Jakarta – Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan betapa vitalnya peran wartawan dalam menyebarluaskan berbagai kegiatan dan kerja parlemen kepada masyarakat luas. Ia menyatakan bahwa tanpa pemberitaan media, berbagai rapat, pembahasan, serta pemikiran yang dihasilkan oleh MPR tidak akan pernah sampai ke telinga rakyat.
“Saya tidak membayangkan apa jadinya kegiatan MPR kalau tidak ada pemberitaan dari kawan-kawan. Kerja kami, rapat-rapat kami, pembahasan kami, pemikiran-pemikiran kami tidak akan pernah tersampaikan kepada masyarakat kalau tidak ada yang melanjutkan dalam bentuk pemberitaan,” ujar Muzani dalam keterangannya, Senin (28/9/2026). Pernyataan ini disampaikan Muzani saat memberikan sambutan dalam kegiatan Media Gathering MPR RI di Bandung, Jawa Barat, Minggu (27/9).
Muzani menjelaskan bahwa kerja parlemen pada dasarnya merupakan proses politik yang sangat membutuhkan pemberitaan. Hal ini agar seluruh proses dan keputusan yang berlangsung di lembaga tersebut dapat diketahui oleh masyarakat secara luas. “Media sangat penting artinya bagi proses kerja kami, karena proses kerja parlemen pada dasarnya adalah proses kerja politik yang perlu ada lanjutannya dalam pemberitaan sampai ke rakyat,” katanya.
Ia menyadari bahwa setiap wartawan memiliki cara dan sudut pandang yang unik dalam menyampaikan sebuah peristiwa. Namun, menurutnya, hal terpenting adalah memastikan informasi mengenai kerja MPR tersampaikan kepada masyarakat secara tepat, dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip jurnalistik yang akurat dan berimbang. “Intinya adalah bagaimana kawan-kawan akan menyampaikan apa yang disampaikan oleh MPR kepada rakyat. Karena itu, kerja wartawan adalah sebuah kerja yang sangat mulia,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Muzani juga menekankan pentingnya sikap netral dalam pemberitaan. Ia berpendapat bahwa wartawan memegang posisi strategis sebagai penyambung informasi antara lembaga negara dan masyarakat, sehingga pemberitaan harus disampaikan secara berimbang dan objektif. “Memberitakan dari sisi mana pun sebagai penyambung lidah ke masyarakat kemudian tetap harus dalam kondisi yang netral dalam cara memberitakannya,” katanya.
Lebih lanjut, Muzani mengingatkan bahwa profesi jurnalistik memiliki risiko yang berat, terutama ketika wartawan menjalankan tugas untuk mendapatkan informasi maupun gambar secara langsung di lapangan. Ia mencontohkan keberanian para wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia hingga awal berdirinya negara ini. Muzani juga menyinggung dokumentasi Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai salah satu bukti penting peran wartawan dalam merekam perjalanan sejarah bangsa.
Menurut Muzani, perjuangan wartawan dalam mendapatkan dan menjaga dokumentasi sebuah peristiwa penting menunjukkan bahwa profesi jurnalistik tidak hanya sekadar penyampaian informasi, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap perjalanan sejarah bangsa. “Wartawan adalah pejuang. Kenapa wartawan disebut seorang pejuang? Yang dilakukan oleh wartawan sama dengan yang dilakukan oleh kami semua sebagai seorang anggota MPR. Dia memperjuangkan kebenaran, dia memperjuangkan kemuliaan, dan dia berjuang untuk bangsa dan negaranya,” tegasnya.
Muzani menambahkan bahwa perjuangan wartawan dan anggota parlemen memang dilakukan dalam ruang lingkup yang berbeda, namun keduanya memiliki tujuan yang sama dalam memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara. “Atas nama pimpinan Majelis, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua wartawan yang ada di Senayan, yang terus bersama kami dalam memberitakan, dalam menyuarakan, dalam menyampaikan berbagai macam berita yang bersumber dari MPR,” pungkasnya.
Acara Media Gathering MPR Tahun 2026 ini dihadiri pula oleh Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto, Plt. Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah, Deputi Bidang Administrasi MPR RI Heri Herawan, Ketua Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) Ariawan, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI Sodik Mudjahid, serta para pejabat Eselon II dan pegawai Sekretariat Jenderal MPR RI. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 70 media yang tergabung dalam Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) dan menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, membangun komunikasi yang lebih baik, serta memperkuat sinergi dalam mendukung penyebaran informasi MPR RI kepada masyarakat.