Gen Z Unggul di Ekonomi Kreatif, Peluang Usaha Terbuka Lebar

Generasi Z kini memiliki banyak pilihan untuk membangun sumber penghasilan tanpa harus membuka toko fisik atau menyiapkan modal besar. Perkembangan pesat ekonomi kreatif (ekraf) dan teknologi digital telah membuka pintu bagi anak muda untuk mengubah keterampilan kreatif menjadi jasa bernilai ekonomi.

Berbagai bidang seperti event organizer (EO), desain grafis, fotografi, videografi, pengelolaan media sosial, animasi, hingga pembuatan konten digital kini menjadi ladang peluang bagi generasi muda.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sektor ekonomi kreatif berhasil menyerap 27,40 juta tenaga kerja pada tahun 2025. Angka ini mencapai 18,70% dari total tenaga kerja nasional, meningkat dari 26,48 juta orang atau 18,30% pada tahun sebelumnya. Dalam kurun waktu satu tahun, terjadi penambahan sekitar 920.000 tenaga kerja di sektor ini.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan bahwa tenaga kerja ekonomi kreatif memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja nasional. “Tahun 2025, tenaga kerja ekonomi kreatif memberikan sumbangsih sebesar 18,70 persen dari total tenaga kerja nasional, dimana jumlah tenaga kerja yang bekerja di bidang ekonomi kreatif adalah sebanyak 27,40 juta jiwa,” ujarnya.

Kementerian Ekonomi Kreatif juga mencatat bahwa lebih dari 50% tenaga kerja di sektor ini berusia di bawah 40 tahun. Hal ini menunjukkan dominasi dan keterlibatan besar generasi muda, termasuk Generasi Z, dalam memajukan ekraf.

Kontribusi Ekonomi Kreatif

Dari sisi ekonomi, BPS mencatat nilai produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif pada 2024 mencapai Rp 1.611,2 triliun. Angka ini setara dengan 7,28% dari PDB nasional, dengan pertumbuhan mencapai 6,57%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,03%.

Di sektor perdagangan, nilai ekspor ekonomi kreatif selama Januari hingga Oktober 2025 tercatat sebesar US$ 26,68 miliar, atau 11,96% dari total ekspor nonmigas nasional.

Besarnya aktivitas ekonomi kreatif ini menciptakan berbagai peluang bisnis berbasis jasa bagi anak muda. Salah satunya adalah usaha EO yang sangat dibutuhkan untuk berbagai jenis kegiatan, mulai dari seminar, festival, konser, acara komunitas, hingga peluncuran produk.

Bisnis EO dapat dijalankan dengan sistem kerja berbasis proyek. Pelaku usaha bisa membangun jaringan dengan para profesional lain seperti fotografer, videografer, dekorator, katering, hingga penyedia perlengkapan acara, sesuai dengan kebutuhan setiap kegiatan.

Selain EO, jasa digital juga menjadi peluang besar yang dapat dikembangkan oleh Generasi Z. Kemampuan di bidang desain, penyuntingan video, pengelolaan media sosial, pembuatan konten, dan animasi sangat dibutuhkan oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) maupun perusahaan besar yang memerlukan materi promosi digital.

Keterlibatan dalam Sensus Ekonomi 2026

Perkembangan sektor kreatif juga menjadi perhatian penting dalam persiapan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026). BPS berencana menyajikan gambaran yang lebih rinci mengenai pelaku usaha kreatif, mencakup berbagai bidang seperti kuliner, fesyen, gim, musik, film, desain, dan konten digital.

Dalam persiapan SE2026, BPS dan Kementerian Ekonomi Kreatif melibatkan animator muda dalam pembuatan Public Service Announcement (PSA). Amalia menjelaskan bahwa keterlibatan ini tidak hanya sebagai video sosialisasi, tetapi juga sebagai bentuk persahabatan antar lembaga dan ruang bagi talenta muda animasi nasional untuk menunjukkan kemampuannya. “Materi PSA ini bukan hanya video sosialisasi, melainkan sebagai token of friendship antar lembaga sekaligus membuat ruang bagi talenta muda animasi nasional untuk menunjukkan kemampuannya,” kata dia.

Secara regional, Jawa Barat memimpin sebagai provinsi dengan jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif terbanyak pada 2025, yaitu 6,24 juta orang. Bersama Jawa Tengah dan Jawa Timur, ketiga provinsi ini menyumbang 57,82% dari total tenaga kerja ekonomi kreatif di Indonesia.

Ekosistem yang besar ini memberikan kesempatan bagi Generasi Z untuk mengembangkan keterampilan menjadi layanan yang memiliki nilai ekonomi. Namun, kemampuan teknis saja tidak cukup. Kemampuan mengelola usaha, seperti menentukan harga, membuat kontrak kerja, menetapkan tenggat waktu, melakukan pencatatan keuangan, hingga membangun komunikasi yang baik dengan klien, juga sangat penting.

Dengan terus berkembangnya ekosistem ekonomi kreatif, EO dan jasa digital menjadi bentuk usaha yang sangat menjanjikan bagi Generasi Z. Peluang ini dapat dimulai dengan membangun portofolio yang kuat, memperluas jaringan profesional, dan mengambil proyek-proyek kecil sebelum berkembang menjadi bisnis dengan jangkauan yang lebih luas.

Tinggalkan komentar