Kemenkes Bantah “Super Flu” dan Imbau Warga Tak Panik Hadapi Lonjakan Influenza

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat lonjakan kasus influenza di Indonesia hingga akhir September 2026, dengan 1.527 kasus positif terdeteksi. Sebaran tertinggi ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Meskipun demikian, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan menghentikan pembelian obat antivirus oseltamivir secara berlebihan. Kemenkes menegaskan bahwa influenza umumnya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri atau self-limiting disease. Mengonsumsi oseltamivir tanpa resep dokter tidak bermanfaat dan berpotensi membahayakan, terutama bagi anak-anak.

Kepanikan publik sebagian besar dipicu oleh beredarnya rumor mengenai varian baru ‘super flu’ atau influenza A H3N2 subclade K. Namun, Kemenkes dengan tegas membantah isu tersebut. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, dr. Andi Saguni, menjelaskan bahwa tren peningkatan kasus saat ini merupakan siklus musiman tahunan yang lazim terjadi di negara-negara ASEAN pada bulan September.

Secara nasional, positivity rate tahun ini sebesar 17% tercatat lebih rendah dibandingkan periode 2025 yang mencapai 24%. “Istilah ‘super flu’ tidak dikenal dalam nomenklatur resmi WHO maupun Kemenkes. Istilah awam itu merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K, yang justru kasusnya di Indonesia menurun drastis,” terang dr. Andi.

Ia memaparkan, sepanjang 2026, varian tersebut hanya ditemukan 22 kasus, anjlok dibandingkan 166 kasus pada 2025. “Jadi untuk kasus influenza yang positif di tahun 2026 secara total sebanyak 1.527 kasus. Tipe influenza A H1N1 PDM09 adalah yang terbanyak. Kalau kita lihat secara riil jumlah kasus dan proporsi positivity rate, yang terbanyak jelas mengepung DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten,” tegasnya.

Kemenkes Respons Lonjakan Permintaan Oseltamivir

Menanggapi tingginya permintaan oseltamivir di pasaran, Kemenkes memberikan respons. Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalucia, mengingatkan bahwa oseltamivir didistribusikan khusus untuk pasien dengan gejala berat dan kelompok berisiko tinggi di 196 rumah sakit, bukan untuk konsumsi harian masyarakat.

“Oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau diminum untuk berjaga-jaga tanpa penilaian medis. Obat ini hanya boleh diberikan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter, terutama untuk pasien influenza berat yang dirawat di rumah sakit,” tegas Lucia.

Ia juga menambahkan agar masyarakat lebih rasional dalam merespons situasi. “Yang perlu dilakukan masyarakat bukanlah membeli obat sebanyak-banyaknya, melainkan mengenali gejala, memahami tanda bahaya, dan mencari pertolongan pada waktu yang tepat.”

Sembuh Sendiri, Waspadai Efek Samping

Dari kacamata medis, mayoritas pasien influenza tidak membutuhkan antivirus. Dokter Konsultan Pulmonologi Intervensi dan Kegawatdaruratan Napas, Pompini Agustina Sitompul, memastikan bahwa flu biasa dapat sembuh hanya dengan istirahat yang cukup dan hidrasi yang baik. Antivirus hanya diberikan bagi pasien yang membutuhkan bantuan oksigen atau kelompok rentan.

Lebih lanjut, pemberian oseltamivir tanpa indikasi pada anak-anak justru dapat memicu efek samping. Ahli Farmakologi Dewi Selvina Rosdiana memaparkan hasil studi pada 2.500 pasien anak rawat jalan. Hasilnya, antivirus tersebut hanya memperpendek durasi sakit kurang dari satu hari, namun membawa risiko kesehatan lain.

“Secara klinis, belum terdapat bukti yang cukup kuat bahwa Oseltamivir memberikan manfaat bermakna dalam memperpendek lama sakit pada anak dengan influenza tanpa komplikasi. Justru, risiko efek samping muntah pada anak yang mengonsumsi Oseltamivir mencapai 1,6 kali lebih tinggi,” papar Dewi memperingatkan.

Sebagai bentuk mitigasi, Kemenkes tidak menganjurkan penggunaan antibiotik kecuali terbukti ada infeksi bakteri. Masyarakat diminta kembali menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), rutin mencuci tangan, wajib memakai masker di keramaian saat sakit, serta segera melengkapi vaksinasi influenza tahunan.

Tinggalkan komentar