Jakarta – Tim panitia telah memilih 10 nama kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah. Para kandidat terpilih ini menunjukkan dedikasi luar biasa dalam mendidik dan memberdayakan kaum marjinal hingga penyandang disabilitas agar mereka dapat mandiri dan berdaya.
DPD RI menjelaskan bahwa penghargaan pada kategori ini diberikan kepada individu yang memiliki kontribusi signifikan dalam pengembangan pendidikan nonformal. “Penghargaan diberikan kepada Inovator Pendidikan Nonformal/Pendidikan Luar Sekolah yang berdedikasi dalam mengembangkan pendidikan nonformal dan memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat,” tulis DPD RI dalam laman resminya.
Berikut adalah 10 kandidat Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah DPD RI Awards 2026, yang diurutkan berdasarkan abjad:
1. Afakhrul Masub Bakhtiar
Afakhrul Masub Bakhtiar adalah pendiri Sekolah Ndeso, sebuah model pendidikan kontekstual yang berakar pada kearifan lokal namun berorientasi masa depan. Didirikan di Gresik, Jawa Timur, pada tahun 2017, Sekolah Ndeso berfungsi sebagai ekosistem pengetahuan yang menyatukan tradisi, budaya, dan praktik nyata. Filosofi Sekolah Ndeso menekankan “dari akar lahir harapan, dari harapan tumbuh masa depan yang bermartabat” dengan landasan pembelajaran metode TAR (Tumbuhkan, Alami, Rayakan). Konsep belajarnya menyentuh empat dimensi: Laku (praktik budaya pangan), Ingatan (memori kolektif), Doa (nilai syukur), dan Inovasi (menjembatani tradisi dengan kreasi generasi muda).
2. Alvian Wardhana
Alvian Wardhana mendirikan Literasi Anak Banua pada tahun 2018, sebuah inisiatif yang berfokus pada pemberdayaan anak dan pemuda adat di wilayah terpencil Kalimantan Selatan. Berangkat dari persoalan buta huruf, keterbatasan akses pendidikan, ketidaksesuaian kurikulum, dan kerentanan terhadap perubahan iklim, program ini mengembangkan bimbingan belajar, pendidikan iklim, pembangunan perpustakaan mini, pemberdayaan pemuda adat, inkubator iklim Meraki, SAFE for Gender and Climate, serta Pelatihan Advokasi Pembaharu Muda. Program-program ini menggabungkan pendidikan, pengembangan kapasitas, kewirausahaan, advokasi, kesetaraan gender, dan pemecahan masalah lingkungan, bekerja sama dengan mitra seperti UNICEF, UNESCO, Plan International, dan Rockefeller Foundation.
3. Egi Trialogi
Egi Trialogi, seorang guru honorer dan tutor pendidikan kesetaraan dari Majalengka, Jawa Barat, mendirikan Pustaka Raharja, sekolah untuk anak jalanan. Melalui Pustaka Raharja, ia mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pembentukan karakter, dan pemberdayaan ekonomi anak jalanan dengan sistem pembelajaran nonformal yang fleksibel dan berlandaskan kearifan lokal. Ia juga membuka usaha yang dikelola langsung oleh peserta didik, seperti Angkringan Senja, Dapoer Senja, Nusantara Steam, dan Toko Sayuran Berkah Nusantara.
4. Fatmawati Arisuddin
Fatmawati Arisuddin menggagas program “Tukar Sampah dengan Ijazah Kesetaraan” sejak 2019 di Mamuju Tengah. Program ini merangkul masyarakat prasejahtera dengan mengintegrasikan pendidikan kesetaraan (Paket A, B, C gratis), pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan sampah. Sampah plastik dan botol bekas diolah menjadi material pengganti batu bata untuk membangun fasilitas pendidikan. Program ini juga mencakup Keaksaraan Dasar dan Keaksaraan Usaha Mandiri, serta “Tukar Sampah dengan Beasiswa Kuliah” untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
5. Gusti Mohammad Hamdan Firmanta
Gusti Mohammad Hamdan Firmanta adalah pendiri Kawan Netra di Surabaya, Jawa Timur, sejak 2021. Lembaga ini fokus pada pendampingan tunanetra melalui program Gerakan Tunanetra Mengaji (GTM) dan Buta Digital (BD). GTM bertujuan mengatasi tingginya angka buta huruf Quran Braille (QB) di kalangan tunanetra muslim Indonesia dengan menyediakan dukungan pendidikan baca tulis QB. Program BD memberikan bimbingan dan pelatihan literasi digital agar tunanetra dapat mandiri dalam mengoperasikan platform digital dan terhindar dari penipuan.
