Seluruh tim restoran Emilie. Foto diambil satu minggu sebelum hari terakhir restoran beroperasi.

Seluruh tim restoran Emilie. Foto diambil satu minggu sebelum hari terakhir restoran beroperasi.

Jalanan terasa teduh. Suara bising jarang terdengar. Kendaraan masih menaik turunkan penumpang di depan rumah yang sudah mulai banyak kosong. Mendongak ke atas, pucuk gedung yang baru selesai dibangun seakan mengintip di balik pepohonan dan genteng-genteng rumah wilayah Kebayoran Baru ini. Apotik, salon, rumah makan Seafood dan martabak menjadi penghuni awal. Inilah Jalan Senopati terdahulu, sebagai jalan teduh dan sunyi yang membatasi kawasan bisnis dengan kawasan rumah tinggal. Tentunya pemandangan tersebut familiar sebelum tahun 2005. Karena setelahnya, seorang pria bernama Wahjudi "Yen" Rahardja yang baru berusia 33 tahun datang untuk mewujudkan impiannya mendirikan sebuah restoran, tempat yang kelak akan mengubah lanskap wilayah Senopati secara drastis: menjadi dining destination ibukota.

Emilie namanya. Diambil dari nama sang keponakan bernama sama, Emilie sejak awal memang dilahirkan dengan penuh hasrat serta dedikasi sang pemilik. Arsitek yang membangun rumah ini bukanlah orang sembarangan, melainkan maestro Jaya Ibrahim yang ketika itu baru saja menyelesaikan proyek The Dharmawangsa Jakarta serta memiliki portfolio luxury hotel seperti The Legian di Bali dan beberapa properti Aman Resorts milik pengusaha Adrian Zecha. "Sejak saya di Amerika, saya sudah jatuh hati dengan bapak Jaya Ibrahim ketika melihat karyanya di majalah Architectural Digest," ujar Yen kepada Top Tables.

Memang betul, jiwa seorang Jaya Ibrahim terasa kental dalam tiap sudut ruang makan yang ikonik itu.Lampu berukuran sedang dengan cahaya yang jatuh tepat sedikit di atas kepala, lantai marmer berkilau, dinding tanpa embel-embel ornamen dan sentuhan kayu yang menghangatkan: semuanya elegan namun tidak berlebihan, timeless.

Ketika Emilie berdiri, restoran ini langsung menghantam Jakarta dengan sebuah pengalaman fine restaurant yang berbeda. Sebelum tahun 2005, restoran sejenis Emilie mestilah berada di dalam hotel berbintang lima atau gedung perkantoran. Seperti Taman Sari di Jakarta Hilton International (sekarang Sultan), Riva di hotel Park Lane, Margeux di hotel Shangri-La. Emilie memberikan opsi baru kepada gourmand ibukota, memulai kembali lagi seni dari makan di stand alone restaurant yang saat itu agak jarang dilakukan karena dominasi mall yang menjamur.

Chef Antoine Audran hadir sebagai desainer menu terawal, yang diikuti oleh Gérald Genson dari Le Chabichou di Perancis. The rest are series of endless spectacles: Onion soup datang dengan keju emmental berbuih di atasnya; rack of lamb a la Provencale hadir dengan baluran herbs hijau layaknya rumput yang baru tumbuh; butternut squash dengan sebongkah foie gras menjadi sorotan; salad nicoise dengan salmon confit menenangkan. Suara gemericik Pomerol Lynch Bages dituang ke gelas, Château La Mission Haut-Brion datang berikutnya - a votre sante! Hanya dalam beberapa saat, Emilie jadi perbincangan di Jakarta.

Tidak perlu lama hingga Wine Spectator memberikan Awards of Excellence untuk Emilie dalam hal pemilihan dan koleksi wine, yang langsung diikuti dengan Best Awards of Excellence. Miele Guide, panduan restoran-restoran terbaik di Asia mengangkat Emilie menjadi salah satu dari 500 restoran teratas di benua Asia.

Semakin lama, permainan Emilie dalam hal makanan semakin advance. Saat Ivan Duchene dari Alain Ducasse dan Mikael Robin dari Ritz Paris hadir, menu mulai bertransformasi dari hidangan upscale bistro menjadi fine French cooking. Ratatouille dibuat menjadi puzzle kecil warna merah, hijau, kuning yang dicetak bundar; sup klasik minestrone ditransformasi menjadi saus aromatik hingga mengeluarkan warna oranye muda alami yang cantik, menemani fillet ikan di tengahnya dan dibatasi oleh salad berbentuk lingkaran seperti bendungan. Saus Périgeuex - sebuah perwujudan dari kemewahan - hadir menemani sebongkah fillet mignon tournedos, supreme delicieux! Saus ini terbuat dari jamur truffle hitam serta foie gras yang dicampur dalam larutan veal stock, sebuah adiksi.

