Pengembangan kopi asal Mandalagiri, Garut, Jawa Barat, kini berfokus pada pengolahan pascapanen untuk mendongkrak nilai tambah bagi petani dan memperluas jangkauan pasar. Inisiatif ini dijalankan oleh keluarga petani kopi Mandalagiri bersama Roemah Koffie melalui pengembangan kopi single origin Cing Cangkeling.
Pendekatan ini menjadi krusial mengingat mayoritas industri kopi nasional masih didominasi oleh petani skala kecil. Data pemerintah menunjukkan lebih dari 95% produksi kopi nasional dikelola oleh sekitar 1,2 juta keluarga petani. Pada tahun 2024, produksi kopi Indonesia mencapai sekitar 813 ribu ton, dengan nilai ekspor pada 2025 diproyeksikan mencapai US$2,513 miliar dari volume 511.182 ton. Besarnya pasar ini membuka peluang ekonomi yang signifikan, namun kemampuan petani dalam menghasilkan kopi bernilai tambah menjadi kunci rantai industri.
Chief Executive Officer (CEO) Roemah Koffie, Felix TJ, mengungkapkan bahwa produksi kopi yang dikembangkan bersama keluarga petani Mandalagiri saat ini masih terbatas, di bawah 500 kilogram. Oleh karena itu, peningkatan lahan dan perbanyakan bibit menjadi prioritas sebelum menjajaki pasar yang lebih luas, termasuk ekspor. “Untuk sampai ke ekspor, quantity harus lebih besar lagi. Padahal totalnya sekarang belum sampai 500 kilogram,” ujar Felix di Jakarta.
Ia menambahkan bahwa peningkatan produksi diperlukan untuk mendukung pengembangan pasar yang berkelanjutan, sambil tetap menjaga kualitas kopi.
Dari Penjualan Ceri ke Pascapanen
Kopi Mandalagiri berasal dari kebun keluarga yang dirintis sejak 2009. Roby Siswanda, salah satu anggota keluarga, mulai mempelajari pengolahan pascapanen secara mandiri dan bereksperimen sejak sekitar 2020. Sebelumnya, keluarga hanya menjual hasil panen dalam bentuk ceri dengan harga sekitar Rp7.000 per kilogram, membuat pendapatan sangat bergantung pada volume panen dan harga saat transaksi.
“Kalau hasil panen hanya dijual mentah, ya sampai uang saja. Tidak ada cerita dan nilai lain yang bisa dikembangkan untuk kesejahteraan keluarga,” tutur Roby.
Dorongan untuk mencari nilai tambah membawa Roby mendalami berbagai metode pengolahan kopi menggunakan peralatan terbatas dan informasi yang sebagian besar diperoleh melalui telepon genggam. Eksperimen awal dilakukan dengan 10 kilogram hasil kebun, kemudian dikembangkan dengan beberapa metode fermentasi.
Felix menyoroti pengalaman Roby sebagai contoh bagaimana teknologi, seperti telepon genggam, membantu generasi muda memperoleh pengetahuan baru, termasuk teknik fermentasi anaerobik, tanpa meninggalkan basis usaha keluarga. Roby kemudian mengembangkan metode pengolahan seperti Red Anaerob dan Classic Natural.
Salah satu varietas yang digunakan adalah Yellow Bourbon, yang ditanam pada ketinggian 1.500-1.600 meter di atas permukaan laut. Untuk Cing Cangkeling, biji kopi diproses dengan metode Classic Natural, menghasilkan profil rasa yang mencakup stone fruit, anggur, beri, dan gula merah.
Nilai Tambah dan Arus Kas Petani
Perubahan pola pengolahan memberikan alternatif baru bagi keluarga petani. Proses pascapanen memungkinkan kopi dipasarkan dalam bentuk dengan nilai ekonomi lebih tinggi, berbeda dengan penjualan ceri yang memberikan pembayaran cepat untuk kebutuhan operasional.
Namun, pengolahan pascapanen membutuhkan waktu lebih panjang, modal kerja, serta kemampuan mengelola kualitas sebelum produk siap dipasarkan. Keluarga petani kini memiliki pemahaman lebih besar mengenai nilai kopi pada setiap tahapan produksi.
Peningkatan nilai tambah di tingkat petani tidak hanya bergantung pada metode pengolahan, tetapi juga pada akses modal, pengetahuan, pasar, dan kemampuan menanggung periode tunggu yang lebih panjang. Regenerasi petani kopi juga menjadi tantangan, karena ekosistem kopi perlu memiliki nilai ekonomi yang relevan bagi generasi berikutnya.
Diferensiasi untuk Memperluas Pasar
Selain pengolahan pascapanen, diferensiasi varietas menjadi strategi penting untuk meningkatkan posisi produk di pasar kopi spesialti. Varietas Yellow Bourbon yang digunakan pada Cing Cangkeling masih relatif terbatas dibandingkan varietas kopi berbuah merah.
Roemah Koffie memasarkan hasil kebun ini dalam bentuk roasted beans kemasan 200 gram secara musiman dalam jumlah terbatas. Pendekatan ini melanjutkan strategi yang sebelumnya diterapkan pada produk Cublak Suweng, yang memadukan kopi Gayo (Aceh) dan Temanggung (Jawa Tengah) dengan identitas asal, cerita budaya, dan profil rasa.
Cing Cangkeling melanjutkan pendekatan tersebut dengan fokus pada kopi single origin dari Mandalagiri dan cerita keluarga petani di baliknya. Tantangan bisnis berikutnya adalah memperbesar kapasitas pasokan agar perluasan pasar tidak terbatas pada volume kecil.
Felix menjelaskan rencana pengembangan mencakup penambahan lahan dan perbanyakan bibit. Peningkatan kuantitas produksi menjadi prasyarat sebelum penetrasi pasar yang lebih besar. Ia menekankan bahwa pertumbuhan industri kopi tidak cukup diukur dari peningkatan penjualan semata.
“Kalau pertumbuhan hanya berarti menjual lebih banyak kopi, tetapi petani tetap menghadapi risiko yang sama, kapasitas di daerah asal tidak berkembang, dan proses dipercepat dengan mengurangi standar, maka pertumbuhan tersebut belum tentu memperkuat ekosistem,” tuturnya.
Bagi keluarga Roby, pengembangan ini membuka peluang agar hasil kebun tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas mentah, tetapi memiliki identitas asal, proses, dan nilai yang lebih mudah ditelusuri konsumen.