JAKARTA – Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa wali asuh dan wali asrama memegang peranan penting sebagai garda terdepan dalam pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat. Pendampingan yang diberikan harus mengedepankan empati, perhatian, dan kasih sayang yang tulus.
Penegasan ini disampaikan Agus Jabo saat menutup Pelatihan Pengasuhan dan Pengelolaan Asrama Sekolah Rakyat di Yogyakarta. Pelatihan intensif yang dimulai sejak 22 September ini diikuti oleh ratusan tenaga pendidik, terdiri atas 160 wali asuh dan 40 wali asrama dari Regional Yogyakarta.
“Wali asuh dan wali asrama adalah ujung tombak dalam membangun karakter anak-anak di Sekolah Rakyat. Saya titip mereka, antarkan mereka, bangun karakter mereka, karena potensi mereka sama dengan anak-anak yang lain, hanya latar belakangnya yang berbeda,” ujar Agus Jabo dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (26/9/2020).
Menurutnya, peran sebagai orang tua pengganti di asrama sangat menentukan arah masa depan generasi penerus bangsa.
Siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga dengan latar belakang sosial dan ekonomi yang sangat beragam. Kondisi multidimensi ini menuntut pemahaman ekstra dari para pendamping. Proses pengasuhan yang ideal tidak hanya berorientasi pada aturan kedisiplinan yang kaku.
“Anak-anak ini pada dasarnya membutuhkan perhatian dari kita, pendampingan dari kita, kasih sayang dari kita. Karena itu, saya mohon para pendamping betul-betul memahami anak-anak, tidak hanya secara kolektif, tetapi juga secara individual,” katanya.
Sentuhan personal terbukti lebih efektif dalam merangkul mental anak-anak yang rentan. Pendekatan berbasis empati menjadi krusial di tengah dinamika persoalan keluarga, ekonomi, maupun lingkungan sosial siswa.
Agus Jabo meminta seluruh pendamping untuk tidak terburu-buru menghakimi perilaku siswa hanya dari kacamata aturan formal. Setiap riwayat perilaku anak wajib ditelaah secara mendalam sesuai akar masalah dan kebutuhannya.
“Kalau menggunakan logika formal, kebutuhan mereka akan terasa berat. Tetapi kalau kita menggunakan hati, kita bisa memahami mereka membutuhkan perhatian, pendampingan, dan kasih sayang,” ujarnya.
Ketulusan hati pendidik akan langsung dirasakan oleh peserta didik melalui interaksi harian mereka.
Baiq Windra Ishanda, perwakilan dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38 Lombok Timur, membenarkan esensi dari pembekalan tersebut. Pelatihan ini menyadarkan pentingnya kehadiran sosok pengasuh sebagai teladan nyata bagi siswa.
“Setelah mengikuti pelatihan, saya semakin memahami menjadi wali asuh dan wali asrama bukan hanya sebagai pendamping. Kami hadir sebagai ibu dan bapak bagi anak-anak, menjadi rumah kedua bagi mereka,” ujar Baiq.
Kehangatan layaknya sebuah keluarga utuh menjadi kunci keberhasilan adaptasi anak di lingkungan asrama.
“Pelatihan ini mengajarkan keteguhan, kesadaran, dan kedisiplinan dari diri sendiri agar bisa kami implementasikan di Sekolah Rakyat masing-masing,” katanya.
Kedisiplinan seorang pembimbing mutlak diperlukan sebelum mereka menerapkan aturan serupa kepada para siswa.
Pendidikan di Sekolah Rakyat tidak melulu berpatokan pada pencapaian nilai akademik. Pembangunan karakter memegang peranan paling penting untuk mencetak pribadi mandiri dan berdaya saing. Wali asuh mengendalikan kehidupan keseharian siswa di luar jam pelajaran kelas.
“Yang bertugas membangun karakter di luar jam belajar di kelas adalah wali asuh dan wali asrama. Tujuannya adalah agar anak-anak menjadi pintar, berkarakter, dan mandiri,” katanya.
Sinergi antara pendidikan formal dan pendidikan moral asrama akan menghasilkan lulusan berkualitas unggul.
Kemensos terus memastikan keberlanjutan pendampingan ini dikawal ketat hingga seluruh siswa tuntas menyelesaikan studinya. Akses pendidikan terpadu ini dirancang untuk mengangkat derajat keluarga dari jurang kemiskinan. Para lulusan diharapkan leluasa memilih jalur melanjutkan pendidikan lanjutan, bekerja, maupun merintis usaha mandiri.
“Potensi mereka sama dengan anak-anak yang lain, cuma latar belakangnya yang berbeda. Tugas kalian menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang besar,” pungkasnya.