Sejumlah analis di Wall Street tetap menunjukkan pandangan optimistis terhadap pergerakan harga emas pada pekan mendatang. Meskipun demikian, risiko penurunan atau skenario bearish tetap menjadi antisipasi yang diperhitungkan.
Marc Chandler, direktur pelaksana di Bannockburn Global Forex, memperkirakan harga emas akan mengalami kenaikan dalam minggu depan. Menurutnya, penurunan suku bunga oleh Federal Reserve memicu pergerakan harga emas yang positif menjelang akhir pekan, bahkan berhasil membawanya kembali ke level US$ 4.200.
“Pergerakan (harga emas) di atas kisaran US$ 4.280-US$ 4.300 per troy ounce akan meningkatkan keyakinan bahwa titik terendah harga telah tercapai,” ujarnya.
Sementara itu, Adam Button, kepala strategi mata uang di investingLive, mengambil posisi netral pada prospek harga emas. Ia melihat penurunan harga saat ini justru memperluas peluang beli bagi investor, yang pada akhirnya dapat memulihkan posisi emas.
“Saya sedang mencari peluang beli pada bulan Oktober sebelum periode musiman yang kuat antara bulan November hingga Januari dimulai,” ucap Button.
Pergerakan harga emas pada minggu ini memang dilaporkan mengalami penurunan tajam. Hal ini disebabkan oleh tekanan awal akibat kenaikan imbal hasil obligasi Treasury, penguatan dolar Amerika Serikat, dan kembalinya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang mengalahkan permintaan aset safe-haven.
Harga emas spot diperdagangkan senilai US$ 4.277,90 per troy ounce pada Minggu malam. Sebelumnya, sempat terjadi lonjakan momentum singkat hingga mencapai level tertinggi mingguan di US$ 4.280,56 per troy ounce pada hari Senin sebelum tekanan jual mengambil alih pasar.
Presiden dan COO Asset Strategies International, Rich Checkan, juga mempertahankan proyeksi optimistis untuk harga emas pekan ini. Checkan mengakui bahwa penguatan dolar AS dan imbal hasil Treasury yang lebih tinggi memberikan tekanan pada harga emas.
Namun, data ketenagakerjaan yang dilaporkan lebih lemah memberikan sedikit angin segar bagi emas. Pelaku pasar menafsirkan data tersebut, ditambah dengan komentar Presiden The Fed New York, Williams, bahwa tidak ada urgensi untuk menaikkan suku bunga. “Akibatnya, harga emas seharusnya akan sedikit melonjak,” tambahnya.
Perubahan Pandangan Analis Wall Street Soal Harga Emas
Dalam survei yang dilakukan oleh Kitco News, sebanyak 13 analis berpartisipasi. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir separuh dari kalangan Wall Street bersikap bearish setelah emas gagal mempertahankan momentum kenaikannya.
Hanya tiga ahli atau 23% dari analis Wall Street yang disurvei Kitco News memperkirakan harga emas akan menguat pekan depan. Sementara itu, enam analis lainnya (46%) memprediksi logam mulia ini akan kembali turun. Empat analis sisanya (31% dari total) menyatakan tidak dapat memprediksi arah pergerakan emas atau memperkirakan pergerakan harga yang cenderung mendatar atau sideways pekan depan.
Perbedaan pandangan juga terlihat pada kalangan pedagang ritel. Sebanyak 85 pedagang ritel (47%) memperkirakan harga emas akan naik pekan depan. Sebaliknya, 60 lainnya (33%) memprediksi logam mulia ini akan melemah. Sebanyak 37 investor sisanya (20% dari total) memperkirakan pergerakan harga yang mendatar selama pekan mendatang.