Harga emas masih mampu bertahan di tengah lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) yang memberikan tekanan pada pasar. Kondisi ini menjadi ujian bagi emas, dengan level US$ 4.100 per ons troi hingga US$ 4.000 per ons troi berpotensi menjadi area penting jika tekanan jual semakin kuat pada pekan ini.
Harga emas spot ditutup naik 0,27% ke level US$ 4.285,37 per ons troi pada perdagangan Jumat (25/9/2026).
Senior Strategist StoneX James Stanley mengatakan, kenaikan yield obligasi AS telah mengguncang berbagai pasar dalam sepekan terakhir. Namun, sejauh ini harga emas belum mengalami penurunan lebih dalam dan masih bertahan di atas level terendah setelah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Menurut Stanley, ketahanan harga emas dalam dua pekan terakhir justru menjadi sinyal yang menarik. Sebab, tekanan jual belum berkembang menjadi penurunan tajam meski kondisi yield AS semakin menekan.
“Kabar baiknya, harga emas belum jatuh lebih dalam dalam dua pekan terakhir,” ujar Stanley dalam analisisnya.
Stanley membandingkan kondisi tersebut dengan pergerakan emas pada Juni lalu ketika Ketua The Fed Kevin Warsh pertama kali mengejutkan pasar dengan pernyataan yang lebih hawkish dari perkiraan. Saat itu, tekanan jual emas hanya berlangsung hingga kisaran US$ 4.000 per ons troi sebelum pembeli masuk dan mampu menjaga level tersebut selama lebih dari sebulan.
Emas kemudian berhasil menembus ke atas pada Agustus setelah pertemuan berikutnya yang dipimpin Warsh di The Fed. Namun, setelah itu pergerakan emas cenderung melemah secara perlahan. Stanley melihat tekanan jual semakin terlihat ketika harga mencoba bangkit.
Pada grafik mingguan, terdapat ekor bawah yang menunjukkan pembeli masih masuk untuk menopang harga pada level rendah. Di sisi lain, penjual semakin agresif setiap kali terjadi rebound sehingga membentuk pola lower-highs, yakni level puncak yang terus lebih rendah.
Emas Diuji di US$ 4.100
Stanley menilai, pola tersebut menunjukkan meningkatnya tekanan bearish. Jika pembeli gagal mengubah kondisi dalam satu hingga dua pekan mendatang, emas berpotensi menembus level support dan menguji area yang lebih rendah.
“Meski demikian, penurunan tersebut tidak serta-merta mengubah prospek emas dalam jangka panjang. Pasalnya, level US$ 4.000 per ons troi masih menjadi area support yang diperhatikan,” papar dia.
Namun, lanjut Stanley, skenario yang lebih positif bagi pembeli adalah munculnya aksi beli lebih awal ketika harga menguji area US$ 4.100 per ons troi. Level tersebut sebelumnya menjadi resistance dan mencatatkan puncak pada akhir Juli, sebelum emas menembus pola falling wedge.
Untuk perdagangan jangka pendek, Stanley melihat zona US$ 4.300 – 4.320 per ons troi sebagai resistance penting. Area tersebut sebelumnya berfungsi sebagai support sebelum berubah menjadi resistance. Jika emas mampu menembus US$ 4.320 per ons troi dan kemudian melewati garis tren menurun, peluang untuk kembali menguji US$ 4.400 per ons troi akan terbuka.
“Target berikutnya berada di sekitar US$ 4.500 per ons troi, yang merupakan level tertinggi pada awal September,” jelas Stanley.
Stanley menilai, kenaikan menuju level tersebut akan sulit terjadi tanpa adanya pelonggaran tekanan dari yield obligasi AS. Namun, menurut dia, pergerakan harga sering kali terjadi lebih dahulu sebelum narasi pasar mengikutinya.