal pemanfaatannya.
“Bagi kami, workshop ini adalah misi penyelamatan dari labirin tanpa akhir. Kami tidak ingin pengusaha hanya menjadi pengguna AI yang sibuk mencoba berbagai tools. Yang jauh lebih penting adalah mereka memahami posisi AI dalam arsitektur bisnisnya, apa yang boleh dibantu AI, apa yang harus tetap diputuskan manusia, dan batas apa yang tidak boleh dilewati,” ujar Syamsul dalam keterangan persnya, Senin (28/9/2026).
Menurut Syamsul, penggunaan AI yang seragam di banyak perusahaan dapat mengikis diferensiasi bisnis. Ketika perusahaan mengadopsi alat dan instruksi yang serupa, produk, konten, hingga cara berkomunikasi berpotensi menjadi sangat mirip satu sama lain.
Kondisi ini dapat membuat bisnis kehilangan pembeda utama dan mendorong persaingan menuju perang harga. “Dalam kondisi generik, banyak pengusaha yang terjebak pada perang harga. Padahal perang harga tidak pernah dimenangkan oleh yang kecil. Yang bertahan adalah yang bermodal paling dalam. Margin yang tergerus akan mematikan kemampuan bertumbuh,” jelasnya.
Risiko Keamanan dalam Pemanfaatan AI
Selain isu diferensiasi, Syamsul juga menyoroti risiko keamanan yang muncul ketika AI mulai terhubung dengan data dan sistem internal perusahaan. Data pelanggan, strategi bisnis, dokumen internal, hingga informasi keuangan merupakan aset sensitif yang memerlukan perlindungan ketat.
Risiko tersebut semakin kompleks ketika perusahaan menggunakan AI Agent yang memiliki kemampuan berinteraksi dengan aplikasi, data, API, dan berbagai sistem perusahaan lainnya. Potensi kerentanan mencakup indirect prompt injection, pencurian data, penyalahgunaan hak akses, manipulasi memori, kebocoran API key, hingga serangan terhadap infrastruktur.
“Jangan sampai demi mengejar efisiensi dengan AI, perusahaan justru membuka pintu bagi risiko keamanan data, privasi, dan kebocoran informasi,” tegas Syamsul.
Syamsul menambahkan bahwa pemilik bisnis tidak harus menjadi ahli AI. Hal terpenting adalah memahami manfaat, batasan, risiko, serta posisi AI dalam arsitektur bisnis secara keseluruhan. “Cukup tahu seperlunya. Gunakan AI sampai lapisan arah, visi-misi perusahaan, nilai inti, strategi, dan rancangan usaha. Sisanya serahkan kepada tim dan terus awasi,” tutupnya.