JAKARTA – Kebijakan harga saham minimum Rp 1 yang akan berlaku efektif pada 28 September 2026 diprediksi tidak akan menjadi faktor penentu utama arah pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, berpendapat bahwa dampak terbesar justru akan dirasakan oleh saham-saham berharga rendah yang sebelumnya tertahan pada level Rp 50.
Menurut Hendra, pembukaan rentang harga hingga Rp 1 akan memberikan ruang transaksi yang lebih besar bagi investor pada saham-saham di bawah Rp 50. Kondisi ini berpotensi meningkatkan volatilitas pada saham berharga rendah dalam jangka pendek.
“Investor juga harus berhati-hati karena harga Rp 1, Rp 5, atau Rp 10 tidak otomatis berarti murah secara valuasi,” ujar Hendra di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Dalam jangka panjang, kebijakan ini dinilai dapat memperbaiki proses pembentukan harga (price discovery) dan meningkatkan fleksibilitas perdagangan. Namun, dampaknya terhadap IHSG diperkirakan relatif terbatas, asalkan saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penggerak utama IHSG tidak mengalami tekanan jual yang signifikan.
Setelah terkoreksi 3,09% sepanjang pekan lalu, IHSG secara teknikal masih berada dalam tekanan jual. Indeks masih bergerak di bawah sejumlah rata-rata pergerakan jangka pendek dan menengah, sementara momentum pasar belum menunjukkan sinyal pembalikan tren yang kuat.
Meskipun demikian, indikator stochastic mulai memasuki area jenuh jual (oversold), yang membuka peluang terjadinya technical rebound. Hendra mengungkapkan, area 6.220–6.230 menjadi batas bawah (support) penting yang perlu dipertahankan oleh IHSG.
Jika area tersebut mampu bertahan, IHSG berpeluang menguat menuju level 6.320, kemudian 6.370–6.410. Sebaliknya, apabila level 6.220 ditembus dengan tekanan jual yang besar, risiko koreksi lanjutan menuju 6.150–6.180 semakin terbuka lebar.
Strategi Selektif dan Bertahap
Dalam kondisi pasar yang demikian, Hendra menyarankan agar investor lebih tepat masuk secara selektif dan bertahap, bukan dengan pendekatan agresif penuh maupun sepenuhnya wait and see. Koreksi pasar dapat dimanfaatkan untuk mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat dan berprospek jelas, sembari tetap menjaga ketersediaan cadangan dana.
“Strategi saat ini bukan mengejar momentum, melainkan buy on weakness secara terukur dan melakukan stock picking dengan disiplin risiko,” tutur Hendra.
Menurutnya, jika IHSG mampu bertahan di kisaran 6.220–6.230 dan berhasil menembus level 6.320, porsi investasi dapat ditingkatkan secara bertahap. Namun, jika level 6.220 ditembus, investor disarankan untuk mengurangi agresivitas dan menunggu terbentuknya support atau batas bawah baru.