11 Startup Kimia Hijau Raih Pendanaan dari GreenLink 2026

Sebanyak tiga dari 11 startup yang berfokus pada kimia hijau berhasil meraih kemenangan dalam program GreenLink 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Pertamina. Para pemenang ini kini siap untuk menerima pendanaan dari para investor guna mendukung pengembangan inovasi mereka.

Tiga startup yang keluar sebagai pemenang adalah TARUNIRA, yang bergerak di bidang “Sustainable Food-Agriculture” dengan produk Palmyr Palm Sugar & Mocaf®. SATUPLATFORM menempati posisi 1st Runner Up dengan solusi “Carbon & ESG Management Solutions”, sementara ORGANIC CULTURE meraih 2nd Runner Up melalui inisiatif “Transforming Fashion for Climate Action”.

Program GreenLink merupakan puncak dari rangkaian Greenovate Startup Accelerator 2026. Acara ini berfungsi sebagai jembatan yang mempertemukan para startup dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelaku industri, investor, perwakilan pemerintah, dan mitra ekosistem inovasi. Penyelenggaranya adalah Universitas Pertamina melalui Global Green Chemistry Innovation and Network Program (GGINP) Indonesia.

Ir. Teuku Muhammad Roffi, Ph.D., selaku Project Director of GGINP Indonesia, menjelaskan bahwa GGINP adalah inisiatif global yang aktif di enam negara: Indonesia, Ukraina, Serbia, Uganda, Peru, dan Yordania. Di tingkat internasional, program ini dikelola bersama oleh Yale University dan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).

“Hari ini kita melaksanakan salah satu misi dari GGINP, yaitu untuk mengembangkan startup. Namun, startup yang dikembangkan bukan startup biasa, melainkan startup yang berbasis kimia hijau atau green chemistry,” ujar Roffi di Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Roffi menambahkan bahwa kimia hijau merujuk pada 12 prinsip yang dikenal luas. “Pada dasarnya, kimia hijau adalah bagaimana kita memperbaiki proses-proses kimia agar menjadi lebih ramah lingkungan dan lebih berkelanjutan,” jelasnya.

Program tahun ini berhasil menarik minat 130 startup. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, terpilih 11 startup untuk melanjutkan ke tahap Bootcamp dan final. Para peserta menjalani enam sesi Pre-Bootcamp, dua belas sesi Main Bootcamp, tiga Community Sessions, serta lebih dari 50 sesi mentoring.

“Dalam proses tersebut mereka mengikuti enam sesi Pre-Bootcamp, dua belas sesi Main Bootcamp, tiga Community Sessions, serta lebih dari 50 sesi mentoring,” kata Roffi.

Roffi menekankan bahwa tujuan program ini tidak hanya membangun kemampuan pitching, tetapi juga mendorong pemahaman mendalam tentang masalah yang ingin dipecahkan, pengujian model bisnis, analisis pasar, persiapan aspek finansial, dan realisasi penerapan inovasi.

“GreenLink hari ini adalah bagian akhir dari proses tersebut, sekaligus menjadi titik pertemuan antara startup dengan industri, investor, pemerintah, dan mitra lainnya ujarnya. Menurutnya, Demo Day bukan garis akhir. Ia berharap hubungan yang dibangun hari ini dapat berkembang menjadi tindak lanjut yang konkret.”

“Baik berupa diskusi dengan industri, validasi teknologi, pengembangan pasar, investasi, maupun bentuk kolaborasi lainnya. Karena itu GreenLink sengaja mempertemukan startup dengan berbagai aktor yang dapat mendukung tahapan perkembangan mereka berikutnya,” ujarnya.

Dengan demikian, peserta tidak hanya mendapatkan bekal dalam membangun bisnis dan memasuki pasar, tetapi juga pemahaman komprehensif mengenai aspek teknologi serta prinsip-prinsip kimia hijau yang mendasari inovasi mereka.

“Pada akhirnya, yang kami harapkan adalah inovasi berbasis green chemistry tersebut tidak berhenti pada konsep atau prototipe, tetapi memiliki peluang untuk masuk ke pasar, digunakan oleh industri, dan memberikan dampak lingkungan sekaligus nilai ekonomi,” imbuhnya.

Pengurangan Limbah dan Bahan Lebih Aman

Ketua Tim Kerja Pembinaan dan Pengembangan Sektor Industri Kimia Hulu Kemenperin, Aditya Rosadi, menyampaikan bahwa industri modern tidak hanya dituntut untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga semakin memperhatikan efisiensi sumber daya, pengurangan limbah, penggunaan bahan yang lebih aman, serta dampak lingkungan dari seluruh proses produksinya.

“Dalam konteks tersebut, inovasi berbasis green chemistry memiliki peran yang sangat relevan karena pendekatannya tidak hanya berfokus pada penanganan dampak di akhir proses, tetapi juga bagaimana sejak awal suatu bahan, produk, maupun proses dapat dirancang menjadi lebih efisien dan berkelanjutan,” ungkap Aditya.

Menurutnya, startup memiliki posisi yang unik karena cenderung lebih fleksibel dalam mengembangkan dan menguji solusi-solusi baru. Namun, agar inovasi tersebut dapat memberikan dampak yang lebih luas, diperlukan keterhubungan yang kuat dengan kebutuhan riil industri.

“Karena itu, kami melihat kolaborasi antara startup, industri, perguruan tinggi, pemerintah, dan mitra lainnya menjadi penting agar inovasi yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap konsep, tetapi memiliki peluang untuk diterapkan dan dikembangkan pada skala industri,” ujar Aditya.

Ia mengidentifikasi salah satu tantangan utama bagi startup adalah bagaimana membawa inovasi dari tahap pengembangan menuju solusi yang benar-benar siap diadopsi oleh industri. Aditya menjelaskan, industri memerlukan kepastian bahwa teknologi yang ditawarkan dapat bekerja secara konsisten, aman, memenuhi kebutuhan teknis, layak secara ekonomi, dan memungkinkan untuk diterapkan pada skala yang lebih besar.

“Karena itu, startup perlu memahami bahwa kesiapan teknologi harus berjalan bersama dengan kesiapan bisnis dan pemahaman terhadap kebutuhan pengguna,” katanya.

“Forum seperti GreenLink menjadi penting karena mempertemukan berbagai pihak dalam satu ekosistem. Startup dapat memperoleh masukan langsung dari industri, memahami kebutuhan pasar, bertemu dengan calon mitra maupun investor, serta membuka peluang untuk pengujian atau pengembangan lebih lanjut,” imbuhnya.

Harapannya, pertemuan semacam ini tidak hanya berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi dapat berlanjut menjadi kolaborasi yang lebih konkret sehingga inovasi yang memiliki potensi besar benar-benar dapat masuk ke pasar dan memberikan nilai tambah bagi industri,” ujarnya.

Tinggalkan komentar