JAKARTA – Elektrifikasi kendaraan komersial kini mulai dilirik oleh perusahaan logistik dan pertambangan sebagai bagian dari pertimbangan investasi. Namun, keputusan untuk beralih ke kendaraan listrik sepenuhnya masih sangat bergantung pada kesiapan insentif dari pemerintah, ketersediaan infrastruktur pengisian daya, pengelolaan risiko aset, serta kemampuan operator dalam menjalankan kendaraan secara efisien.
Isu-isu krusial ini mengemuka dalam gelaran Mining Expo 2026 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 9 hingga 12 September 2026. Dalam pameran tersebut, PT Indotruck Utama bersama Volvo mengangkat tema “Power Your Ambition”, memfokuskan pada perkembangan teknologi kendaraan dalam konteks kebutuhan investasi dan operasional perusahaan.
Praktisi logistik, Netty Sri Rejeki, menekankan pentingnya manfaat ekonomi sebagai pertimbangan utama sebelum pelaku usaha mengalokasikan investasi untuk kendaraan komersial listrik. Tingginya nilai investasi awal menjadi faktor penentu, sehingga dukungan kebijakan dan pembiayaan dari pemerintah menjadi elemen penting untuk mempercepat transisi ini.
“Kalau pemerintah ingin mendorong industri hijau, pelaku usaha tetap membutuhkan alasan ekonomi untuk melakukan investasi. Insentif dapat membantu mengurangi hambatan investasi awal, terutama karena kendaraan komersial listrik membutuhkan nilai investasi yang relatif tinggi,” ujar Netty dalam keterangannya, dikutip Minggu (27/9/2026).
Menurut Netty, bentuk dukungan yang dapat dipertimbangkan oleh pemerintah mencakup keringanan bea masuk, insentif kepemilikan, relaksasi pajak, hingga skema pembiayaan dengan bunga yang lebih ringan.
Lebih lanjut, kelayakan investasi juga sangat ditentukan oleh kesiapan fasilitas pengisian daya. Kendaraan komersial memiliki pola perjalanan dan kebutuhan energi yang berbeda secara signifikan dibandingkan kendaraan penumpang. Hal ini menuntut adanya perencanaan infrastruktur pengisian daya yang lebih terstruktur dan matang.
“Kalau ingin mendorong penggunaan kendaraan komersial listrik, infrastruktur pengisian dayanya perlu dibangun secara terstruktur,” tutur Netty. Ia menambahkan bahwa kendaraan dan fasilitas pengisian daya perlu dipandang sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan agar operasional pengguna tetap memiliki kepastian dan kelancaran.
Perusahaan juga dihadapkan pada perlunya memperhitungkan perubahan pola operasional. Para pengemudi harus dibekali pemahaman mendalam mengenai kondisi kendaraan, mampu membaca informasi pada panel instrumen, serta menjalankan kendaraan secara disiplin demi menjaga efisiensi dan keselamatan operasional.
Sistem telematika dinilai dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memantau perilaku kendaraan selama beroperasi. Selain itu, perusahaan perlu mengantisipasi berbagai risiko aset, terutama terkait baterai yang merupakan komponen bernilai tinggi. Oleh karena itu, perlindungan asuransi harus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi kendaraan listrik.
Di sisi lain, pakar teknologi truk, Justinus Ade Sanjaya, menyatakan bahwa pemilihan peralatan harus mempertimbangkan kebutuhan bisnis secara menyeluruh. Ia menekankan pentingnya peran mitra yang memahami bisnis secara holistik.
“Pelanggan membutuhkan mitra yang memahami bisnis secara menyeluruh, mulai dari pemilihan peralatan, produktivitas, pemeliharaan, ketersediaan unit, pemantauan digital, sampai kesiapan menghadapi perubahan teknologi dan tuntutan keberlanjutan,” jelas Justinus.
PT Indotruck Utama sendiri memperkuat pendekatannya ini melalui layanan terintegrasi dari Volvo Trucks dan Volvo Construction Equipment. Dalam Mining Expo 2026, perusahaan juga memperkenalkan Volvo FMX Edge serta berbagai solusi inovatif untuk sektor pertambangan, konstruksi, dan logistik.