BANDUNG – Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, telah berhasil mengembangkan model bisnis ekosistem pertanian yang terstruktur, menghubungkan langsung para petani dengan pasar ritel modern. Inisiatif ini tidak hanya menjamin penyerapan produk dan pembayaran yang pasti bagi petani, tetapi juga mendorong kemandirian operasional pesantren.
Ketua Pengurus Koperasi Al-Ittifaq, Setia Irawan, menjelaskan bahwa pembentukan koperasi ini berawal dari kebutuhan pesantren untuk mandiri secara finansial dalam menunjang operasional pendidikan gratis bagi santrinya. Seiring waktu, penguatan ekosistem pertanian menjadi fokus utama dengan memastikan kebutuhan akses pasar sebagai acuan utama dalam setiap proses produksi.
Koperasi Al-Ittifaq proaktif dalam memperoleh informasi mengenai kebutuhan komoditas dan volume dari pasar ritel. Informasi ini kemudian digunakan untuk mengatur pola tanam bersama para petani. “Jadi hulunya dan hilirnya jelas. Kami tahu pasar membutuhkan apa, berapa volumenya, kemudian kami atur bersama petani apa yang harus ditanam. Dengan begitu petani tidak menanam tanpa kepastian pasar,” ujar Setia.
Model bisnis ini menempatkan koperasi tidak hanya sebagai penghimpun dan penjual hasil pertanian, tetapi juga sebagai offtaker yang menyerap langsung produk petani. Salah satu prinsip kunci yang dijaga adalah pembayaran langsung kepada petani tanpa tenggang waktu. “Petani kami dibayar langsung, tidak tempo. Karena kalau koperasi menerima pembayaran dari pasar kemudian petani harus menunggu, itu akan mengganggu cash flow petani,” jelas Setia.
Saat ini, Al-Ittifaq telah memasok berbagai komoditas pertanian, mulai dari sayuran, buah-buahan, hingga rempah-rempah, ke berbagai segmen pasar. Pelanggan meliputi ritel modern, hotel, restoran, katering, hingga kebutuhan dapur pusat. Jumlah petani yang tergabung dalam ekosistem Al-Ittifaq pun meningkat signifikan dari sekitar 120 menjadi 280–300 petani, dengan peningkatan volume produksi harian dari 1,7–2 ton menjadi 7–8 ton.
Penguatan kapasitas koperasi ini juga didukung oleh kebutuhan modal kerja untuk menjaga keberlanjutan rantai pasok. Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi telah menjadi mitra penting sejak 2014, dengan pembiayaan pertama terjadi pada 2020 di tengah pandemi. Dana bergulir ini, menurut Setia, sangat membantu memperkuat kapasitas keuangan koperasi, memungkinkan pembelian kebutuhan petani seperti pupuk dalam jumlah besar dengan harga lebih kompetitif, serta menjaga kemampuan menyerap hasil produksi petani.
Setia menekankan pentingnya hubungan yang lebih dari sekadar transaksi jual beli antara koperasi dan petani. Al-Ittifaq terus mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas melalui pengembangan teknologi pertanian, termasuk pemanfaatan greenhouse, untuk memastikan produk memenuhi standar pasar.
Dalam usahanya menembus pasar ritel modern seperti Super Indo dan Yogya, Al-Ittifaq menghadapi tuntutan kualitas, kontinuitas pasokan, keamanan pangan, dan pemenuhan standar. Hal ini menjadi krusial dalam membangun kepercayaan pasar serta meningkatkan kapasitas petani dan koperasi.
Ke depan, Al-Ittifaq berharap kemitraan dengan LPDB Koperasi dapat meluas, tidak hanya pada dukungan pembiayaan, tetapi juga akses pasar, business matching, dan pembukaan jejaring usaha. “Kami berharap LPDB bukan hanya menjadi lembaga pembiayaan, tetapi juga bisa menjadi jembatan untuk mempertemukan koperasi dengan pasar. Karena kebutuhan koperasi bukan hanya modal, tetapi juga bagaimana produk kami bisa terserap dan berkembang,” ujar Setia.
Pengalaman Al-Ittifaq membuktikan bahwa penguatan koperasi, petani, pembiayaan, dan pasar dalam satu ekosistem dapat berjalan sinergis. Koperasi bertindak sebagai penghubung vital antara kebutuhan pasar dan kemampuan produksi petani, dengan dukungan pembiayaan sebagai instrumen kunci keberlanjutan rantai pasok. Bagi LPDB Koperasi, model ekosistem terpadu seperti ini sejalan dengan upaya memperluas dampak positif dana bergulir pada pengembangan usaha koperasi dan sektor riil.