Tingkatkan Produktivitas Sawit, Pekebun Bengkulu Diberi Pelatihan GAP

Penerapan praktik pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) menjadi kunci bagi pekebun sawit di Provinsi Bengkulu untuk mencapai target produktivitas minimal 24 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun. Untuk mengejar angka tersebut, para pekebun mengikuti pelatihan intensif yang berfokus pada aspek panen dan pascapanen.

Dengan target rendemen 24-25%, produktivitas 24 ton TBS per hektare per tahun setara dengan 6 ton minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) per hektare per tahun. Pencapaian ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan para pekebun sawit secara signifikan.

Praktisi perkebunan dari Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Tri Haryadi, menjelaskan bahwa target produktivitas ini merupakan bagian dari upaya mendorong pekebun sawit untuk ‘naik kelas’ melalui penerapan GAP. “Targetnya supaya pekebun bisa mencapai produktivitas minimal 24 ton TBS per ha per tahun. Dengan rendemen 24-25% maka CPO yang dihasilkan bisa sekitar 6 ton per ha per tahun,” ujar Tri.

Tri Haryadi menyampaikan hal tersebut saat mewakili Direktur AKPY Sri Gunawan dalam acara Pelatihan Panen dan Pascapanen Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026. Pelatihan yang berlangsung pada 28 September hingga 2 Oktober 2026 di Bengkulu ini diikuti oleh 151 pekebun. Sebanyak 112 peserta berasal dari Kabupaten Bengkulu Utara dan 39 peserta dari Kabupaten Bengkulu Tengah.

Pelatihan ini diselenggarakan oleh AKPY dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan). Tri menekankan bahwa pengetahuan yang diperoleh pekebun harus benar-benar diterapkan di lapangan agar memberikan dampak nyata pada produktivitas.

“Syaratnya, pengetahun harus sampai ke kebun. Pekebun ikut pelatihan bukan sekadar paham tetapi dipraktikkan saat sampai ke kebun mereka,” jelas Tri Haryadi, menegaskan fokus pelatihan agar pengetahuan yang didapat tidak hanya berhenti di ruang kelas.

Plh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Tengah, Hendra Gusti, menambahkan bahwa pelatihan ini harus mampu mengubah cara kerja pekebun di lapangan. “Panen kalau tidak benar, hasilnya juga tidak bagus. Setelah panen pun kalau penanganannya tidak baik, hasil sawitnya juga menjadi kurang bagus,” tandasnya. Ia berharap peserta dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang didapat dan membagikannya kepada pekebun lain.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkulu Utara, Madeslianto, menyatakan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) merupakan elemen penting dalam perbaikan tata kelola perkebunan sawit. Ia mendorong peserta untuk memanfaatkan pelatihan ini sebagai bekal memperbaiki praktik pengelolaan kebun dan menyebarkan pengetahuan tersebut.

Manajemen Panen yang Terencana

Tri Haryadi lebih lanjut mengemukakan bahwa peningkatan produktivitas TBS sawit tidak hanya bergantung pada pemberian pengetahuan, tetapi juga pada implementasi materi pelatihan setelah peserta kembali ke kebun. Salah satu aspek krusial yang perlu diperbaiki adalah manajemen panen.

Meskipun sebagian pekebun telah menggunakan bibit unggul dan mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), pengelolaan panen masih sering dilakukan secara individual tanpa perencanaan yang matang. “Bibit unggul sudah digunakan, sebagian juga sudah mengikuti PSR. Tetapi dalam penanganan panen masih masing-masing. Belum ada perencanaan organisasi panen yang sesuai GAP,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pekebun didorong untuk menerapkan organisasi panen yang lebih terencana, meliputi pembagian seksi, jadwal, hingga rotasi panen. Frekuensi panen yang sebelumnya dua kali sebulan diharapkan dapat ditingkatkan menjadi 3-4 kali. Ketepatan dalam menentukan buah matang, yang ditandai dengan adanya brondolan alami, juga menjadi faktor penting.

Selain manajemen panen, penerapan pengetahuan mengenai pemupukan juga sangat krusial. Kebutuhan unsur hara tanaman harus terpenuhi agar potensi bibit unggul dapat dimaksimalkan. “Bibit unggul sudah digunakan, tetapi produksinya tidak akan tercapai kalau pupuknya tidak cukup,” tegas Tri.

Pelatihan panen dan pascapanen yang diselenggarakan AKPY, BPDP, dan Ditjen Perkebunan Kementan ini dirancang untuk menghasilkan perubahan praktik di lapangan. Target produktivitas 24 ton TBS per hektare per tahun harus diterjemahkan dalam tindakan nyata, mulai dari pemupukan yang tepat, organisasi dan rotasi panen, penentuan buah matang, hingga penanganan TBS.

Tri berharap 151 peserta pelatihan ini dapat menjadi agen perubahan di kebun dan kelompok tani mereka. “Naik kelas bukan hanya soal sudah ikut pelatihan, tetapi bagaimana pengetahuan itu diterapkan di kebun dan akhirnya berdampak pada produktivitas,” tandasnya. Keberhasilan program ini diukur dari seberapa jauh pengetahuan berpindah dari ruang pelatihan ke kebun dan menghasilkan peningkatan produktivitas TBS sawit.

Tinggalkan komentar