Analis melihat harga emas menunjukkan kinerja yang tangguh meskipun berada di tengah tren imbal hasil obligasi yang tinggi. Kepala riset logam di Deutsche Bank, Daniel Ghali, mengakui bahwa lonjakan imbal hasil obligasi ke level tertinggi dalam beberapa dekade telah memberikan tekanan pada harga emas.
Namun, Ghali menyatakan bahwa logam mulia tersebut justru bertahan dengan baik. “Menurut saya, penurunan harga emas sejauh ini sangatlah terbatas,” ujar Ghali kepada BNN Bloomberg. Ia mencatat bahwa harga emas menghadapi sentimen kebijakan moneter The Fed yang beragam, di mana imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun telah melonjak melampaui 5% dan harga minyak mentah menembus US$100 per barel.
“Namun, harga emas belum mencatatkan level terendah baru sejak Juli 2026. Bagi saya, ini menunjukkan pergerakan harga yang sangat kuat dan tangguh,” ucap Ghali. Ia menyoroti bahwa posisi pasar emas saat ini mungkin terlihat paling bearish (cenderung turun) sejak Oktober 2021, meskipun kondisi pasar saat ini berbeda.
Salah satu faktor pembeda yang disorot Ghali adalah aksi beli oleh bank sentral yang terus berlanjut. “Pertama, pembelian oleh sektor resmi (bank sentral) berjalan dengan laju lebih dari dua kali lipat dibandingkan masa itu,” jelasnya.
Selain itu, jaringan investor institusional yang berpartisipasi dalam pasar emas kemungkinan telah tumbuh sekitar 70% sejak 2021. Besaran cadangan yang dapat dialokasikan oleh para manajer cadangan juga dilaporkan telah meningkat. Ghali menambahkan, argumen untuk mengambil alokasi yang lebih besar pada emas semakin menguat dalam beberapa bulan terakhir.
“Jadi, sungguh mengejutkan bagi kami bahwa para pelaku pasar diskresioner masih memilih untuk wait and see (menahan diri),” sambung Ghali. Ia menduga bahwa kinerja harga emas yang lemah di tengah situasi konflik terkait Iran benar-benar mengejutkan sebagian pelaku pasar dan membuat mereka menahan diri untuk tidak masuk ke pasar.
Meskipun demikian, Ghali optimis menatap prospek tahun depan. “Namun, saat kita melihat prospek tahun depan, menurut kami kondisinya sangat mendukung. Posisi pasar saat ini rendah, emas berada dalam kondisi oversold (jenuh jual), dan tingkat kepemilikannya pun masih rendah. Jadi, ini adalah saat yang sangat tepat bagi emas,” tambah Ghali.