PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencatat pertumbuhan laba bersih yang signifikan hingga Agustus 2026. Laba bersih perseroan mencapai Rp 5,30 triliun pada periode Januari-Agustus 2026, menunjukkan peningkatan sebesar 10,07% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).
Pencapaian ini didukung oleh kinerja intermediasi yang kuat, meliputi penyaluran pembiayaan dan penghimpunan dana. Selain itu, biaya provisi yang rendah turut berkontribusi, meskipun rasio imbalan mulai mengalami normalisasi seiring penyesuaian biaya dana.
Hingga Agustus 2026, penyaluran pembiayaan BSI tercatat tumbuh 16,24% yoy menjadi Rp 343,75 triliun. Mayoritas lini bisnis pembiayaan menunjukkan tren positif, kecuali sewa pembiayaan yang sedikit menurun. Angka ini merupakan capaian pembiayaan tertinggi BSI dalam setahun terakhir dan sesuai dengan target tahunan (FY26) yang diproyeksikan tumbuh 12-15%.
Pendapatan dari pembiayaan tersebut mencapai Rp 20,39 triliun, naik 4,07% yoy. Sementara itu, bagi hasil untuk pemilik dana mengalami sedikit penurunan tipis 0,16% yoy menjadi Rp 6,12 triliun, mengindikasikan adanya lonjakan bertahap pada biaya dana (cost of fund/CoF) bank syariah terbesar di Indonesia ini.
Akibatnya, pendapatan setelah distribusi hasil BSI tertahan dengan pertumbuhan 5,99% yoy menjadi Rp 14,27 triliun hingga Agustus 2026. Sebelumnya, pos ini sempat mencatat pertumbuhan hingga 16,57% pada Februari 2026.
Upaya BSI untuk menyeimbangkan perolehan imbal hasil (yield) dan menjaga biaya dana menjadi semakin krusial. Net imbalan (NI) BSI tercatat sebesar 4,93% hingga Agustus 2026, masih di bawah target >5,5% untuk FY26.
Namun, tekanan pada profitabilitas akibat lonjakan biaya dana dapat diredam oleh perolehan komisi atau fee yang melonjak signifikan sebesar 49,27% yoy menjadi Rp 2,24 triliun.
Kualitas aset BSI juga tetap terjaga dengan baik, tercermin dari penurunan biaya provisi sebesar 22,14% menjadi Rp 1,31 triliun. Rasio cost of financing tetap rendah pada angka 0,60%, jauh di bawah target <0,86%.
Likuiditas Memadai
Perkembangan pembiayaan BSI juga didukung oleh sisi pendanaan yang solid. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 17,71% yoy menjadi Rp 389,02 triliun per Agustus 2026.
Komposisi DPK menunjukkan pertumbuhan pada giro sebesar Rp 74,48 triliun (+29,55% yoy) dan tabungan sebesar Rp 171,30 triliun (+20,67% yoy). Deposito tercatat sebesar Rp 143,24 triliun (+9,30% yoy).
Pertumbuhan dana murah (current account saving account/CASA) mencapai Rp 245,78 triliun atau naik 23,23% yoy, menjadi kontributor utama perkembangan DPK. Rasio CASA terjaga di level 63,18%.
Dari sisi likuiditas, indikator financing to deposit ratio (FDR) relatif memadai dengan posisi 88,36% per Agustus 2026, bahkan lebih baik dibandingkan 89,48% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada perdagangan Jumat (25/9/2026), saham BRIS terkontraksi 50 poin atau 3,21% menjadi 1.510. Saham BRIS juga tercatat turun 32,29% year to date (ytd).