Ekspor Pertambangan Indonesia Anjlok 20,3%, Bijih Tembaga Jadi Biang Kerok

JAKARTA – Kinerja ekspor sektor pertambangan Indonesia mengalami penurunan signifikan sebesar 20,30% secara tahunan pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat anjloknya ekspor ini terutama disebabkan oleh merosotnya pengiriman sejumlah komoditas tambang, dengan bijih tembaga menjadi salah satu kontributor utama pelemahan tersebut.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kontraksi di sektor pertambangan terjadi di tengah kinerja ekspor Indonesia secara keseluruhan yang masih menunjukkan pertumbuhan positif. “Untuk sektor pertambangan dan lainnya mengalami penurunan sebesar 20,30% dibandingkan Agustus tahun lalu,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis (01/10/2026).

Menurut Ateng, penurunan ekspor sektor pertambangan tidak hanya disebabkan oleh bijih tembaga, tetapi juga komoditas mineral lainnya seperti bijih zirkonium, niobium dan tantalum, serta aspal juga mengalami pelemahan pengiriman.

Tekanan pada ekspor sektor tambang menjadi catatan penting di tengah pertumbuhan ekspor nasional yang tercatat sebesar 6,72% (year-on-year) pada Agustus 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 6,05% pada Juli 2026.

Pertumbuhan ekspor nasional tersebut ditopang oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 7,23% secara tahunan, meskipun ekspor migas terkontraksi 5,10%. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekspor nonmigas secara agregat tetap terjadi meskipun beberapa sektor dan komoditas utama mengalami tekanan.

Selain sektor pertambangan, sektor pertanian juga mencatat pelemahan ekspor pada Agustus 2026, dengan penurunan sebesar 11,64% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ateng merinci, kontraksi ekspor pertanian terutama dipengaruhi oleh sejumlah komoditas unggulan seperti kopi, buah-buahan tahunan, serta tanaman tahunan lainnya.

Meskipun demikian, beberapa produk ekspor Indonesia justru mencatat pertumbuhan yang sangat tinggi. Ekspor aluminium dan barang daripadanya melonjak 206,78% (year-on-year), sementara ekspor besi dan baja tumbuh 20,38%. Perbedaan kinerja ini mengindikasikan bahwa ekspor nonmigas Indonesia tidak bergerak merata antar-komoditas.

Secara bulanan, nilai ekspor Indonesia pada Agustus masih meningkat 1,51% (month-to-month). Kenaikan ini ditopang oleh ekspor minyak kelapa sawit (CPO) yang meningkat 15,51% dan logam mulia yang tumbuh 56,69%. Namun, batu bara serta mesin dan peralatan listrik mengalami kontraksi.

Kinerja ekspor ini turut menopang neraca perdagangan Indonesia yang mencatat surplus US$3,55 miliar pada Agustus 2026, melonjak dari US$121,9 juta pada Juli. Namun, tekanan pada sektor pertambangan dan pertanian mengindikasikan bahwa penguatan ekspor nasional belum terjadi secara merata. Perkembangan permintaan dan harga komoditas global tetap perlu dicermati dalam beberapa bulan mendatang.

Tinggalkan komentar