Indonesia Re: Bisnis Kesehatan Dominasi Portofolio Reasuransi Jiwa

BELITUNG – PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re mengumumkan bahwa lini bisnis kesehatan menjadi penopang utama portofolio reasuransi jiwa perseroan. Diproyeksikan pada tahun 2025, bisnis kesehatan, yang mencakup Group Health dan Individual Health, akan berkontribusi sebesar 67% terhadap total portofolio reasuransi jiwa.

Kontribusi yang signifikan ini mencerminkan perkembangan pesat bisnis asuransi kesehatan dan pengaruhnya yang besar terhadap kinerja keseluruhan portofolio reasuransi jiwa Indonesia Re. Fenomena ini menjadi salah satu topik sentral dalam Indonesia Re Actuarial & Operational Seminar (IAS & IOS) 2026 yang diselenggarakan di Belitung pada 23-25 September 2026.

Acara yang memasuki tahun keempat penyelenggaraan IAS ini menjadi ajang pertemuan bagi para profesional di bidang aktuaria dan underwriting dari berbagai perusahaan asuransi atau ceding companies. Dengan tema ‘Sustaining Life & Health Insurance Through Deeper Insights and Catastrophe Resilience’, forum ini mendiskusikan perkembangan pasar reasuransi serta merumuskan strategi untuk menghadapi profil risiko industri yang kian kompleks.

Risiko Industri Semakin Kompleks

Direktur Utama Indonesia Re, Robbi Yanuar Walid, menyatakan bahwa perubahan profil risiko menuntut perusahaan asuransi dan reasuransi untuk tidak hanya fokus pada kecukupan kapasitas, tetapi juga meningkatkan kemampuan dalam memahami, mengukur, dan mengelola risiko secara lebih akurat.

“Yang perlu kita gali bersama adalah apa yang benar-benar dibutuhkan industri dan bagaimana Indonesia Re dapat memberikan dukungan yang tepat. Dengan memahami kebutuhan pasar secara langsung, kita dapat mengembangkan solusi yang lebih relevan sekaligus memperkuat kapasitas industri dalam menghadapi perubahan risiko ke depan,” ujar Robbi dalam keterangan pers, Senin (5/10/2026).

Data Indonesia Re menunjukkan bahwa pada periode 2022-2024, bisnis kesehatan telah menyumbang lebih dari separuh total portofolio reasuransi jiwa, dengan kisaran kontribusi antara 53% hingga 67%. Angka ini diproyeksikan mencapai 67% pada tahun 2025.

Dominasi bisnis kesehatan ini menjadikan penguatan kualitas portofolio sebagai prioritas, terutama di tengah dinamika perubahan risiko yang dihadapi oleh industri asuransi.

Peningkatan Kesiapan Menghadapi Risiko

Kepala Departemen Aktuaria Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asep Suwondo, menekankan pentingnya industri asuransi untuk meningkatkan kesiapan dalam menghadapi perubahan risiko yang semakin cepat dan kompleks.

Faktor-faktor seperti perubahan iklim, perkembangan teknologi dan digitalisasi, pergeseran demografi, dinamika biaya layanan kesehatan, serta kondisi ekonomi dan geopolitik global menjadi pertimbangan krusial bagi perusahaan asuransi.

“Pertanyaannya bukan hanya seberapa besar modal yang kita miliki hari ini, tetapi apakah modal tersebut cukup ketika risiko yang kita hadapi berubah secara signifikan. Karena itu, penguatan data, analisis aktuaria, tata kelola, dan permodalan menjadi fondasi penting untuk menjaga ketahanan industri,” kata Asep.

Robbi menambahkan bahwa penguatan industri reasuransi harus dimulai dari pemahaman yang mendalam terhadap kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh perusahaan asuransi. Melalui forum IAS & IOS 2026, Indonesia Re berupaya mendorong kolaborasi dengan para ceding companies guna memperkuat kapasitas dan ketahanan industri asuransi nasional.

“Kami ingin membangun kolaborasi yang lebih erat dengan seluruh stakeholder industri. Kami terbuka untuk mendengarkan kebutuhan pasar dan bersama-sama mencari solusi yang dapat memperkuat kapasitas serta ketahanan industri asuransi nasional,” tutup Robbi.

Tinggalkan komentar