Harga Emas Tertekan: Imbal Hasil Obligasi Naik, Dolar AS Menguat

Analis komoditas memandang ketahanan harga emas tengah menghadapi ujian berat. Penurunan harga yang mendorongnya ke level di bawah US$ 4.230 per troy ounce, lonjakan imbal hasil obligasi Treasury, dan penguatan dolar Amerika Serikat telah memicu aksi jual kembali. Dalam situasi ini, permintaan dari ETF (Exchange Traded Fund) menjadi satu-satunya penyeimbang utama.

Harga emas dunia memasuki bulan Oktober dalam tekanan signifikan setelah anjlok lebih dari 12% dari level tertinggi pada Agustus lalu. Pada Jumat (2/10/2026), harga emas tercatat naik tipis 0,02% ke level US$ 4.178,2 per troy ounce.

Menurut kepala strategi komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen, pergerakan harga emas di awal pekan mengindikasikan logam mulia ini menghadapi ujian yang semakin berat terkait kemampuannya mempertahankan permintaan investasi di tengah tingginya imbal hasil obligasi. “Kelemahan ini mencerminkan kombinasi dari lonjakan imbal hasil obligasi, penguatan dolar AS, dan aksi jual teknikal setelah penembusan level support yang kemungkinan diperparah oleh aksi ambil untung dari investor di China menjelang musim libur Golden Week,” tulis Hansen dalam catatannya.

Hansen menyoroti bahwa tekanan akibat suku bunga semakin sulit diabaikan. Imbal hasil riil obligasi AS tenor 10 tahun telah naik ke level tertinggi dalam 18 tahun, mendekati 2,85%. Prospek suku bunga Federal Reserve dalam jangka pendek kini memperhitungkan tiga kali kenaikan sebesar 25 basis poin hingga April 2027 mendatang.

Secara historis, kenaikan tajam dalam biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas, akan menjadi hambatan besar. Namun, grafik menunjukkan adanya divergensi penting. Kepemilikan ETF emas terus pulih meskipun terjadi kenaikan imbal hasil riil yang terus-menerus.

“Pertanyaan kuncinya adalah apakah permintaan ini dapat bertahan. Oleh karena itu, fokus akan tetap tertuju pada arus dana ETF, khususnya dari investor yang tampaknya kurang sensitif terhadap suku bunga dan lebih mengkhawatirkan konsekuensi finansial dari biaya pinjaman yang terus tinggi,” tambah Hansen.

Ia juga menyebutkan, meski imbal hasil yang lebih tinggi berdampak negatif terhadap emas melalui saluran penilaian tradisional, hal tersebut juga meningkatkan tekanan fiskal dan biaya pembayaran utang. Kondisi ini dapat memperkuat permintaan emas dalam jangka panjang sebagai perlindungan terhadap risiko finansial.

Tinggalkan komentar