Sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga kembali dalam pertemuan akhir Oktober. Sikap ini mendorong pelaku pasar untuk mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, meskipun peluang pengetatan lanjutan pada akhir tahun masih terbuka.
Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menyatakan bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk menunggu lebih banyak data sebelum mengubah arah kebijakan moneter. “Tidak ada kebutuhan untuk terburu-buru,” ujarnya dalam sebuah acara di University at Buffalo pada Selasa (29/09/2026), seperti dikutip dari Reuters pada Kamis (02/10/2026).
Williams, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), menilai satu kali kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin diperlukan menjelang akhir tahun. Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua The Fed, Philip Jefferson. Menurutnya, keputusan kebijakan berikutnya perlu didasarkan pada perkembangan data ekonomi, prospek pertumbuhan, dan keseimbangan risiko.
“Setiap penyesuaian kebijakan di masa depan harus ditentukan dengan mencermati tren data, perkembangan prospek, serta keseimbangan risiko,” katanya di Darden School of Business, University of Virginia, Kamis.
Jefferson juga menyinggung kenaikan imbal hasil obligasi sejak The Fed menaikkan suku bunga pada September. Ia menilai perkembangan tersebut menunjukkan pasar sedang menilai ulang prospek ekonomi. Selain itu, The Fed masih perlu membentuk penilaian sendiri dan proses tersebut dapat membutuhkan waktu lebih lama.
Pernyataan Williams dan Jefferson mengubah ekspektasi pasar. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober sekitar 25%, turun dari sekitar 70% pada awal pekan. Ekspektasi tersebut juga dipengaruhi data inflasi terbaru. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE) naik 3,4% secara tahunan pada Agustus. Angka tersebut masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%, tetapi tidak menunjukkan kenaikan dibandingkan Juli.
Sejumlah perusahaan pialang global kini memperkirakan The Fed hanya akan menaikkan suku bunga sekali lagi tahun ini, kemungkinan pada Desember. The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan pertengahan September menjadi 3,75%-4%. Dalam proyeksi saat itu, para pembuat kebijakan memperkirakan masih ada satu kali kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini. Namun, pandangan di internal The Fed belum sepenuhnya seragam.
Presiden Federal Reserve Bank of Dallas, Lorie Logan, menilai kenaikan September baru merupakan langkah awal. Menurutnya, kenaikan setidaknya 50 basis poin tambahan masih mungkin diperlukan untuk mengarahkan inflasi kembali ke target 2%. Meski demikian, Logan tidak menyebut waktu tertentu untuk kenaikan suku bunga berikutnya, ia menyebutkan bakal mencermati kondisi keuangan dan data ekonomi sebelum menentukan seberapa jauh kebijakan masih perlu diperketat.
Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, juga belum menentukan apakah kenaikan berikutnya perlu dilakukan pada akhir Oktober. Ia juga memperkirakan masih ada satu kali kenaikan suku bunga tahun ini dan satu kali lagi pada tahun depan. “Jika ekonomi ternyata sangat tangguh dan inflasi lebih sulit turun daripada yang saya perkirakan, kebijakan mungkin perlu diperketat lebih jauh,” ucapnya.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun telah meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir, didorong data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan dan kenaikan harga minyak. Logan menilai kenaikan imbal hasil tersebut mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pengetatan lanjutan. Namun, sebagian kenaikan juga dapat berasal dari meningkatnya term premium, yang berpotensi memperlambat ekonomi dan mengurangi kebutuhan The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih agresif.
Perhatian pasar berikutnya tertuju pada laporan ketenagakerjaan September yang akan dirilis Jumat. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting untuk menilai ketahanan ekonomi dan arah kebijakan suku bunga berikutnya.