Restoran ini juga menjadi katalis perubahan wajah wilayah Senopati dan sekitarnya (Gunawarman dan Suryo) hingga seperti sekarang. "Ketika kami buka, saya ingat masih hanya ada beberapa rumah makan Chinese food dan serabi. Mungkin ada restoran tapi ya itu, buka dan tutup." Bagi Yen ia sama sekali tidak menyangka wilayah Senopati menjadi seperti sekarang. Wilayah perumahan yang menjadi daerah tempat makan memang punya karakter yang unik. Setelah tahun 2005, Emilie seakan menjadi magnet bagi banyak pengusaha untuk turut ikut meramaikan wilayah Senopati yang tadinya sebagai jalanan pintas yang cukup sepi menjadi gourmet district yang ramai dengan penuh gemerlap.

Namun seperti sebuah pepatah lama, tidak ada pesta yang abadi. Emilie mulai merasakan kedatangan masa senjakalanya setelah lebih dari 10 tahun berdiri. Diakui oleh Yen, "Selama tiga tahun terakhir, saya merasa bisnis restoran seperti ini semakin sulit."

Sesungguhnya, senjakala konsep fine dining memang sudah mulai terasa sejak tiga tahun terakhir entah di Indonesia dan dunia. Melihat dari daftar 50 restoran terbaik di dunia versi World's 50 Best Restaurants di awal tahun 2005 dan membandingkan dengan yang sekarang, terlihat sekali penurunan restoran fine dining klasik dari dalam daftar. Mengambil dari daftar tahun 2019 kemarin, mayoritas di dalamnya adalah restoran dengan konsep fine casual dengan nuansa modern kontemporer alih-alih haute cuisine beserta table setting yang elaborate.

Tapi permasalahan di Jakarta sepertinya lebih runyam lagi, terutama dalam hal masakan Perancis. Stigma masakan Perancis sendiri sebagai kuliner yang intimidatif dan hanya cocok sebagai tempat makan berbasis occasional saja (seperti Valentine) sangat lekat dengan generasi baru penikmat makanan. Hal ini berdampak besar terhadap Emilie sebagai restoran dengan jiwa dan identitas sebagai restoran yang menampilkan bahan baku prima dari Perancis. Penikmat makanan generasi baru pun juga sudah mulai bergeser konsep. Menikmati makanan - walaupun itu tergolong berkelas - ingin dilakukan dalam suasana yang santai dan kasual, menjadi bagian dari gaya hidup (lifestyle). Maka dari itu konsep fine casual menjadi pilihan banyak penikmat kuliner kelas atas di era modern.

Bagi Yen, Emilie adalah perwujudan dari hasrat dan cintanya terhadap industri restoran. Bukan hanya makanan, siapapun yang pernah mengunjungi Emilie pasti merasakan bagaimana tiap detail dalam restoran - mulai dari taplak meja yang selalu halus dan wangi, hingga suhu piring yang datang ke meja - dipikirkan dengan sangat baik dan tereksekusi maksimal. Hingga pada akhirnya, ketika tiba waktunya Emilie untuk purna tugas, standard itupun masih tetap dipertahankan.

Ketika Feastin’ datang untuk terakhir kalinya, ruang makan Emilie terlihat kosong. Suara musik senyap-senyap bermain memecah keheningan. Di atas setiap meja, aneka gelas untuk wine dan soft drink masih berdiri dengan tampilan yang bening, bersih dan berkilauan. Garpu, sendok dan pisau yang mengkilap juga dengan baik tertata, seakan mereka menantikan untuk para tamu agar datang lagi dan duduk di sana. Tidak ada lampu yang dimatikan, semua menyala menerangi ruang makan seakan itu adalah hari pertama restoran berdiri. Lamb chop datang dengan tampilan yang cantik, rona merah muda di tengahnya dan lapisan herbs hijau yang vivid; carpaccio dari Hokkaido scallop tampil dengan sangat elegan bermahkotakan caviar. Onion soup juga muncul dengan jujur, keju emmental yang berbuih dan meleleh di kiri dan kanan, kuah manis dari bawang bombay yang telah terkaramelisasi selama beberapa jam - tidak bercela.

“Buat saya, Emilie ini adalah sebuah kebanggan. Tentu saya sedih juga karena sudah 14 tahun kami beroperasi, bahkan ada beberapa pegawai yang masih setia sejak awal. Namun sebagaimana pepatah dalam agama Buddha, bahwa tidak ada hal yang abadi. Dengan berpegang erat terhadap nilai itu, saya menjadi lebih bisa maju kembali. It comforts me,” terang Yen yang sampai pada akhirnya pun tidak mengubah Emilie dan tetap bertahan dengan identitasnya sejak awal berdiri.

