Emas Rebound Tipis, Namun Investor Tetap Waspada Kenaikan Suku Bunga The Fed

NEW YORK – Harga emas menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada perdagangan Selasa, (29/9/2026), setelah sebelumnya sempat jatuh ke level terendah dalam lebih dari tujuh pekan. Namun, potensi penguatan komoditas ini masih dibayangi oleh ekspektasi pasar yang kembali menguat terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Harga emas spot tercatat melonjak 1,64% pada penutupan perdagangan, mencapai US$ 4.182,45 per ons troi. Sebelumnya, harga sempat menyentuh level US$ 4.112,97 per ons troi, yang hanya sedikit di atas titik terendah pada hari Senin sebesar US$ 4.110,55. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) juga mengikuti tren positif, ditutup menguat sekitar 1,11% menjadi US$ 4.214,85 per ons troi.

Kenaikan ini terjadi setelah harga emas mengalami penurunan tajam hampir 4% pada perdagangan Senin, yang merupakan pelemahan harian terdalam sejak 10 Juni. Emas bahkan sempat menyentuh level terendah sejak 5 Agustus.

Analis dari Zaner Metals, Peter Grant, menilai bahwa lonjakan harga emas pada Selasa lebih bersifat korektif, sebagai respons terhadap penurunan drastis sehari sebelumnya. Menurutnya, emas masih menghadapi berbagai tekanan yang cukup signifikan.

“Pergerakan hari ini hanya koreksi dari kerugian kemarin. Saya masih melihat ada sejumlah hambatan yang cukup signifikan bagi emas,” ujar Grant.

Tekanan utama terhadap emas berasal dari penguatan nilai dolar AS dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS. Kedua faktor ini membuat emas, yang tidak memberikan imbal hasil secara langsung, menjadi kurang menarik bagi para investor.

Dolar AS terpantau menguat dan bahkan menguji level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, didorong oleh volatilitas harga minyak dan lonjakan imbal hasil obligasi dalam beberapa waktu belakangan.

Kenaikan Suku Bunga The Fed Menguat

Kenaikan harga energi global juga menjadi perhatian karena berpotensi kembali memicu inflasi. Kondisi ini dapat mendorong bank sentral untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama guna meredam tekanan harga.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Oktober mencapai 68%, sementara peluang kenaikan pada bulan Desember mencapai 95%.

“Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang semakin tinggi membuat dolar tetap kuat dan imbal hasil tetap tinggi,” jelas Grant.

Ia menambahkan bahwa potensi kenaikan harga emas dalam jangka pendek kemungkinan masih terbatas. Investor kini tengah menantikan rilis sejumlah data ekonomi penting dari AS. Data tersebut meliputi data ketenagakerjaan ADP dan data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dijadwalkan pada Rabu (30/9/2026), serta data nonfarm payrolls pada Jumat (2/10/2026).

Data-data ekonomi tersebut akan menjadi perhatian utama pasar untuk mengukur arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Sementara itu, di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot dilaporkan melonjak 1,37% menjadi US$ 61,47 per ons. Paladium juga terpantau terkerek naik 1,29% menjadi US$ 1.225,65 per ons. Namun, harga platinum justru mengalami sedikit pelemahan sebesar 0,2% menjadi US$ 1.713,05 per ons.

Tinggalkan komentar