Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah menerima laporan resmi mengenai serangkaian serangan pesawat nirawak atau drone yang mengancam keselamatan dan keamanan di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia, Ukraina. Laporan ini menyoroti dampak kerusakan pada infrastruktur penting pembangkit tersebut.
Menurut keterangan resmi IAEA di platform X pada Sabtu (3/10/2026), gelombang serangan drone yang terjadi pada 19, 20, dan 27 September 2026 telah menyebabkan kerusakan pada sejumlah transformator daya. Kerusakan infrastruktur ini berpotensi mengurangi keandalan pasokan listrik eksternal yang sangat vital bagi sistem keselamatan pembangkit nuklir.
Selain merusak trafo listrik, serangan terpisah pada 22 September 2026 dilaporkan juga melumpuhkan salah satu stasiun pemantau radiasi eksternal yang berlokasi di luar perimeter utama PLTN Zaporizhzhia.
Peringatan Keras IAEA dan Respons Rusia
Direktur Jenderal IAEA, Rafael Mariano Grossi, mengeluarkan peringatan tegas bahwa segala bentuk aksi militer yang membahayakan fasilitas nuklir tidak dapat ditoleransi dalam kondisi apa pun. “Serangan yang membahayakan keselamatan dan keamanan nuklir sama sekali tidak dapat diterima dan harus segera dihentikan,” tegas Grossi pada Sabtu.
Grossi kembali mendesak seluruh pihak yang terlibat dalam konflik untuk menahan diri dari tindakan militer yang dapat menimbulkan risiko bahaya dan potensi kecelakaan nuklir di kawasan tersebut. Ia menekankan pentingnya pencegahan untuk menjaga stabilitas dan keamanan fasilitas nuklir.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif (CEO) Badan Energi Atom Negara Rusia (Rosatom), Alexey Likhachev, memberikan pandangannya terkait insiden serangan tersebut. Likhachev menilai bahwa masyarakat internasional pada akhirnya akan menyadari bahwa ancaman terhadap keselamatan nuklir di ZNPP bersumber dari tindakan agresif pasukan Ukraina.
Kondisi PLTN Zaporizhzhia
PLTN Zaporizhzhia merupakan kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa. Pembangkit ini berlokasi di tepi kiri Sungai Dnipro, dekat Kota Enerhodar, Ukraina, dan memiliki enam unit reaktor air bertekanan (VVER-1000) dengan kapasitas total mencapai 6.000 megawatt (MW).
Sejak Oktober 2022, pasca-eskalasi konflik Rusia-Ukraina, seluruh area PLTN berada di bawah kendali operasional pihak Rusia. Demi alasan keselamatan yang dipengaruhi oleh dinamika konflik di sekitar area pertahanan serta risiko terputusnya daya eksternal, seluruh unit reaktor di ZNPP telah ditempatkan dalam status cold shutdown (penutupan dingin) sejak April 2024.
Meskipun reaktor berada dalam status nonaktif, PLTN tetap membutuhkan aliran listrik eksternal secara konstan. Daya listrik tersebut sangat penting untuk menjalankan pompa pendingin yang berfungsi menjaga suhu bahan bakar nuklir bekas (spent fuel). Terputusnya daya pendingin dalam jangka waktu yang lama berisiko memicu peningkatan suhu berlebih (overheating) yang dapat berujung pada kebocoran radiasi.