Indonesia menunjukkan keseriusan dalam mempercepat transisi energi guna memperkuat ketahanan energi nasional dan memenuhi target iklim internasional. Energi surya diprioritaskan dalam pengembangan energi terbarukan di tanah air, menawarkan peluang besar untuk perluasan pembangkitan listrik sekaligus penguatan industri domestik. Untuk mewujudkan ambisi ini, Indonesia berupaya menyelaraskan kerangka kebijakan, kesiapan industri, dan struktur pembiayaan agar sesuai dengan ekspektasi investor global.
Menyadari kebutuhan kolaborasi lintas sektor, Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) dan Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York, bersama mitra strategis Tenggara Strategics dan SANARA, menyelenggarakan Indonesia Solar Investment Forum 2026. Acara ini digelar pada 24 September di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York, bertepatan dengan Climate Week NYC.
Forum ini menjadi wadah dialog antara pembuat kebijakan, investor global, lembaga keuangan, dan mitra pembangunan internasional. Diskusi yang berlangsung menyoroti berbagai tantangan dalam pendanaan energi surya, menghubungkan peluang investasi dengan pemilik modal, serta membangun kemitraan untuk mempercepat implementasi energi surya di seluruh Indonesia.
Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari, menekankan pentingnya kemitraan global untuk mencapai target surya nasional sebesar 100 GWp. “Target 100 GWp adalah mandat kerja langsung, dan peluang bagi investor sudah terbuka saat ini. Kita memiliki proyek skala utilitas seperti program Mentari 1 dan Mentari 2 yang menawarkan 2,7 GWp, bersama dengan tender elektrifikasi pedesaan yang menyasar lebih dari 600 desa tahun depan. Kami secara aktif mencari mitra global untuk memobilisasi modal swasta dalam skala besar dan mengubah deretan proyek nyata ini menjadi kenyataan,” ujar Mada.
Memperkuat Keekonomian Proyek dan Investasi AS
Dalam diskusi panel, dibahas strategi Indonesia memposisikan portofolio energi suryanya sebagai peluang investasi yang kompetitif di pasar global. Topik yang dikupas mencakup keekonomian proyek, kepastian regulasi, tren teknologi, dan persyaratan yang dibutuhkan investor internasional sebelum menyalurkan dana. Diskusi ini bertujuan menjembatani prioritas pembangunan Indonesia dengan kebutuhan komersial investor yang sedang membandingkan berbagai peluang di negara berkembang.
Bagi pengembang dan pemodal, hal ini berarti menghubungkan potensi energi terbarukan dengan persiapan proyek yang kredibel dan insentif yang jelas. Direktur IIPC New York, Tessal Febrian, menyoroti peran penting insentif investasi di Indonesia. Melalui IIPC, investor dapat lebih memahami insentif dan fasilitas yang tersedia untuk peluang investasi prioritas, termasuk energi terbarukan. Dengan mengurangi ketidakpastian seputar iklim investasi dan menyoroti dukungan yang tersedia, berbagai insentif ini dapat melengkapi aspek fundamental komersial yang dinilai investor saat memutuskan untuk mengembangkan atau mendanai sebuah proyek.
“Kami baru saja menerapkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025, yang dirancang khusus untuk menyederhanakan perizinan berusaha, mempercepat pengembangan industri, dan meningkatkan layanan bagi investor. Indonesia juga menyediakan insentif fiskal untuk mendukung investasi hijau, seperti tax allowance, pembebasan bea masuk, dan super tax deduction. Pada saat yang sama, kami menyadari bahwa kebijakan energi surya akan terus berkembang seiring dengan pertumbuhan pasar,” jelas Tessal.
Wakil Presiden di US-ASEAN Business Council, Mario Masaya, membagikan perspektif pelaku usaha AS yang mengevaluasi berbagai peluang di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Ia menekankan kondisi yang memungkinkan partisipasi sektor swasta, termasuk kejelasan regulasi, keterlibatan publik-swasta, dan hubungan kerja sama dengan mitra lokal.
“Bagi dunia usaha AS, ambisi surya Indonesia menciptakan peluang di berbagai lini mulai dari teknologi, infrastruktur, hingga layanan. Kebijakan yang jelas dan dialog publik-swasta yang berkelanjutan akan membantu perusahaan memahami di mana mereka dapat berkolaborasi dengan mitra lokal,” ungkap Masaya.
Mendorong Konektivitas
Penguatan ekosistem surya membutuhkan koneksi langsung antara pengembang proyek dan institusi pendana. Bersamaan dengan panel diskusi, forum ini juga mencakup sesi konsultasi bisnis tatap muka khusus bersama AESI dan IIPC New York. Sesi ini memberikan ruang bagi investor untuk menjajaki kebutuhan proyek, kondisi investasi, dan peluang kemitraan secara langsung dengan perwakilan Indonesia.
Diskusi tersebut menghubungkan agenda pembiayaan dengan kapabilitas yang dibutuhkan di dalam negeri. Deretan proyek yang lebih kuat sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, pengembang, penyedia teknologi, dan lembaga keuangan, serta kapasitas lokal untuk membangun dan mengoperasikan proyek-proyek tersebut. Mempertemukan para pelaku ini dapat membantu mengidentifikasi persyaratan komersial dan teknis sejak awal serta meningkatkan kesiapan proyek untuk menerima investasi internasional.
Dengan menghubungkan dialog kebijakan dan pencocokan investasi praktis, AESI, IIPC New York, dan para mitranya menyoroti langkah-langkah krusial untuk mengubah potensi surya Indonesia menjadi deretan proyek yang kredibel dan layak didanai. Prioritas utama adalah menerjemahkan minat investor menjadi proyek nyata yang dapat memperluas kapasitas energi terbarukan, sekaligus memperkuat industri domestik yang dibutuhkan untuk mempertahankan pembangunan dalam skala besar.