10 Tokoh Inspiratif: Penggerak Desa Mandiri Pangan dalam DPD RI Awards 2026

Sebanyak sepuluh individu inspiratif telah terpilih sebagai kandidat dalam kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan pada DPD RI Awards 2026. Para tokoh ini menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menggerakkan masyarakat untuk memanfaatkan lahan kosong, berinovasi dalam produksi pangan, dan menciptakan desa yang mandiri secara pangan.

Penghargaan ini, menurut DPD RI, diberikan kepada sosok yang berperan sebagai motor penggerak pembangunan desa, khususnya dalam mewujudkan kemandirian pangan. Fokus utama para kandidat adalah pemanfaatan potensi pangan lokal, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan ketahanan pangan yang berkelanjutan demi kesejahteraan warga desa.

Berikut adalah profil kesepuluh kandidat yang diurutkan berdasarkan abjad:

Agus Setiawan

Agus Setiawan menjadi pionir kemandirian pangan di Desa Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, melalui program Desa Berdaya Ikan Lele sejak 2023. Sebagai Ketua Gucang Farm, ia menerapkan sistem budidaya bioflok yang efisien. Metode ini mengolah sisa pakan dan kotoran ikan menjadi nutrisi tambahan, sehingga meningkatkan efisiensi pakan dan air. Program ini berhasil menghasilkan 2 kuintal lele per minggu dan 1,5 juta benih lele per bulan. Selain budidaya, masyarakat didorong mengembangkan produk olahan lele seperti abon, siomay, pempek, hingga cookies tulang lele untuk meningkatkan nilai tambah.

Ahmad Lafillian Romadhi

Petani milenial asal Jombang, Ahmad Lafillian Romadhi, mengembangkan Melonponik Megaluh sejak 2023. Ia mengubah lahan tidur menjadi kawasan produksi melon premium berbasis hidroponik, memadukan greenhouse, hidroponik, dan teknologi smart farming berbasis IoT. Program ini telah melibatkan 66 warga Jombang dan direplikasi oleh lebih dari 480 mitra hidroponik di seluruh Indonesia. Smart Greenhouse ini mampu menghasilkan omzet hingga Rp25 juta per panen, dengan tiga kali panen setahun.

Anang Ismail

Anang Ismail, Ketua Perkumpulan Peternak Kambing Perah Rojo Koyo Utomo di Magelang, Jawa Tengah, memimpin pengembangan peternakan kambing perah berbasis potensi lokal. Kelompok ternak ini membina peternak di 65 desa di Magelang, Temanggung, dan Wonosobo. Anang meningkatkan kapasitas peternak melalui pelatihan dan pendampingan, serta mendorong penggunaan bibit unggul. Ia juga mengembangkan unit pengolahan susu kambing menjadi produk pasteurisasi berkualitas untuk meningkatkan nilai jual.

Asep Hidayat Mustopa

Di Sukabumi, Jawa Barat, Asep Hidayat Mustopa atau Abah Asep menggagas Desa Wisata Hanjeli. Ia melestarikan tanaman lokal hanjeli, yang bijinya diolah menjadi beras, tepung, bubur, dan makanan olahan lainnya. Sejak 2015, desa wisata ini tidak hanya mengenalkan sejarah hanjeli, tetapi juga menyajikan beragam olahan tradisional. Program ini melibatkan lebih dari 150 warga, termasuk perempuan, kelompok tani, dan mantan pekerja migran. Desa Wisata Hanjeli mampu menghasilkan lebih dari 20 ton panen per tahun dengan omzet ratusan juta rupiah.

Daryono

Daryono mengembangkan sistem Pertanian Berkelanjutan Untir Kalimian Menyala Hijau Lestari di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Inovasi ini mengatasi rendahnya produktivitas lahan kering tadah hujan dengan memanfaatkan sumur bor dan aliran sungai. Sejak 2023, sistem irigasi pompaisasi listrik mempermudah akses air, memungkinkan empat kali masa tanam setahun. Biaya pengairan turun signifikan, dan lahan seluas 80,7 hektare kini dapat dimanfaatkan sepanjang tahun. Sistem ini telah diterapkan di 37 desa dan menjadi model pertanian berkelanjutan di lahan kering.

