JAKARTA – Pasar emas di kawasan Afrika Barat terus menunjukkan perkembangan signifikan. Hal ini ditandai dengan pembukaan fasilitas pemurnian emas pertama di Burkina Faso, sebuah langkah strategis seiring upaya sejumlah negara di benua Afrika untuk memaksimalkan nilai tambah dari sumber daya mineral yang mereka miliki.
Menurut laporan dari Mining, Rabu (30/9/2026), perusahaan milik negara Burkina Faso, Raffinor BF, telah menginvestasikan dana sebesar US$19 juta untuk membangun fasilitas pemurnian emas dengan kapasitas awal mengolah 164 ton logam mulia setiap tahunnya.
Direktur Pelaksana Raffinor BF, Adama Sawadogo, menjelaskan bahwa pembangunan tahap kedua kilang emas ini akan memperluas kapasitas produksi menjadi 515 ton per tahun. “Pabrik ini bersifat modular, sehingga memungkinkan penambahan lini pemurnian di samping lini yang sudah terpasang,” ujar Sawadogo dalam keterangannya di Ouagadougou.
Ambisi Burkina Faso tidak hanya berhenti pada sektor emas. Pemimpin militer negara tersebut, Ibrahim Traore, menyatakan, “Ambisi kami melampaui sekadar emas. Kami ingin menjadikan sektor pertambangan sebagai penggerak transformasi industri.”
Data dari Kementerian Energi, Pertambangan, dan Penggalian Burkina Faso mencatat bahwa produksi emas negara itu mencapai 94 ton pada tahun lalu. Keberadaan kilang emas ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekspor dan pendapatan negara.
Langkah Burkina Faso sejalan dengan negara-negara lain di Afrika Barat seperti Guinea, Ghana, dan Pantai Gading, yang juga berupaya untuk memurnikan lebih banyak emas di dalam negeri. Guinea telah menerapkan larangan ekspor emas mentah sejak Juni 2026, sementara Ghana melarang ekspor emas yang belum dimurnikan dari penambang skala kecil pada awal bulan ini.
Negara lain, Mali, tengah membangun kilang emas pertamanya melalui kerja sama dengan Yadran Group asal Rusia. Pantai Gading pun berencana untuk membuka fasilitas pemurnian emasnya sendiri pada paruh pertama tahun 2027 mendatang.