Akhirnya, pada tanggal 14 Juli 2019, tepat di Hari Nasional Perancis atau yang dikenal dengan Bastille Day, Emilie French Restaurant resmi melayani Jakarta untuk terakhir kalinya. Ketika negeri yang menjadi jiwa dan esensi restoran larut dalam perayaan, Emilie justru menghentikan pesta yang sudah berlangsung selama 14 tahun di Jalan Senopati Raya itu. Tentu harapan muncul akan apa yang terjadi dengan rumah indah kreasi Jaya Ibrahim itu, serta apa langkah berikut dari seorang Wahjudi “Yen” Rahardja, sosok yang telah membangun Emilie menjadi salah satu restoran terbaik yang pernah ada di Jakarta.

Kata mereka tentang Emilie

I ate at Emilie in my early 20’s, and it was that early memory of something impeccable, food that was super special, unknown and luxurious. - Fernando Sindu, chef owner Benedict

Emilie adalah restoran Perancis pertama yang saya datangi di Jakarta, waktu saya kecil sudah beberapa kali saya datang bersama dengan keluarga. Saya ingat di tahun 2011, sepulang saya sekolah di Sydney, Emilie adalah satu-satunya restoran di Jakarta yang saya melamar untuk bekerja. - Ardika Dwitama, pastry chef

Saya ingat pertama kali datang ke Emilie selang beberapa saat setelah ia buka. Senang sekali karena ada restoran yang menyajikan masakan Perancis yang tidak berlebihan, straight forward with very good quality. Saat itu waktu merayakan makan malam ulang tahun salah satu anak kami. Amat berkesan. Dengan ambiance yang simple yet elegant. - Arimbi Nimpuno, lifestyle guru and chef

Saya ingat membawa kolega dan klien ke Emilie adalah cara paling jitu untuk membuat mereka terkesan. - Gupta Sitorus, PR practitioner.

Emilie will always be the best place for French cuisine in Jakarta. I will surely gonna miss it. - Mei Batubara, restaurateur and owner of Nusa Indonesian Gastronomy.

Kantor saya dulu berada tepat di sebelah Emilie, kami bertetangga. Emilie pun kerap jadi pilihan saya untuk tempat meeting yang heart-to-heart. Selain itu juga saya dan suami beberapa kali merayakan hari spesial kami di Emilie. - Ratna Kartadjoemena, director and partner of Potato Head Family

Emilie is one of a kind. There's no other restaurant in Jakarta that is as ingredient driven and with a chef and owner that is as passionate and knowledgeable about French cuisine as Emilie. The timeless-designed restaurant holds so many wonderful and delicious memories, and I can't wait to see what Yen will come up with next. - Duwi Satriyo, entrepreneur and food writer

With love and care, Emilie delivered a true fine dining experience. To the believers of perfection - the restaurateur, cooks, and waiters - let's raise our glass for Emilie. - Trifitria Nuragustina, head of food content Majalah Femina

Tiap ada yang bertanya ke saya, rekomendasi makan malam bersama pasangan, rasanya nama Emilie paling sering saya sebut. Alasan saya? Klasik. Nyaman. Kualitas makanan dan pelayanannya juga sepadan. Berkelas, tapi tidak kaku. Tetap hangat, dan membuat orang ingin kembali lagi. - Ade Putri Paramadita, food storyteller and writer

Emilie selalu menyajikan makanan Perancis yang “jujur”, tidak pretentious. Setiap makan di sana, terasa kalau makanan yang disajikan dipikirkan dengan baik dan dengan hati. Akan merasa kehilangan salah satu restoran Perancis terbaik di Jakarta. - Tissa Aunilla, owner of Pipiltin Cocoa

Fillet de boeuf di Emilie adalah makanan terbaik yang pernah saya rasakan di Jakarta. Paduan dari fillet tenderloin, saus Périgeuex, savoy cabbage dan jamur truffle dan foie gras menjadi hidangan yang tidak akan bisa saya lupakan. - Adhika Maxi, chef owner of Union Brasserie

Emilie was for me a true restaurant which was personalizing the elegance, the art de vivre and the creativity of the French gastronomy here in Indonesia, showcasing the best ingredients, perfectly cooked and sumptuously presented. You won’t be forgotten Emilie, as your legacy on the Jakarta culinary scene will remain forever. - Antoine Audran, chef consultant


Versi orisinil artikel ini ditulis pada 14 Juli 2019 saat Feastin’ masih bernama Top Tables.


 

Kevindra Soemantri

Kevindra P. Soemantri adalah editorial director dan restaurant editor dari Feastin’. Tiga hal yang tidak bisa ia tolak adalah french fries, chewy chocolate chip cookie dan juga chicken wing.

Previous
Previous

Revisiting the Legends: Kikugawa

Next
Next

Paris Sorbet: When Sorbet is The Star