TANGERANG – Membangun usaha makeup artist (MUA) freelance kini dapat dilakukan oleh Generasi Z hanya dengan berbekal keterampilan merias dan seperangkat kuas. Usaha ini tidak memerlukan salon atau studio permanen, karena layanan rias dapat dilakukan secara mobile langsung di rumah pelanggan atau lokasi acara seperti wisuda, lamaran, pernikahan, dan pemotretan.
Profesi MUA freelance merupakan bentuk usaha jasa yang sangat mengandalkan keterampilan individu. Modal awal yang dibutuhkan dapat disesuaikan dengan skala usaha, mulai dari kosmetik, kuas, hingga perlengkapan pendukung lainnya. Seiring bertambahnya pelanggan, peralatan tersebut dapat menjadi aset yang menunjang aktivitas bisnis.
Namun, menjalankan usaha MUA tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan merias. Pelaku usaha juga dituntut untuk memahami aspek pemasaran, teknologi digital, membangun jaringan pelanggan, serta pengelolaan keuangan yang baik.
Siti Azizah, Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM RI, menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan Entrepreneur Hub Terpadu. Menurut Siti, menjadi wirausaha saat ini membutuhkan lebih dari sekadar keberanian dan intuisi. “Menjadi wirausaha hari ini tidak cukup hanya bermodal keberanian dan intuisi. Diperlukan inovasi, pemahaman teknologi digital, jejaring yang kuat, serta literasi finansial,” katanya.
Pernyataan tersebut sangat relevan bagi MUA freelance yang ingin mengubah keterampilan merias menjadi bisnis yang berkelanjutan. Media sosial dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menampilkan portofolio, membangun personal branding, sekaligus menjangkau calon pelanggan potensial. Sementara itu, pencatatan keuangan yang cermat diperlukan untuk mengetahui secara pasti biaya operasional dan keuntungan yang diperoleh dari usaha.
Entrepreneur Hub Kementerian UMKM juga menyediakan panduan bagi calon pelaku usaha dalam menyusun rencana bisnis yang matang, termasuk melakukan riset pasar dan memahami secara mendalam calon konsumen.
Ilustrasi Penghasilan MUA Freelance
Di Indonesia, pekerja lepas atau freelancer, termasuk MUA, cenderung digolongkan sebagai pekerja informal yang jumlahnya terus mengalami peningkatan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pekerja informal meningkat dari 86,58 juta orang pada Februari 2025 menjadi 87,74 juta orang pada Februari 2026.
Sebagai pekerja informal, pendapatan yang tidak tetap dan cenderung fluktuatif menuntut pengelolaan keuangan yang ketat. Penghasilan MUA freelance sangat bergantung pada jumlah pelanggan, tarif jasa yang dipasang, jenis makeup yang ditawarkan, serta biaya operasional yang dikeluarkan. Sebagai ilustrasi sederhana, MUA yang memasang tarif Rp 300.000 per pelanggan dan berhasil mendapatkan 10 pelanggan dalam satu bulan akan menghasilkan omzet kotor sekitar Rp 3 juta.
Jika jumlah pelanggan meningkat menjadi 20 orang dengan tarif yang sama, omzetnya bisa mencapai sekitar Rp 6 juta per bulan. Namun, angka tersebut belum merupakan keuntungan bersih karena masih harus dikurangi berbagai biaya, seperti biaya kosmetik, transportasi, perawatan alat, dan kebutuhan operasional lainnya.
Angka tersebut merupakan simulasi untuk menggambarkan potensi omzet, bukan data resmi mengenai rata-rata pendapatan MUA freelance. BPS memang menyediakan statistik pendapatan pekerja informal berdasarkan lapangan pekerjaan, tetapi profesi MUA tidak disajikan secara khusus sebagai kategori pendapatan tersendiri dalam data tersebut.
Keterkaitan dengan Ekonomi Kreatif
Pekerjaan MUA juga sangat berkaitan erat dengan ekosistem ekonomi kreatif karena mengandalkan kreativitas dan keterampilan sumber daya manusia. Dalam laporan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Baparekraf, jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif tercatat mencapai 21,90 juta orang pada tahun 2021, yang mengacu pada data Sakernas BPS.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa subsektor fesyen menyerap sekitar 4,26 juta tenaga kerja pada tahun yang sama. Data ini tidak berarti seluruh pekerja fesyen adalah MUA, namun menunjukkan besarnya ekosistem pekerjaan yang berkaitan erat dengan kreativitas, penampilan, dan industri kreatif secara umum.
Pada akhirnya, menjadi MUA freelance bukan hanya tentang memiliki kuas dan kosmetik. Keterampilan merias dapat menjadi modal produktif ketika dipadukan dengan kemampuan digital, jaringan pelanggan yang luas, strategi pemasaran yang efektif, dan literasi keuangan yang memadai. Bagi Generasi Z, kombinasi tersebut membuka ruang yang luas untuk mengembangkan keterampilan pribadi menjadi jasa yang dapat bertumbuh secara bertahap dan berkelanjutan.