6. Kanaya Malika Amanda
Kanaya Malika Amanda adalah penggagas program Edukasi Berjalan, sebuah gerakan youth changemaker yang berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kemajuan pendidikan masyarakat marjinal. Inisiatif ini lahir dari minimnya keterlibatan pemuda dalam inovasi pendidikan daerah. Kanaya menggerakkan anak muda untuk menciptakan akses pendidikan yang setara bagi anak dari komunitas rentan. Hingga kini, ia telah memimpin lebih dari 250 program pendidikan yang mencakup isu hak asasi manusia, lingkungan, pemberdayaan perempuan, keamanan digital, dan pencegahan kekerasan, berdampak pada puluhan ribu orang di berbagai kota dan negara.
7. Sofian
Sofian mendirikan Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) di Bengkulu sejak 2010. KPPL menjadikan Rafflesia sebagai media pembelajaran dan pintu masuk pendidikan lingkungan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian bunga langka ini. Edukasi dilakukan melalui pengenalan Rafflesia di habitatnya, ekspedisi, kampanye konservasi, edukasi ke sekolah dan komunitas, serta pemanfaatan media digital. Pendekatan ini memberikan pengalaman nyata kepada masyarakat untuk mengenal, memahami, mencintai, dan menjaga kekayaan alam.
8. Sri Wahyaningsih
Sri Wahyaningsih adalah inisiator Sanggar Anak Alam (SALAM), sebuah “Laboratorium Pendidikan” yang melayani anak dari jenjang PAUD hingga SMA. Didirikan pada 1988 di Banjarnegara, SALAM mengembangkan pendekatan “sekolah hadap masalah”, yaitu pembelajaran berbasis pengalaman nyata, pengamatan lingkungan, diskusi, riset, dan pencarian solusi bersama. Proses belajar tidak berbasis mata pelajaran, melainkan riset sesuai minat anak dengan empat pilar utama: pangan, kesehatan, lingkungan hidup, sosial budaya, dan energi. SALAM membuktikan bahwa komunitas lokal mampu mengelola pendidikan yang inklusif dan memberdayakan tanpa bergantung pada standardisasi kaku.
9. Taryaningsih
Taryaningsih mendirikan Kawasan Inklusif di Trenggalek, Jawa Timur, pada 2019. Ini adalah wadah pendidikan nonformal pertama di Indonesia yang didedikasikan untuk penyandang disabilitas. Kawasan Inklusif memberikan bekal keterampilan vokasi, melatih hidup berdampingan di masyarakat, dan menciptakan infrastruktur yang ramah disabilitas. Kawasan ini juga memfasilitasi sentra usaha bagi disabilitas dengan pemasaran terpusat dan layanan umum yang aksesibel, termasuk jalur kursi roda dan guiding block.
10. Yudhi Hari Wibowo
Yudhi Hari Wibowo adalah inisiator ASN Mengajar, sebuah gerakan nasional yang dimulai dari pengalaman mengajar sukarela sejak 2017 dan dipimpinnya sejak 2022. Gerakan ini mengajak Aparatur Sipil Negara (ASN) di seluruh Indonesia untuk berperan dalam pemerataan pendidikan bagi masyarakat prasejahtera melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal. ASN Mengajar menjalankan kegiatan pengajaran rutin, bantuan pendidikan, kelas minat bakat, kewirausahaan remaja, outing class, serta beasiswa dan bantuan perlengkapan sekolah. Gerakan ini kini berbadan hukum sebagai Yayasan Pendidikan Dewantara Muda dengan jaringan di enam wilayah binaan.