Pertamina Geothermal (PGEO) Catat Laba Naik, Produksi Pecah Rekor di 2026

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) melanjutkan tren positif kinerja keuangan pada semester I 2026. Perseroan berhasil mencatat pertumbuhan laba dua digit, rekor produksi hingga Juli, peningkatan keandalan aset, serta percepatan proyek pengembangan baru yang didukung akses pendanaan.

Hingga 30 Juni 2026, pendapatan PGE mencapai US$ 235,027 juta, naik 14,7 persen secara tahunan dari US$ 204,850 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih menunjukkan akselerasi signifikan pada kuartal II-2026, mencapai akumulasi US$ 79,605 juta hingga akhir Juni 2026, atau tumbuh 15,48 persen year-on-year.

Kondisi permodalan perusahaan juga semakin sehat, dengan ekuitas tercatat sebesar US$ 2,006 miliar. Liabilitas mengalami penurunan 2,80 persen dibandingkan akhir 2025, menjadi US$ 961,184 juta. Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat, menyatakan bahwa kenaikan pendapatan ditopang oleh pertumbuhan produksi, keandalan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif.

Rekor Produksi Berkelanjutan

Momentum positif berlanjut hingga awal semester II. Hingga 31 Juli 2026, total produksi PGE mencapai sekitar 3.222 gigawatt hour (GWh). Angka ini naik 12,7 persen dari 2.859 GWh pada periode yang sama tahun lalu, sekaligus mencetak rekor produksi tertinggi sepanjang sejarah perseroan. Dengan pencapaian ini, pendapatan dari operasi milik sendiri diproyeksikan terus meningkat secara tahunan, didorong oleh volume penjualan listrik dan uap yang lebih tinggi.

Untuk keseluruhan tahun 2026, PGEO menargetkan produksi sebesar 5.255 GWh, meningkat dari 5.095 GWh pada tahun 2025. Pertumbuhan produksi tercatat merata di seluruh wilayah operasi.

  • Lumut Balai mencatat lonjakan produksi sebesar 85,5 persen menjadi 567 GWh setelah Unit 2 beroperasi penuh sejak Juni 2025. Capacity factor mencapai 101,14 persen dan availability factor naik menjadi 99,22 persen dari 95,42 persen. Target produksi Lumut Balai sepanjang 2026 adalah 917 GWh, tumbuh 28,43 persen.
  • Kamojang menunjukkan pertumbuhan 6,3 persen menjadi 1.113 GWh, dengan capacity factor naik menjadi 93,41 persen dari 88,00 persen, seiring peningkatan permintaan dari PLN.
  • Karaha naik 22,7 persen menjadi 75 GWh, berkat tambahan pasokan uap dari Cluster TLG.3.
  • Ulubelu tumbuh 1,8 persen menjadi 953 GWh, didukung tambahan uap dari Cluster M, dengan tingkat gangguan turun menjadi 0,05 persen dari 0,17 persen.
  • Lahendong naik 1,0 persen menjadi 514 GWh, dengan catatan tanpa gangguan paksa (EFOR 0,00 persen) sepanjang periode.

Secara konsolidasi, capacity factor naik menjadi 90,62 persen dari 87,78 persen, availability factor meningkat menjadi 99,51 persen dari 99,13 persen, dan tingkat gangguan turun menjadi 0,15 persen dari 0,22 persen.

Kontribusi Lingkungan

Dari sisi keberlanjutan, operasional PGE hingga Juli 2026 berhasil menghindarkan emisi sebesar 2.327.905 ton CO2e dibandingkan dengan pembangkit listrik berbasis batu bara. Intensitas emisi PGE juga tercatat jauh di bawah ambang batas Taksonomi Uni Eropa sebesar 100 gram CO2e/kWh.

Akselerasi Ekspansi Proyek Baru

Dalam hal pertumbuhan, PGE secara aktif mempercepat pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Muara Enim, Sumatra Selatan, masing-masing dengan kapasitas 55 MW. Setelah persetujuan Final Investment Decision (FID) untuk pengembangan Unit 3 pada kuartal I-2026, tajak perdana dilakukan pada Rabu (8/7/2026) di sumur LMB 19-3, disusul pengeboran sumur kedua, LMB-19.4, yang dimulai pada 17 September 2026.

Kepercayaan terhadap proyek ini diperkuat dengan masuknya PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 ke dalam Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas pada Juni lalu. Hal ini membuka akses pendanaan melalui potensi pinjaman luar negeri senilai US$ 158,86 juta untuk Unit 3 dan US$ 148,97 juta untuk Lumut Balai Unit 4.

Proyek strategis lainnya juga menunjukkan kemajuan. Tarif proyek Lahendong Low Pressure (15 MW) telah disepakati pada April 2026. Sementara itu, proyek co-generation berkapasitas total 230 MW menargetkan penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) pada kuartal IV 2026. Di Ulubelu, proyek Gunung Tiga (2×27,5 MW) menjadwalkan uji produksi sumur GTG-B1 pada Oktober 2026 dengan target Commercial Operation Date (COD) pada 2029.

Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menekankan, “Sebagai world leading geothermal producer, PGE memahami bahwa ketahanan energi nasional memerlukan pasokan listrik yang tidak hanya bersih, tetapi juga stabil dan andal. Kinerja yang solid dan proyek yang terus bergerak menjadi fondasi kami untuk tumbuh secara berkelanjutan.”

Tinggalkan komentar