JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA terpantau mulai dicicil oleh investor asing. Pada perdagangan Senin, 28 September 2026, investor asing mencatatkan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 17,93 miliar.
Meskipun demikian, harga saham BBCA ditutup melemah 0,40% ke level Rp 6.225. Total saham yang diperdagangkan sebanyak 112,11 juta lembar dengan frekuensi transaksi mencapai 22.335 kali, menghasilkan nilai transaksi harian sebesar Rp 695,48 miliar.
Aksi net buy investor asing terhadap saham BBCA ini telah berlangsung selama tiga hari bursa berturut-turut, yaitu pada periode 24 hingga 28 September 2026, dengan total akumulasi mencapai Rp 128,02 miliar. Hal ini terjadi setelah sebelumnya saham emiten perbankan ini mengalami tren jual bersih (net sell) oleh investor asing selama periode 9 hingga 23 September.
Pada perdagangan Senin kemarin, terjadi pula transaksi saham BBCA di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nilai yang cukup signifikan. Data RTI menunjukkan, sebanyak 1 juta lot saham BCA diperdagangkan pada harga Rp 6.212 per saham, dengan total nilai transaksi mencapai Rp 621,2 miliar.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi yang dirilis terkait transaksi saham BCA di pasar negosiasi BEI tersebut.
Sementara itu, broker UOB Kay Hian Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 8.150. Pihaknya melihat potensi kenaikan sebesar 30% dari harga saat riset dibuat, menjadikan BBCA sebagai saham pilihan utama di sektor perbankan.
Alasan di balik rekomendasi tersebut adalah fundamental BCA yang solid, didukung oleh permodalan dan likuiditas yang memadai. UOB Kay Hian memprediksi rerating valuasi BBCA dapat terjadi apabila terjadi perbaikan kinerja ekonomi makro Indonesia dan arus dana asing kembali masuk ke pasar saham.
Berdasarkan laporan keuangan per Agustus 2026, BCA mencatatkan laba bersih (bank only) sebesar Rp 4,92 triliun, menunjukkan pertumbuhan 13,1% secara tahunan. Akumulasi laba bersih hingga periode tersebut mencapai Rp 40,17 triliun, dengan pertumbuhan 2,85%.
UOB Kay Hian memproyeksikan laba bersih BBCA pada tahun 2026 dan 2027 masing-masing sebesar Rp 60 triliun dan Rp 65 triliun. Perkiraan yield dividen untuk tahun 2026 adalah 5,7%, yang diprediksi meningkat menjadi 6,1% pada tahun 2027.
Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membantah informasi yang beredar di media sosial mengenai rencana aksi akuisisi yang dikaitkan dengan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam. BCA menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, menyatakan bahwa perseroan tidak memiliki rencana aksi korporasi seperti yang ramai dibicarakan di media sosial. “Menanggapi isu yang beredar di media sosial terkait adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA, dapat kami sampaikan bahwa informasi tersebut tidak benar,” jelas Hera dalam keterangannya pada Jumat, 25 September 2026.
Hera mengimbau seluruh nasabah dan masyarakat untuk berhati-hati dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi kebenarannya, serta memastikan informasi melalui sumber resmi perusahaan atau media yang kredibel.
Ia menambahkan, BCA senantiasa menjalankan kegiatan usahanya dengan berpegang pada prinsip kehati-hatian, integritas, dan kepatuhan terhadap seluruh ketentuan regulasi yang berlaku.
Pernyataan klarifikasi ini disampaikan BCA menyusul beredarnya informasi di berbagai platform media sosial yang mengaitkan Haji Isam dengan rencana akuisisi bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.