JAKARTA – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masih terus mengalami aksi jual bersih oleh investor asing. Pada akhir sesi I perdagangan Senin (5/10/2026), data Stockbit Sekuritas mencatat saham emiten bank besar ini membukukan net sell asing senilai Rp 74,18 miliar. Aksi serupa juga terjadi pada periode 30 September hingga 2 Oktober 2026.
Pada saat yang sama, saham BBRI terpantau melemah 0,32% ke level Rp 3.070 pada pukul 13.42 WIB. Kondisi ini terjadi di tengah tekanan kenaikan biaya dana dan risiko pengetatan likuiditas yang dihadapi BRI, meskipun laba bersih bank only sepanjang delapan bulan pertama 2026 tercatat tumbuh 7% secara tahunan.
Menyikapi situasi tersebut, Stockbit Sekuritas memilih untuk mengambil sikap wait and see dalam waktu dekat. Selain kenaikan cost of funds (CoF) atau biaya dana, pasar juga perlu mencermati potensi penarikan sebagian Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh pemerintah serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Sepanjang delapan bulan 2026, BBRI membukukan laba bersih bank only sebesar Rp 3,9 triliun pada Agustus 2026. Angka ini mengalami penurunan 3% secara tahunan (year-on-year/yoy), namun menunjukkan peningkatan 16% secara bulanan (month-on-month/mom). Secara kumulatif, laba bersih delapan bulan tersebut mencapai Rp 34,8 triliun, atau tumbuh 7% yoy. Capaian ini setara dengan 59% dari estimasi konsensus untuk konsolidasi sepanjang 2026.
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun sebelumnya, realisasi laba BRI mencapai 58% dari laba setahun penuh. Stockbit Sekuritas mencatat adanya perlambatan kinerja BBRI pada periode Juli-Agustus 2026. Laba bersih pada periode tersebut turun 7% yoy, berbanding terbalik dengan pertumbuhan 11% yoy yang tercatat pada semester I-2026.
Perlambatan ini terutama disebabkan oleh kenaikan beban bunga yang mencapai 9% yoy, berbanding terbalik dengan penurunan 12% yoy pada semester I. Peningkatan beban bunga ini dipicu oleh kenaikan agresif pada deposito berjangka atau time deposits yang melonjak 15% sejak Juni 2026. Di sisi lain, pertumbuhan kredit dan dana murah (current account savings account/CASA) masing-masing hanya bertumbuh 1%, yang kemudian mendorong kenaikan cost of funds (CoF) atau biaya dana.
Dampak dari kenaikan CoF ini terlihat pada net interest margin (NIM) atau margin bunga bersih pada periode Juli-Agustus 2026 yang berada di bawah 6%, turun dari 6,4% pada semester I. Meskipun demikian, terdapat sisi positif di mana beban pencadangan mengalami penurunan menjadi Rp 3,1 triliun, melemah 11% yoy dan 14% mom. Biaya kredit atau credit cost (CoC) tercatat sebesar 2,6%.
Sepanjang delapan bulan 2026, CoC berada di level 3,2%, lebih rendah dari 3,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya, meskipun pertumbuhan kredit mencapai 14% yoy. Stockbit Sekuritas menjelaskan bahwa kenaikan deposito dilakukan sebagai antisipasi terhadap potensi penarikan sebagian dana SAL pemerintah pada kuartal IV-2026. Dari sekitar Rp 300 triliun dana SAL yang dihimpun oleh bank-bank milik negara, hanya sekitar Rp 200 triliun yang diproyeksikan akan diperpanjang hingga Juli 2027.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mendekati level Rp 18.000 turut meningkatkan risiko pengetatan likuiditas. Mengingat visibilitas terhadap kondisi ini masih rendah dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, inflasi, suku bunga, serta likuiditas global, Stockbit Sekuritas untuk sementara memilih sikap wait and see terhadap pergerakan saham BBRI.