Banyak investor selama ini mengandalkan hubungan terbalik antara saham dan obligasi sebagai strategi utama diversifikasi portofolio. Harapannya, ketika pasar saham lesu akibat perlambatan ekonomi, pasar obligasi akan merespons positif seiring penurunan suku bunga oleh bank sentral. Namun, pandangan ini tidak selalu berlaku, menurut Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates.
Dalio menjelaskan bahwa hubungan terbalik antara saham dan obligasi tersebut tidaklah konsisten dalam semua kondisi ekonomi. “Penting untuk memahami bahwa ada lingkungan di mana saham berhasil, obligasi berhasil, dan lingkungan di mana keduanya berhasil buruk,” ujar Dalio dalam sesi tanya jawab dengan Wealth Management Institute (WMI).
Memahami Empat Lingkungan Ekonomi Ala Dalio
Dalio membagi lanskap ekonomi ke dalam empat lingkungan berbeda, yang masing-masing memiliki pengaruh terhadap kelas aset yang berbeda pula, terutama terkait perubahan ekspektasi pertumbuhan dan inflasi.
Pertama adalah Rising Growth, kondisi yang umumnya menguntungkan saham dan kredit korporasi. Pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dari perkiraan membuat perusahaan berpotensi menghasilkan lebih banyak keuntungan, sekaligus menurunkan risiko kredit.
Kedua adalah Falling Growth, yang sering kali berpihak pada obligasi pemerintah. Saat laju pertumbuhan ekonomi melambat, bank sentral cenderung menurunkan suku bunga, yang berdampak pada kenaikan harga obligasi.
Ketiga adalah Falling Inflation. Lingkungan dengan inflasi rendah umumnya mendukung kinerja baik saham maupun obligasi. Inflasi yang terkendali memungkinkan bank sentral menjaga likuiditas tetap longgar, sehingga turut menopang harga aset.
Terakhir, dan menjadi sorotan Dalio, adalah Rising Inflation. Lingkungan ini disebutnya sebagai tantangan terbesar bagi portofolio tradisional. Sebagian besar portofolio yang dirancang untuk keseimbangan justru sangat bergantung pada aset yang berkinerja baik di tiga lingkungan sebelumnya.
Contoh Aset Lindung Nilai Inflasi
Untuk menghadapi tantangan inflasi, Dalio menyarankan investor untuk mempertimbangkan aset lindung nilai inflasi. Aset-aset ini cenderung memiliki kinerja baik ketika nilai uang menurun.
Salah satunya adalah komoditas. Sebagai input fundamental ekonomi global, kenaikan harga komoditas sering kali berkorelasi langsung dengan peningkatan biaya hidup dan inflasi. Oleh karena itu, komoditas dapat berfungsi sebagai penyeimbang dalam portofolio.
Emas juga menjadi aset yang kerap dipandang sebagai ‘asuransi portofolio’ terhadap devaluasi mata uang. Dalio mencontohkan era 1970-an, di mana emas menjadi salah satu aset yang tetap kuat di tengah gejolak pasar keuangan akibat ‘Oil Shock’.
Bagi investor yang mencari keamanan dari utang pemerintah namun tetap waspada terhadap inflasi, obligasi terkait inflasi seperti US Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) bisa menjadi alternatif. Nilai pokok obligasi ini disesuaikan dengan indeks inflasi, sehingga membantu menjaga daya beli riil investor.
Hal yang Perlu Diperhatikan Investor
Dalio mengingatkan investor untuk meninjau kepemilikan aset mereka saat ini, khususnya seberapa besar ketergantungan portofolio pada kondisi ‘inflasi rendah’. Ia juga mendorong eksplorasi diversifikasi lebih lanjut, seperti alokasi strategis ke komoditas atau emas, guna meningkatkan konsistensi portofolio.
Terakhir, Dalio menyarankan penerapan pola pikir ‘musim’ investasi. Alih-alih berfokus memprediksi masa depan, investor sebaiknya memastikan portofolio mereka siap menghadapi berbagai ‘musim’ ekonomi yang mungkin terjadi dan perubahan yang tak terduga.