JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan sesi I, Kamis (1/10/2026). Indeks ditutup turun 50,44 poin atau 0,83% ke level 6.020, terhimpit oleh berbagai sentimen dari luar negeri maupun dalam negeri.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan bahwa tekanan pada IHSG hari ini merupakan gabungan dari perkembangan global dan kondisi ekonomi domestik. Di panggung internasional, bursa regional Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi, sementara bursa China dan Hong Kong diliburkan.
Pasar global masih mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah, khususnya pergerakan harga minyak mentah yang bertahan di atas US$ 90 per barel. Perhatian tertuju pada potensi pemulihan aliran minyak dari kawasan tersebut di tengah kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengonfirmasi bahwa Teheran telah menerima proposal AS terkait pembukaan kembali selat. Namun, pasar tetap menunjukkan kewaspadaan terhadap keberlanjutan pemulihan pasokan minyak jika tidak ada kesepakatan yang langgeng untuk mengakhiri konflik AS-Iran.
“Harga energi yang masih tinggi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kebijakan moneter lebih ketat dalam waktu lebih lama,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Kamis (1/10/2026).
Selain itu, pergerakan pasar juga masih dibayangi oleh tingginya imbal hasil (yield) obligasi AS dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) pada akhir Oktober. Investor juga mulai mencermati rilis laporan keuangan kuartal III-2026 dari sejumlah emiten.
Dari sisi domestik, Pilarmas menyoroti tingginya harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta memengaruhi arah kebijakan moneter.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi September 2026 sebesar 0,30% secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara kumulatif, inflasi sejak awal tahun mencapai 2,17%, sementara secara tahunan (year-on-year/yoy) tercatat sebesar 3,28%.
Inflasi Menjadi Sorotan
Pilarmas menilai inflasi tahunan yang bergerak mendekati batas atas sasaran 3,5% menjadi salah satu faktor krusial yang perlu dicermati investor. Sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) pada 2026 berada di kisaran 2,5% plus minus 1%.
“Kondisi tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga BI, terutama jika tekanan inflasi dari sektor energi terus berlanjut,” jelas Pilarmas.
Meskipun pasar menghadapi tekanan, sejumlah indikator ekonomi domestik justru menunjukkan tren perbaikan.
Indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada September 2026 tercatat naik menjadi 52,4, meningkat dari 49,8 pada Agustus. Angka ini kembali menembus zona ekspansi dan sekaligus mencatat level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. Penguatan ini didorong oleh kenaikan output, pesanan baru, dan ekspor.
Neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat surplus sebesar US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026. Surplus ini ditopang oleh nilai ekspor sebesar US$ 26,61 miliar yang lebih tinggi dibandingkan impor yang tercatat sebesar US$ 23,06 miliar.
“Pemulihan aktivitas manufaktur dan surplus perdagangan berpotensi menjadi penahan tekanan koreksi IHSG hari ini di tengah sentimen eksternal yang masih bergejolak.
Pada sesi I, saham MGNA, AKKU, CCSI, BLTZ, dan SAFE tercatat sebagai saham dengan kenaikan terbesar. Sebaliknya, saham SOSS, FORU, ALKA, KREN, dan GOTO menjadi saham dengan penurunan terbesar.
Di tengah tekanan IHSG, Pilarmas merekomendasikan beli untuk saham AADI. Area support saham AADI berada di level 11.000, sedangkan area resistance di 11.700.