Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), emiten besar dari Grup Salim di bawah kendali Anthoni Salim, menawarkan valuasi yang menarik di pasar modal. Perusahaan ini termasuk dalam kategori saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) yang saat ini diperdagangkan dengan harga relatif murah.
Meskipun memiliki harga yang terjangkau, INDF menunjukkan kinerja keuangan yang solid, terbukti dari rasio return on equity (ROE) yang baik. Data per Minggu (27/9/2026) dari Stockbit Sekuritas menunjukkan rasio P/E saham INDF untuk periode trailing twelve months (TTM) hanya sebesar 6,19 kali, menandakan valuasi yang murah.
Pada penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026), saham INDF mengalami penurunan sebesar 2,8% ke level Rp 6.750. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dalam sepekan terakhir yang mencapai 3,9%, dan dalam sebulan anjlok 8,4%. Namun, secara year to date (ytd), koreksi saham INDF tercatat tipis sebesar 0,3%.
Kinerja keuangan Indofood pada semester I-2026 menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan laba inti yang positif. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh segmen consumer branded products (CBP), khususnya lini bisnis mi instan. Samuel Sekuritas Indonesia menilai bahwa kekuatan bisnis CBP ini mampu menjaga prospek laba INDF, meskipun dihadapkan pada tekanan biaya operasional dan volatilitas nilai tukar mata uang.
Pendapatan INDF pada kuartal II-2026 mencapai Rp 31,6 triliun, mengalami penurunan 6,7% secara kuartalan (qoq) namun tumbuh 11,8% secara tahunan (yoy). Secara kumulatif, pendapatan konsolidasi pada semester I-2026 tercatat sebesar Rp 65,5 triliun, menunjukkan peningkatan 9,5% yoy.
Laba inti INDF pada kuartal II-2026 tercatat Rp 3,1 triliun, turun 8,5% qoq, namun meningkat 26% yoy. Dengan demikian, total laba inti semester I-2026 mencapai Rp 6,4 triliun atau tumbuh 6,9% yoy.
Namun, laba bersih Indofood mengalami penurunan signifikan sebesar 33,1% yoy menjadi Rp 4,7 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh adanya kerugian bersih selisih kurs yang mencapai Rp 3,4 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan kerugian selisih kurs pada semester I-2025 yang hanya sebesar Rp 231 miliar.
Rekomendasi dan Target Harga Saham INDF
Samuel Sekuritas memperkirakan pendapatan INDF selama sembilan bulan pertama tahun 2026 akan mencapai Rp 95,9 triliun, dengan pertumbuhan 5,4% yoy. Proyeksi laba bersih untuk periode yang sama adalah Rp 6,9 triliun, yang diprediksi turun 11,3% yoy akibat dampak kerugian selisih kurs yang lebih besar.
“Lini usaha CBP, yang berkontribusi sekitar 74% terhadap total penjualan INDF, diperkirakan akan tetap menjadi kontributor utama. Dominasi pangsa pasar domestik dan volume penjualan mi instan di pasar internasional yang solid diharapkan dapat menopang kinerja perusahaan di tengah tantangan operasional yang dihadapi,” demikian tulis Samuel Sekuritas dalam analisisnya, dikutip pada Minggu (27/9/2026).
Ancaman fenomena El Nino yang diprediksi kuat berpotensi mendorong kenaikan harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan harga jual rata-rata produk agribisnis. Meskipun demikian, beberapa faktor risiko seperti kenaikan harga gandum, fluktuasi harga komoditas global, depresiasi nilai tukar rupiah, serta beban utang dalam mata uang dolar Amerika Serikat tetap menjadi tantangan bagi profitabilitas perusahaan.
Samuel Sekuritas merekomendasikan investor untuk mempertahankan rekomendasi beli saham INDF dengan menetapkan target harga Rp 8.300. Target harga ini didasarkan pada perhitungan rasio price to earnings ratio (P/E) untuk proyeksi tahun 2026 sebesar 7,5 kali.
Saat ini, valuasi saham INDF dinilai tidak mahal, dengan P/E proyeksi 2026 hanya sebesar 5,5 kali. Samuel Sekuritas menganggap kondisi ini sangat menarik, terutama mengingat kontribusi laba Indofood dari bisnis di luar segmen CBP hanya sekitar 30%.