Volume Ekspor Batu Bara RI Susut Akibat Sungai Kalimantan Surut

Volume ekspor batu bara Indonesia mengalami penyusutan signifikan sepanjang Januari hingga Agustus 2026, meskipun harga komoditas tersebut menunjukkan tren penguatan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, volume ekspor batu bara turun 9,33% secara tahunan, mencapai 227,70 juta ton dibandingkan 251,13 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini salah satunya dipengaruhi oleh kendala logistik akibat rendahnya permukaan air sungai di Kalimantan yang menghambat proses pengiriman.

Meskipun volume penjualan menurun, nilai ekspor batu bara justru tercatat meningkat sebesar 4,31%, dari US$15,90 miliar menjadi US$16,58 miliar. Kontribusi batu bara terhadap total nilai ekspor Indonesia mencapai 8,93%.

Faisal Rachman, Head of Macroeconomic and Financial Market Research PT Bank Permata Tbk, menjelaskan bahwa pelemahan ekspor batu bara berkaitan erat dengan pembatasan kuota produksi serta gangguan pada sektor logistik. “Penurunan ekspor batu bara berkaitan dengan pembatasan kuota produksi dan gangguan logistik akibat rendahnya permukaan air sungai di Kalimantan yang menghambat pengiriman,” ujar Faisal dalam rilis analisisnya mengenai perdagangan Indonesia Agustus 2026.

Kondisi sungai memegang peranan krusial dalam rantai pasok batu bara dari wilayah pertambangan di Kalimantan. Pengangkutan komoditas ini sangat bergantung pada jalur sungai sebelum dibawa ke titik pemuatan atau pelabuhan ekspor. Ketika permukaan air sungai menurun, pergerakan tongkang menjadi sangat terbatas, yang secara langsung mengganggu kelancaran proses pengiriman.

Fenomena penyusutan volume ekspor terjadi beriringan dengan kenaikan harga batu bara dunia. BPS melaporkan bahwa harga batu bara Australia pada Agustus 2026 meningkat 2,50% secara bulanan dan 20,50% secara tahunan. Sementara itu, harga batu bara Afrika Selatan juga mengalami kenaikan 0,52% bulanan dan 3,75% tahunan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan bahwa penguatan harga batu bara turut mendorong kenaikan pada kelompok harga komoditas energi di bulan Agustus. “Kenaikan harga pada komoditas energi didorong peningkatan harga minyak mentah dan batu bara,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis (01/10/2026). Indeks harga komoditas energi secara keseluruhan tercatat naik 8,82% secara bulanan dan 34,39% secara tahunan.

Kenaikan harga komoditas energi ini menjadi bantalan yang signifikan terhadap penurunan volume pengiriman. Hasilnya, meskipun volume batu bara yang diekspor turun 9,33%, nilai ekspornya selama delapan bulan pertama 2026 masih mampu mencatat pertumbuhan sebesar 4,31%.

Tekanan pada sektor batu bara ini terjadi bersamaan dengan melemahnya kinerja ekspor sektor pertambangan secara keseluruhan. Pada Agustus 2026, ekspor dari sektor pertambangan dan lainnya hanya mencapai US$2,79 miliar, sebuah penurunan sebesar 19,47% dibandingkan dengan US$3,47 miliar pada Agustus 2025. Di sisi lain, sektor industri pengolahan menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan ekspor sebesar 12,48%, mencapai US$22,29 miliar.

Tantangan Ekspor Masih Berat

Faisal Rachman mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi sektor ekspor Indonesia masih cukup berat. Hal ini disebabkan oleh cenderung melemahnya permintaan global di tengah ketidakpastian geopolitik dan perdagangan internasional. “Ketidakpastian tersebut dapat makin mengganggu rantai pasok global dan membebani ekspor Indonesia,” jelasnya. Namun, ia menambahkan bahwa tingginya harga energi global masih berpotensi memberikan dukungan terhadap nilai ekspor melalui faktor harga.

Secara total, nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2026 mencapai US$26,61 miliar, menunjukkan pertumbuhan 6,72% dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, total ekspor mencapai US$193,64 miliar, dengan peningkatan 4,74%. Di balik pertumbuhan nilai ekspor tersebut, penyusutan volume batu bara menjadi indikasi bahwa tantangan ekspor tidak hanya berasal dari fluktuasi harga dan permintaan global, tetapi juga dari isu produksi dan kelancaran logistik di dalam negeri.

Tinggalkan komentar