Ella Rizki Farihatul Maftuhah

Ella Rizki Farihatul Maftuhah menggerakkan ketahanan pangan di Magelang melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Nira Lestari. Program ini fokus pada pengolahan hasil kelapa menjadi gula semut, meningkatkan pendapatan perempuan desa. Inisiatif yang dimulai sejak 2012 ini kini memiliki 90 anggota dan berkembang menjadi usaha agroindustri berorientasi ekspor dengan merek Golden Nira. PT Nira Lestari International bahkan telah berhasil mengekspor gula semut ke Malaysia. Selain gula semut, mereka juga memproduksi virgin coconut oil (VCO).

Filza Sigit Pratama

Filza Sigit Pratama menciptakan Lutan Agrofarm di Kalimantan Timur, sebuah mini food estate seluas 21 hektare yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, dan perikanan. Sektor pertanian mencakup padi gunung dan 13 komoditas hortikultura. Peternakan meliputi 5.000 ekor ayam petelur dan penggemukan sapi, sementara perikanan memanfaatkan delapan kolam untuk budidaya nila dan lele. Program ini membangun kemitraan dengan 13 kelompok tani, melibatkan 169 orang, dan memberikan bantuan ayam petelur kepada 20 keluarga prasejahtera, mendorong transformasi Kampung Lutan dari desa tertinggal menjadi desa mandiri.

Jumali Wahyono Perwito

Jumali Wahyono Perwito mengubah Desa Pogog, Wonogiri, Jawa Tengah, menjadi sentra durian unggulan dan destinasi wisata pertanian melalui Desa Wisata Durian Pogog. Sejak panen perdana pada 2015, sekitar 60.000 bibit durian unggulan telah ditanam. Pengembangan ini menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, mendorong kenaikan harga tanah dan perluasan aktivitas ekonomi warga. Jumali berhasil menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat untuk menjadikan pertanian sebagai mata pencarian utama.

Rivan Rinaldi

Rivan Rinaldi membangun ‘Rumoh Pangan Aceh’ untuk mengembangkan kacang koro pedang sebagai alternatif pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada kedelai impor. Program ini dimulai dengan 15 petani di 8 hektare lahan dan kini berkembang menjadi 28 hektare dengan 150 petani di delapan kabupaten/kota di Aceh. Kapasitas produksi meningkat pesat, dan hasilnya telah menjangkau ribuan konsumen serta dipasarkan melalui berbagai kanal. Program ini juga menciptakan 20 lapangan kerja, termasuk bagi 14 perempuan.

Taufiq Supriadi

Taufiq Supriadi, Ketua RT 08/RW 04 Malaka Jaya, Jakarta Timur, menciptakan model ketahanan pangan perkotaan melalui Survival Architecture Indonesia/Eco EduFarm sejak Oktober 2023. Ia mengubah ruang terbatas di permukiman menjadi infrastruktur pangan yang mengintegrasikan budidaya ikan, tanaman produktif, hidroponik, akuaponik, ayam petelur, maggot, pengolahan sampah, kompos, konservasi air, dan energi terbarukan. Program ini menarik minat kunjungan dan replikasi dari berbagai daerah, bahkan dari Jepang dan Tiongkok.

Ketua DPD RI, Sultan B Najamudin, menegaskan bahwa proses seleksi DPD RI Awards bebas dari intervensi. Ia menyatakan bahwa penghargaan ini digelar untuk menjaring para ‘local hero’ dan ‘local champion’ dari daerah yang belum mendapatkan perhatian memadai. Sultan menekankan bahwa Dewan Pakar yang terlibat bersifat kapabel dan independen, serta pimpinan DPD RI tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi penentuan pemenang.

Tinggalkan komentar