Nilai tukar rupiah melanjutkan tren penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Selasa, 29 September 2026. Pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah menguat 3 poin (0,02%) ke level Rp 17.981 per dolar AS, berbalik dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.978 per dolar AS.
Sebelumnya, kurs rupiah sempat mengalami pelemahan hingga 33 poin (0,18%) ke level Rp 18.011 per dolar AS. Namun, selang beberapa waktu, rupiah berhasil berbalik arah dan bergerak di kisaran Rp 17.900 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa penguatan rupiah terjadi di tengah perhatian pasar yang masih kuat terhadap keseimbangan fiskal Indonesia. Hal ini dipengaruhi oleh gejolak harga minyak dunia.
Penguatan rupiah juga terjadi bersamaan dengan pengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 menjadi undang-undang (UU) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Pembicaraan Tingkat II di Rapat Paripurna DPR, Selasa (29/9).
Dalam rapat tersebut, DPR dan pemerintah telah menyepakati target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% untuk tahun 2027.
Dari sisi eksternal, tekanan pada rupiah terus berlanjut meskipun ketegangan konflik antara AS dan Iran dikabarkan mulai mereda. Sejumlah pejabat AS dan Iran dilaporkan telah berbicara secara terpisah dengan pihak penengah untuk mengakhiri perang.
“Karena tingginya harga minyak, para pelaku pasar memperhitungkan adanya pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed, menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuannya tanggal 15-16 September lalu, yang merupakan kenaikan suku bunga dalam tiga tahun terakhir,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis yang diperoleh pada Selasa (29/9/2026).
Para pelaku pasar kini akan mencermati data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dijadwalkan rilis pada hari Rabu, data ISM Purchasing Managers’ Index (PMI) pada hari Kamis, serta data Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Jumat.