UKM Indonesia Berhasil Tembus Pasar China dengan Ekspor 20 Ton Pala

JAKARTA – Sektor rempah Indonesia, khususnya pala, menunjukkan potensi besar di pasar global dengan China dan Vietnam sebagai tujuan ekspor utama. Meskipun sempat terjadi pelemahan ekspor pala pada awal tahun 2026 akibat perlambatan ekonomi global yang memengaruhi permintaan di China, upaya terus dilakukan untuk mendorong kembali kinerja ekspor komoditas andalan Nusantara ini.

Pelemahan ekspor pala, bunga pala, dan kapulaga (HS 0908) tercatat mengalami kontraksi nilai sebesar -12,8% dan volume -18,2% pada periode Januari-Mei 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama dipicu oleh perlambatan konsumsi rumah tangga di China.

Dalam rangka memulihkan dan meningkatkan ekspor ke China, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank, bersinergi dengan Kementerian UMKM RI, berpartisipasi dalam pameran The 21st China International Small and Medium Enterprises Fair (CISMEF) 2026 di Guangzhou, China. Pameran yang berlangsung pada 3-6 September 2026 ini bertujuan membuka akses pasar bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) Indonesia kepada calon pembeli potensial.

Melalui fasilitas business matching, Indonesia Eximbank secara intensif mendampingi pelaku UKM di sektor rempah dan produk kelapa. Salah satu pelaku usaha yang berhasil memanfaatkan dukungan ini adalah CV Alpha Agro Indonesia. Eksportir lokal tersebut sukses mencatatkan transaksi pascapameran berupa pengiriman 20 ton pala dengan nilai mencapai Rp 181,3 juta.

Manager CV Alpha Agro Indonesia, Lusy, menyambut baik inisiatif pembinaan berkelanjutan dari pemerintah. Ia menilai keikutsertaan dalam pameran internasional sangat efektif untuk memperluas jaringan bisnis, mempelajari karakteristik calon pembeli mancanegara, membangun branding, serta melakukan benchmarking untuk memahami kebutuhan pasar, preferensi pembeli, skema pembayaran, dan proses pengiriman.

Lusy menekankan bahwa keberhasilan UKM dalam pameran internasional tidak hanya diukur dari transaksi saat itu, tetapi juga dari kemampuan mengubah pertemuan dengan calon pembeli menjadi peluang bisnis yang berkelanjutan. Ia menambahkan, proses menuju kesepakatan ekspor membutuhkan waktu, sehingga UKM perlu konsisten menindaklanjuti komunikasi, memastikan kualitas produk, dan menjaga kontinuitas pasokan.

Kepala Divisi Jasa Konsultasi Indonesia Eximbank, Maria Sidabutar, mengapresiasi peran Kementerian UMKM RI sebagai co-host country dalam CISMEF 2026, yang merupakan kedua kalinya sejak 2013. Partisipasi ini dinilai penting bagi UKM Indonesia untuk memperluas akses pasar dan membangun kemitraan dengan pembeli di Tiongkok.

“CISMEF 2026 menjadi momentum penting bagi UKM Indonesia untuk memperluas akses pasar dan membangun kemitraan dengan buyer di Tiongkok. Kami mengapresiasi Kementerian UMKM Republik Indonesia yang terus mendorong UMKM berorientasi ekspor untuk memanfaatkan peluang pasar global,” ujar Maria. Ia menambahkan, “Sejalan dengan mandatnya, Indonesia Eximbank hadir mendampingi UKM, baik dalam membuka akses pasar maupun meningkatkan kapasitas usaha. Kami berharap sinergi ini dapat membantu semakin banyak UKM Indonesia untuk naik kelas dan mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan di pasar global.”

Indonesia Eximbank berkomitmen mendorong ekspor nasional melalui berbagai layanan, termasuk pembiayaan modal kerja dan investasi, penjaminan, asuransi, serta jasa konsultasi yang mencakup pelatihan dan pendampingan. Dukungan ini diharapkan dapat membantu UKM berorientasi ekspor meningkatkan kapasitas bisnis dan menjangkau pasar mancanegara secara berkelanjutan.

Tinggalkan komentar